Kondisi memprihatinkan masih membayangi dunia pendidikan keagamaan di Kampung Tanjakan, Desa Padaluyu, Kecamatan Cugenang, Cianjur. Sebanyak 170 siswa Diniyah Takmiliyah (DTA) terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di tempat seadanya sejak gempa besar melanda wilayah tersebut pada 2022 lalu.
Bangunan madrasah yang sebelumnya digunakan runtuh akibat Gempa Cianjur 2022. Sejak saat itu, para siswa DTA Sabilunajah Al Bariyah harus belajar di gubuk bambu dan area pos ziarah yang jauh dari kata layak.
Tanpa dinding pelindung, hanya beralaskan pondasi bambu dan beratapkan genting, ruang belajar tersebut tak mampu menahan terpaan cuaca. Saat hujan turun, air dengan mudah masuk ke dalam ruangan, memaksa para siswa berkumpul di tengah untuk menghindari basah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau udah mendung langsung tidak tenang, takutnya hujan deras. Jadi belajar tidak fokus. Kan kalau hujan jadi harus berkumpul di tengah, karena tidak ada dinding jadinya air hujan masuk," ungkap Hani (11), salah satu siswa, Kamis (9/4/2026).
Kendati demikian, semangat belajar para siswa tetap terjaga. Mereka tetap mengikuti kegiatan mengaji dan pelajaran agama setiap hari sepulang sekolah formal.
Pimpinan DTA Sabilunajah Al Bariyah, Misbahudin, menjelaskan bahwa kondisi ini sudah berlangsung hampir tiga tahun. Ia menyebut bangunan madrasah sebelumnya tidak dapat digunakan lagi akibat kerusakan parah pascagempa.
"Jadi memang ini kan ada dua ruangan, satu dari saung bambu itu dan tempat ziarah makam dan keduanya ruangan terbuka, jadi ketika hujan ya kita berhenti dulu, ke pinggir dulu sambil nunggu hujan reda," tuturnya.
Madrasah DTA di Cianjur Foto: Ikbal Selamet/detikJabar |
Keterbatasan ruang membuat proses belajar harus dibagi ke beberapa lokasi. Sekitar 100 siswa kelas 4 hingga 6 belajar di bangunan bambu tersebut, sementara siswa kelas 1 dan 2 belajar di rumah pribadi Misbahudin. Adapun siswa kelas 3 menggunakan lantai dua masjid sebagai ruang belajar.
Meski serba terbatas, Misbahudin mengaku terharu melihat antusiasme para siswa yang tetap semangat menuntut ilmu.
"Alhamdulillah masih pada semangat walaupun dengan kondisi kekurangan fasilitas," ujarnya.
Namun, hingga kini belum ada bantuan atau tindak lanjut dari pemerintah, baik di tingkat desa maupun daerah, meski pihak madrasah telah berulang kali menyampaikan kondisi tersebut.
"Sudah 3 tahun ini tidak ada tanggapan baik dari pemerintah desa hingga pemerintah daerah. Padahal kami sudah menyampaikan kondisi selama ini," pungkasnya.
(dir/dir)

