Cuaca Ekstream Landa Jabar, Ini Penjelasan BMKG

Cuaca Ekstream Landa Jabar, Ini Penjelasan BMKG

Wisma Putra - detikJabar
Sabtu, 11 Apr 2026 19:30 WIB
Ilustrasi hujan angin kencang. (Chat GPT)
Foto: Ilustrasi hujan angin kencang. (Chat GPT)
Bandung -

Penampakan angin puting beliung yang menyedot air di kawasan Tanjungsari, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung sempat menghebohkan warga, Jumat (10/4/2026) kemarin. Kejadian ini menimbulkan kerusakan berupa empat pohon tumbang dan satu rumah warga rusak ringan. Dampaknya juga dirasakan hingga wilayah Kecamatan Pameungpeuk dan Banjaran.

Tak hanya wilayah Kabupaten Bandung, cuaca buruk juga terjadi di Kota Bandung, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Subang, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Purwakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu, mengatakan bahwa berdasarkan analisis dinamika atmosfer terkini, kondisi cuaca di Jawa Barat sangat dipengaruhi suhu muka laut yang hangat di sebagian besar perairan Indonesia. Hal ini memicu tingginya suplai uap air, ditambah adanya area belokan angin dan konvergensi di sekitar wilayah Jawa Barat.

"Kondisi tersebut mendukung potensi pembentukan awan konvektif di sebagian wilayah Jawa Barat, serta aktifnya gelombang atmosfer tipe Equatorial Rossby di sebagian wilayah Jawa Barat, serta didukung kelembapan udara yang sangat tinggi pada lapisan 850-500 mb (berkisar 60-98%) dan tingkat labilitas atmosfer kategori ringan hingga kuat, yang secara kolektif menjadi pemicu utama meningkatnya potensi pertumbuhan awan konvektif skala lokal yang masif di sebagian besar wilayah Jawa Barat," kata Teguh Rahayu dalam keterangan resmi yang diterima detikJabar, Sabtu (11/4/2026).

ADVERTISEMENT

Ayu, sapaan karib Teguh Rahayu, mengungkapkan bahwa rangkaian bencana di Jawa Barat pada 10 April 2026 secara visual berkorelasi dengan munculnya sel-sel awan konvektif (Cumulonimbus). Tingkat kematangan SPA < -75Β°C dan radar > 50dBZ berkorelasi langsung dengan hujan es yang terjadi di Kertajati.

Selain itu, SPA -60Β°C sampai dengan -70Β°C berkorelasi dengan fenomena angin kencang dan pohon tumbang di Bogor, Subang, dan Purwakarta. Kondisi persistensi awan dan hujan selama 2-3 hari berturut-turut juga menjadi penyebab utama penjenuhan tanah yang memicu longsor di Ciamis serta banjir genangan di Bandung.

"Waspada terhadap terjadinya cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai dengan kilat atau petir dan juga angin kencang pada sore hari, terutama pada hari dimana terjadi pemanasan kuat antara pukul 10.00 hingga 14.00 WIB, biasanya ditandai dengan jenis awan yang berwarna gelap, dan menjulang tinggi seperti kembang kol dan terkadang memiliki landasan pada puncaknya (Awan jenis Cumulonimbus)," jelas Ayu.

Ayu juga meminta warga waspada terhadap potensi sambaran petir dengan berlindung di tempat tertutup, menghindari pohon, tiang listrik, reklame, atau benda tinggi lainnya yang bisa roboh saat angin kencang. Warga juga diimbau menghindari tempat terbuka, mematikan alat komunikasi sementara waktu, dan menjaga jarak aman jika sedang berteduh di luar ruangan.

"Khusus untuk daerah bertopografi curam/bergunung atau rawan longsor agar tetap waspada khususnya pada kejadian hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang terjadi selama beberapa hari berturut- turut. Pada daerah dataran rendah dan dekat aliran sungai, untuk mewaspadai potensi genangan/banjir," tuturnya.

"Diprakirakan satu hingga tiga hari ke depan masih terdapat potensi hujan (pada skala lokal) pada siang hingga malam hari di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Tasikmalaya," pungkasnya.

Halaman 3 dari 2


Simak Video "Video: Sayap Pesawat Timpa Atap Rumah Warga di Bogor gegara Puting Beliung"
[Gambas:Video 20detik]
(wip/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads