Momen Mendebarkan Bocah Tasikmalaya Usai Dipatuk Ular

Momen Mendebarkan Bocah Tasikmalaya Usai Dipatuk Ular

Tim detikJabar - detikJabar
Selasa, 07 Apr 2026 15:31 WIB
Ilustrasi ibu dan anak tidur di tikar dan diintai ular.
Ilustrasi ibu dan anak tidur di tikar dan diintai ular. (Foto: Gemini AI)
Tasikmalaya -

Malam di Kampung Borolong, Desa Cilampung Hilir, Kabupaten Tasikmalaya, mendadak berubah mencekam bagi keluarga Siti Hindun. Pada Minggu (29/3), DK, bocah laki-laki berusia 12 tahun, sedang terlelap di lantai beralaskan tikar saat seekor ular Weling menyelinap masuk ke dalam rumah.

Dalam remang malam, DK terbangun dan melihat seekor ular. Tanpa rasa curiga, ia mengira makhluk melata itu hanyalah sebuah mainan yang tertinggal di lantai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

DK lantas memegang ular itu yang dalam pikirannya merupakan mainan. Namun, petaka justru datang dari gigitan kecil yang fatal di tangan kanannya.

"Tidurnya di rumah bersama saya, tidur di ruangan tengah, tidak di ranjang. Kemudian dia bilang, 'mah ada ular'. Dipegang, karena dikiranya mainan," ujar ibu kandung korban, Siti Hindun kepada detikJabar di ruang ICU RSUD KHZ Musthafa, Selasa (7/4/2026).

ADVERTISEMENT

Tak Mengeluh Sakit

Awalnya, DK tak mengeluhkan rasa sakit yang berarti. Akan tetapi, orang tua DK sadar betul apa yang mesti dilakukan. Pengobatan mesti segera diberikan meski saat itu tak tahu ular apa yang menggigit sang anak.

Sebagai langkah awal, orang tuanya sempat membawa DK ke tabib kampung. Namun, kondisi DK justru perlahan memburuk. Atas saran warga, mereka segera membawa DK ke rumah sakit.

"Dibawa dulu ke orang yang 'bisa', katanya dibawa ke rumah sakit saja. Langsung ke sini RSUD KHZ Musthafa," ujar Hindun mengenang kepanikan hari itu.

Perjalanan Mendebarkan

Perjalanan menuju rumah sakit menjadi perlombaan melawan waktu. Di tengah jalan, DK mulai mengeluhkan nyeri hebat di bagian perut. Gejala khas neurotoksin ular weling mulai bekerja. DK kesulitan menelan, napasnya memburu, hingga akhirnya kesadarannya hilang sepenuhnya.

"Anak saya pingsan, sampai akhirnya dibawa ke ruangan ICU," ujar Hindun dengan nada lirih.

Perjuangan di Rumah Sakit

Hingga Selasa (7/4/2026), DK tercatat sudah 10 hari berjuang di ruang ICU RSUD KHZ Musthafa. Tim dokter spesialis, termasuk ahli toksinologi dari Jawa Barat, dikerahkan untuk menangani kasus langka ini. DK mengalami gagal napas yang mengharuskannya bergantung sepenuhnya pada mesin ventilator.

"Benar ada pasien anak dipatuk ular kami tangani dengan maksimal untuk membantu masyarakat," kata Direktur RSUD KHZ Musthafa, dr. Eli Hendalia.

Habiskan Puluhan Vial Anti Venom

Kasus DK tergolong anomali medis. Jika biasanya pasien gigitan ular hanya membutuhkan tiga hingga empat vial anti-bisa (anti-venom) untuk pulih, tubuh DK justru membutuhkan dosis yang jauh lebih besar karena kuatnya bisa yang telah melumpuhkan otot-otot paru-parunya.

"Kami rumah sakit terus berupaya selamatkan pasien. Kami bolak balik juga ke Bandung untuk anti venomnya. Malahan karena ini kasusnya terbilang jarang dari ahli toksin juga datang. Ini pasien sudah habiskan 50 vial anti venom," kata Eli.

Biaya Pengobatan Capai Rp200 Juta

Selama 10 hari dirawat, jelas sudah banyak berbagai hal yang dilakukan pihak rumah sakit. Berbagai obat-obatan, penanganan, hingga tenaga medis sudah turun tangan demi menyelamatkan DK.

Biaya untuk menangani DK pun tak sedikit. Sejauh ini, total biaya pengobatan DK sudah mencapai Rp200 juta. Angka ini sudah melampaui plafon yang ditanggun BPJS Kesehatan.

Meski begitu, pihak rumah sakit tetap memberikan perawatan. Bagi mereka, keselamatan nyawa DK adalah prioritas di atas segalanya.

"Kami berupaya selamatkan pasien bantu masyarakat. Kami sekuat tenaga dengan dinas provinsi adakan anti venom, anti venom saja sudah habis 50 vial. Pembiayaannya Rp 200 jutaan. Walau ke-cover BPJS tapi sudah lewat dari ketentuan, Kami tetap berusaha menyelamatkan jiwa apalagi anak ini insya Allah RS komitmen. Kita bisa cari dana untuk bantu pasien," ucap Eli.

Pelajaran Penting

Sementara itu, belajar dari tragedi ini, dr. Eli mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di dekat area persawahan atau kolam. Kebiasaan tidur di lantai tanpa pengaman menjadi celah bagi hewan berbisa untuk menyerang.

"Anak dipatuk ular lagi posisi tidur harus mendapat perhatian khusus. Biasakan tidur di atas jangan di lantai. Pakai juga keselamatan lain kaya kelambu kalau ada. Kemudian juga yang rumahnya di areal sawah atau ada kolam hati-hati," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads