Jabar Hari Ini: Viral Motor untuk SPPG di Jabar

Tim detikJabar - detikJabar
Senin, 06 Apr 2026 22:00 WIB
Ilustrasi Makan Siang Gratis (Antara Foto/Andry Denisah)
Bandung -

Sejumlah peristiwa terjadi di Jawa Barat (Jabar) hari ini, Senin (6/4/2026) . Mulai dari viral video pengiriman motor SPPG hingga aksi pria yang joget cuan MBG kembali viral gegara parkir.

Berikut rangkuman Jabar hari ini

1. Viral Motor untuk SPPG di Jabar

Kabar soal pengiriman puluhan ribu sepeda motor untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jawa Barat ramai beredar di media sosial. Dalam video yang beredar, disebutkan ada sekitar 70 ribu unit sepeda motor yang akan didistribusikan ke seluruh SPPG.

Motor-motor tersebut tampak masih terbungkus plastik dan sudah dilengkapi stiker Badan Gizi Nasional (BGN), sehingga memicu beragam spekulasi publik.

Namun, saat dikonfirmasi, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Regional Bandung, Ramzi, mengaku belum menerima informasi resmi terkait hal tersebut.

"Sampai saat ini saya belum mendapatkan informasi kang terkait dengan motor listrik tersebut," ujar Ramzi saat dikonfirmasi detikJabar, Senin (6/4/2024).

Ia juga membenarkan telah melihat video yang beredar di media sosial soal motor-motor tersebut. Namun, Ramzi belum bisa memastikan kebenarannya secara institusional.

"Kebetulan memang pernah liat di medsos ya terkait dengan adanya yang mengupload terkait motor listrik," katanya.

Ramzi menegaskan, hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai distribusi maupun jumlah kendaraan yang disebut-sebut akan diberikan untuk SPPG. Oleh karena itu, ia belum bisa menjelaskan lebih lanjut soal video viral tersebut.

"Tapi sampai sekarang saya pribadi belum mendapatkan informasi motor tersebut akan diserahkan ke siapa, dikirim ke mana dan jumlahnya berapa," ucapnya.

Sementara itu, salah seorang Kepala SPPG di Kota Bandung yang enggan disebutkan namanya menuturkan, hingga hari ini belum ada kejelasan soal pengiriman motor. Namun, dia menyebut SPPG di luar Bandung kabarnya sudah ada yang menerima unit tersebut.

"Untuk kabarnya masih simpang siur ya karena di Kota Bandung saya kurang tahu dapur mana saja yang sudah dapat. Tapi kalau di luar Bandung kaya Jakarta infonya sudah ada beberapa yang dikirim," ucapnya.

Sebelum viral di media sosial, ia mengungkapkan informasi soal pengiriman motor SPPG ini sudah beredar di kalangan pengelola. Namun, hingga kini belum ada instruksi resmi dari BGN.

"Belum ada informasi baik itu surat edaran atau yang lain, cuma sekedar informasi dari WA, dari grup SPPG," ujarnya.

Adapun motor tersebut, menurut pengakuannya, digunakan untuk operasional bagi Kepala SPPG. Masing-masing SPPG, kata dia, mendapat jatah satu unit motor.

"Itu kalau tidak salah untuk operasional kepala SPPG, membantu mobilisasi kepala SPPG. Satu SPPG infonya satu motor, hanya untuk kepala SPPG saja informasinya," pungkasnya.

2. Jutaan Data Warga Bandung Diduga Dibobol Hacker

Akun Twitter (X) bernama VECERT Analyzer menyampaikan pengumuman mengejutkan di media sosial. Akun tersebut menyatakan bahwa jutaan data kependudukan warga Kota Bandung diduga dibobol dan berpotensi disalahgunakan kelompok peretas atau hacker.

Peringatan tersebut disampaikan VECERT Analyzer pada 29 Maret 2026. Dia memperingatkan bahwa tindakan ini bisa berdampak karena berkaitan dengan dokumen kependudukan warga Kota Bandung.

"PERINGATAN: Kebocoran Database Penduduk Bandung," tulis akun tersebut di unggahannya sebagaimana dilihat detikJabar, Senin (6/4/2026).

VECERT Analyzer sendiri merupakan akun Keamanan Siber & CTI, perusahaan keamanan siber yang berfokus pada analisis kritis dan penelitian terhadap ancaman digital. Mereka sudah sering mengunggah peringatan kebocoran data yang menimpa perusahaan hingga sektor pemerintahan di berbagai negara.

