Peristiwa mengerikan menimpa DK (12), bocah asal Kampung Borolong, Desa Cilampung Hilir, Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya. Ia dipatuk ular pada Minggu (29/3) dan membuatnya harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit.
Berikut fakta-faktanya
1. Dipatuk saat Tidur
Ia dipatuk saat tidur tidur bersama ibunya. Kala itu korban tidur di lantai hanya beralaskan tikar. Kemudian, korban menyadari kemunculan ular yang sempat disangkanya mainan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidurnya di rumah bersama saya, tidur di ruangan tengah, tidak di ranjang. Kemudian dia bilang, mah ada ular. Dipegang, karena dikiranya mainan," ujar ibu kandung korban, Siti Hindun kepada detikjabar di ruang ICU RSUD KHZ Musthafa, Selasa (7/4/2026).
2. Tak Keluhkan Sakit
Anak pasangan Andis Kuswara dan Siti Hindun itu dipatuk ular weling di bagian tangan kanannya. Sang anak tak mengeluhkan sakit, walau demikian kedua orang tua DK membawanya ke tabib kampung sebelum disarankan ke rumah sakit.
"Dibawa dulu ke orang yang bisa, katanya dibawa ke rumah sakit saja. Langsung ke sini RSUD KHZ Musthafa," ujar Hindun.
3. Sempat Pingsan
Saat di perjalanan, korban mengeluhkan sakit di bagian perutnya. Perlahan, kondisi korban kian mengkhawatirkan karena mengalami sulit menelan makanan dan sesak napas. Korban kemudian pingsan.
"Anak saya pingsan, sampai akhirnya dibawa ke ruangan ICU," ujar Hindun.
4. Mengalami Gagal Nafas
Pihak Rumah Sakit RSUD KHZ Mustahafa memastikan menangani pasien dengan cepat dan tepat. Pasien tercatat sudah 10 hari di ruang ICU RSUD KHZ Musthafa hingga Selasa (7/4/2026).
Tim dokter spesialis langsung menangani termasuk dokter spesialis toksinologi dari Jawa Barat. Pasien mengalami gagal nafas hingga terpaksa dipasang ventilator.
"Benar ada pasien anak dipatuk ular kami tangani dengan maksimal untuk membantu masyarakat," kata Direktur RUSD KHZ Musthafa, dr Eli Hendalia.
5. Habiskan 50 Vial Anti Venom
Biasanya, anti venom atau antibisa hanya membutuhkan tiga hingga empat vial. Namun dalam kasus ini, jumlah yang digunakan sudah mencapai 50 vial. Kondisi tersebut diduga akibat racun ular yang telah melemahkan otot-otot pernapasan.
"Kami rumah sakit terus berupaya selamatkan pasien. Kami bolak balik juga ke Bandung untuk anti venomnya. Malahan karena ini kasusnya terbilang jarang dari ahli toksin juga datang. Ini pasien sudah habiskan 50 vial anti venom," kata Eli.
6. Biaya Pengobatan Capai Rp200 Juta
Selama 10 hari dirawat, jelas sudah banyak berbagai hal yang dilakukan pihak rumah sakit. Berbagai obat-obatan, penanganan, hingga tenaga medis sudah turun tangan demi menyelamatkan DK.
Biaya untuk menangani DK pun tak sedikit. Sejauh ini, total biaya pengobatan DK sudah mencapai Rp200 juta. Angka ini sudah melampaui plafon yang ditanggung BPJS Kesehatan.
"Pembiayaannya Rp 200 jutaan. Walau ke-cover BPJS tapi sudah lewat dari ketentuan, Kami tetap berusaha menyelamatkan jiwa apalagi anak ini insya Allah RS komitmen. Kita bisa cari dana untuk bantu pasien," ucap Eli.
(bba/dir)











































