Penantian panjang Saparudin (56) dan keluarganya untuk memiliki rumah layak huni akhirnya terwujud. Rumah reyot yang nyaris roboh itu kini akan dibangun kembali menjadi hunian yang lebih aman dan nyaman.
Rumah sederhana tersebut berada di Kampung Babakan Cikeruh, Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Dengan ukuran sekitar 3 x 6 meter, rumah itu dihuni hingga 12 orang.
Kondisinya memprihatinkan. Dinding terbuat dari anyaman bilik bambu yang mulai miring, atap berlubang, serta tiang kayu yang keropos dimakan usia. Saat hujan turun, air kerap masuk dari berbagai sisi. Lantai yang masih berupa tanah dilapisi karpet dan kasur di bagian kamar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saparudin tinggal bersama anak dan kerabatnya dalam satu kamar sempit, sementara ruang lainnya digunakan untuk tidur secara berdempetan.
Kini, rumah tersebut mulai dibongkar untuk dibangun kembali melalui bantuan pengusaha dan Pemerintah Kabupaten Bandung. Sejumlah warga tampak bergotong royong membantu proses pembongkaran pada Minggu (5/4/2026).
Selama pembangunan berlangsung, Saparudin dan keluarganya untuk sementara waktu tinggal di rumah kontrakan yang tidak jauh dari lokasi.
"Saya ini ngontrak dulu deket sini, sementara ini mau di robohkan," ujar Saparudin saat ditemui detikJabar di lokasi, Minggu (5/4/2026).
Ia mengaku bersyukur atas bantuan yang datang dari berbagai pihak. Menurutnya, bantuan tersebut menjadi harapan agar keluarganya dapat tinggal lebih layak.
"Saya merasa bangga dan terharu, saya ucapkan banyak terima kasih itu saja. Alhamdulilah banyak yang peduli, tadi juga ngasih beberapa amplop untuk perjalanan pembangunan ini," katanya.
Kondisi rumah Saparudin sebelumnya sempat viral di media sosial. Hal itu mendorong sejumlah pihak, termasuk pengusaha dan Pemkab Bandung, untuk turun tangan memberikan bantuan perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu).
Wakil Bupati Bandung, Ali Syakieb, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya kolaborasi berbagai pihak dalam membantu masyarakat.
"Ya, pertama saat ini kita melakukan kunjungan juga di masyarakat pada hari minggu ini. Alhamdulillah ini ada sumbangsih juga dari kang Irfan dan juga Kang Hartono juga untuk memenuhi rumah Rutilahu untuk masyarakat," ucapnya.
Rumah reyot Saparudin yang ditinggali 12 orang di Cileunyi, Kabupaten Bandung Foto: Yuga Hassani/detikJabar |
Menurut Ali, luasnya wilayah Kabupaten Bandung membutuhkan kerja sama lintas sektor untuk menjangkau masyarakat di berbagai pelosok.
"Iya karena dengan luas Kabupaten Bandung ini, dengan pelosok-pelosoknya, kita ini harus bekerja sama untuk membantu kebutuhan masyarakat ke depannya," ucapnya.
Ia juga mendorong keterlibatan pihak swasta agar lebih aktif membantu masyarakat melalui program tanggung jawab sosial.
"Jadi, kalau bahasa kita Pentahelix lah, kita berkolaborasi untuk membangun Kabupaten Bandung ini biar lebih bedas," bebernya.
"Saya berharap dengan adanya Kang Irfan dan jajaran dan juga Pak Hartono. Kalau bisa entar ada titik-titik lagi di Kab Bandung seandainya bisa tolong kita berkolaborasi dan yang jelas Pemerintah Kabupaten Bandung juga pasti akan ikut serta untuk membangun rutilahu ini ke depan," tambahnya.
Pembangunan rumah Saparudin ditargetkan selesai dalam waktu dua hingga tiga pekan. Saat ini, proses evakuasi barang dan penyiapan material tengah dilakukan.
"Iya ini semoga bisa selesai 2 sampai 3 minggu. Mungkin saya berharap masyarakat juga mau bantu juga jadi swadaya masyarakat juga, gotong royong untuk percepatan pembangunan rutilahu ini ke depan," ungkapnya.
Selain perbaikan rumah, bantuan juga mencakup pembangunan warung sebagai sumber penghasilan bagi keluarga Saparudin.
"Ya, jadi ini para-para pengusaha ayo CSR-nya kerja sama dengan yang supaya CSR-nya itu tepat sasaran dari perusahaan," kata pengusaha Hartono Soekwanto.
"Jadi kami tidak hanya membangun, tadi saya baru tahu di jalan juga, ternyata kita mau bikin itu juga ya warung juga. Jadi ada sumber kehidupan juga jadi (Saparudin) tidak hanya enggak serabutan ya," ucap Hartono.
Sementara itu, publik figur Irfan Hakim mengaku tergerak untuk membantu dan berharap aksi tersebut dapat menginspirasi masyarakat.
"Kedatangan kami ini supaya menginspirasi banyak orang dan membuka mata bahwa banyak sekali orang-orang yang ternyata mempunyai kehidupan yang masih di bawah standar rata-rata. Lebih banyak bersyukur. Bersyukur itu yang paling penting," kata Irfan.
Berdasarkan Rancangan Anggaran Biaya (RAB), pembangunan rumah tersebut diperkirakan menelan biaya sekitar Rp54 juta.
"Ya tentunya akhirnya alhamdulillah kita bisa berkolaborasi dengan desa dan para donatur akhirnya penyahelix. Kalau dianggaran di RAB sih dilihat sekitar Rp54 juta lah," ucap inisiator perbaikan rumah, Yudha.
(yum/yum)