VECERT Analyzer pun menuding biang kerok pembobolan data ini adalah kelompok hacker dengan nama 'Petrunism. Kelompok ini diklaim telah mengantongi informasi rinci kependudukan warga Kota Bandung yang jumlahnya mencapai 1 jutaan.

"Kami mendeteksi kebocoran data besar yang berdampak pada Kota Bandung, Indonesia. Pelaku ancaman dengan nama "petrusnism" telah merilis sebuah database yang berisi informasi pribadi rinci dari lebih dari satu juta warga, yang diduga diambil secara ilegal dari catatan resmi kependudukan," ucapnya.

"Korban: Database Penduduk Bandung, Indonesia Pelaku: petrusnism. Jumlah data: +1.000.000 baris (data individu). Tanggal kebocoran: Maret 2026 (kemungkinan kejadian baru-baru ini)," tutup unggahan tersebut.

detikJabar kemudian menanyakan hal ini langsung ke Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Bandung Tatang Muhtar. Melalui pesan singkat WhatsApp, Tatang mengaku akan menelusuri terlebih dahulu informasi tersebut.

"Mangga ditelusuri dulu, nuhun infonya," pungkasnya.

3. Belahan Bambu jadi Senjata Preman yang Habisi Tuan Rumah Hajat

Belahan bambu yang diduga digunakan sebagai senjata ditemukan polisi di lokasi pengeroyokan maut dalam sebuah pesta pernikahan di Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta. Benda sederhana itu diduga menjadi alat yang digunakan sekelompok preman untuk menghabisi nyawa pemilik hajatan, Dadang.

Pesta pernikahan yang seharusnya menjadi momen bahagia itu pun berubah menjadi tragedi berdarah. Dadang, yang tengah menggelar resepsi pernikahan anaknya, tewas setelah diduga dikeroyok sekelompok pemuda yang dikenal sebagai preman kampung.

Peristiwa ini dipicu permintaan uang dari kelompok tersebut kepada pihak keluarga. Berdasarkan keterangan keluarga, pelaku sempat meminta uang dalam dua tahap dengan nominal berbeda.

Adik korban, Wahyudin, mengungkapkan bahwa kelompok tersebut pertama kali datang ke acara resepsi dan meminta uang sebesar Rp100 ribu, yang kemudian diberikan oleh pihak keluarga.

"Saya itu dimintai uang, istilahnya dipalak. Pertama dikasih Rp100 ribu," ujar Wahyudin saat ditemui di Mapolres Purwakarta, Sabtu (4/4/2026) malam.

Namun, sekitar satu jam kemudian, kelompok yang sama kembali datang dan meminta uang dengan nominal lebih besar, yakni Rp500 ribu. Permintaan kedua ini ditolak oleh korban.

"Yang kedua minta Rp500 ribu, kakak saya menolak," katanya.

Penolakan tersebut memicu keributan. Korban sempat keluar dari tenda resepsi, dan di luar lokasi acara terjadi aksi pengeroyokan.

"Setelah tidak dikasih, terjadi keributan. Kakak saya dikeroyok tiga orang, saya juga sempat dikeroyok sekitar delapan orang," ungkap Wahyudin.

Akibat pengeroyokan tersebut, korban terjatuh dan tidak sadarkan diri. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.

Peristiwa tragis itu juga terekam dalam video amatir yang beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, korban terlihat ambruk, sementara suasana pesta berubah menjadi kepanikan. Istri dan anak korban dilaporkan pingsan di lokasi kejadian.

Sementara itu, pihak kepolisian membenarkan adanya peristiwa penganiayaan yang berujung kematian tersebut. Kasi Humas Polres Purwakarta, AKP Enjang Sukandi, mengatakan kejadian bermula dari keributan di lokasi hajatan.

"Diduga ada sekelompok orang yang membuat keributan di acara hajatan, kemudian berujung pada pemukulan hingga korban tidak sadarkan diri," ujar Enjang.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan barang bukti berupa belahan bambu yang diduga digunakan untuk menganiaya korban, terutama pada bagian kepala.

"Korban dipukul menggunakan belahan bambu di bagian kepala hingga tidak sadarkan diri. Untuk penyebab pasti kematian, masih menunggu hasil autopsi," tambahnya.




(bba/yum)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork