Sebuah rumah kecil berdinding bilik bambu berdiri di Kampung Babakan Cikeruh, Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Nampak atapnya berlubang, dindingnya miring, hingga tiang kayunya mulai keropos termakan usia.
Rumah itu berada di perkampungan yang padat di antara sebuah gang kecil. Setiap kali hujan deras mengguyur, air menetes dari segala arah. Lantai kayu menjadi lembap, dan suara angin menembus sela-sela dinding rapuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bilik bambu itu bertumpu pada tiang yang sudah reyot termakan usia. Rumah itu seolah tinggal menunggu waktu untuk tumbang. Lantainya hanya beralaskan tanah dan dilapisi karpet hingga kasur pada bagian kamar.
Rumah kecil itu hanya punya satu kamar dan ruangan lainnya kerap dipakai untuk tidur dengan berdempetan. Ukurannya 3X6 meter dengan dihuni sebanyak 12 orang.
Rumah penuh cerita dan kenangan itu dihuni Saparudin (56) bersama dengan saudara dan anak-anaknya secara sederhana. Awalnya rumah tersebut merupakan bekas ibunya bernama Anih yang telah meninggal dunia.
"Saya tinggal dari tahun 2000 di sini. Terus mengalami kerusakan dan sudah didata dari pemerintah sejak tahun 2013 lalu, dan belum ada realisasi (perbaikan)," ujar Saparudin saat ditemui detikJabar di rumahnya, Jumat (3/4/2026).
Rumah tersebut merupakan bangunan asli peninggalan orang tuanya. Makanya dinding dari bangunan tersebut masih menggunakan anyaman bilik bambu yang sederhana.
"Ini kebetulan kondisinya kan bilik semua, dan ini kan udah mau runtuh, di dalam itu udah keropos semua. Jadi takut lah kalau untuk tempat tinggal, takut kalau kena hujan kadang malam sama angin, jadi kurang tenang lah," katanya.
Jika hujan melanda dengan deras, penghuni rumah kerap dihinggapi rasa khawatir dan was-was. Apalagi rumah tersebut kerap mengalami kebocoran yang membuat tidak nyaman.
"Kalau hujan begadang, gantian tidurnya, kaya shift-shift, kalau enggak ke saudara dulu pindah kalau hujannya besar, apalagi kalau sama angin karena khawatir," jelasnya.
Di dalam rumah tersebut tinggal sebanyak 12 orang dengan tiga kepala keluarga. Jika dalam malam hari, kondisi tidur pun harus berdempetan dan hidup dalam keterbatasan.
"Namanya juga bertumpuk ya, bisa dibayangkan lah gimana rasanya. Jadi tidur kayak pindang lah. Terus kalau hujan iya separuh ada yang bocor. Mau dibetulin kadang takut, pas naik takutnya roboh," ucapnya.
Dalam kesehariannya, Saparudin bekerja sebagai buruh serabutan yang harus menghidupi keluarganya. Sehingga mereka harus hidup serba sederhana bersama keluarganya.
"Kalau ada yang nyuruh, baru kerja serabutan. Jadi iya begitu lah, enak nggak enaknya, pahit dan manisnya, udah kemakan. Cuma kesabaran yang jadi obatnya," jelasnya.
Menurutnya selama menjalani hidup di rumah tersebut kerap datang dari pemerintah untuk melakukan pendataan sejak 2013 lalu. Namun sampai saat ini belum ada realisasi untuk pengajuan pembangunan Rumah Tidak Layak (Rutilahu).
"Iya, banyak yang ke sini cuma begitu, belum ada realisasi," bebernya.
Aktivitas kehidupan keluarga tersebut sempat viral di sosial media. Setelah itu pemerintah sekitar langsung mendatangi keluarga tersebut dan akan dilakukan pembangunan rutilahu.
"Kebetulan dari kemarin udah clear lah. Mungkin mulai hari Minggu pembongkaran terus hari Senin berjalan pembangunan," kata Saparudin.
Sementara itu, Kepala Desa Cimekar, Iwan Darmawan mengungkapkan, telah menjadi kepala desa di wilayah tersebut sejak tahun 2020 lalu. Kemudian tercatat sebanyak 471 unit rumah dalam kondisi mengkhawatirkan dan harus diperbaiki.
"Alhamdulillah sekarang sisanya tinggal 180-an lagi dan salah satunya rumah ini (Saparudin)," ucap Iwan, saat ditemui di Kantor Desa Cimekar, Jumat (3/4/2026).
Pihaknya mengungkapkan, rumah Saparudin telah masuk dalam list pembangunan Kabupaten Bandung pada tahap dua. Namun rumah tersebut belum diperbaiki hingga akhirnya viral di sosial media.
Baca juga: Serba-serbi WFH ASN di Jawa Barat |
"Tapi dengan viralnya kasus ini pihak Pemerintah Kabupaten Bandung, sudah beberapa kali berkunjung ke sana dan berkomunikasi dibantu dengan dewan, supaya dipercepat pembangunannya dan Alhamdulillah tadi sudah disurvei dan diukur, mungkin mulai Senin akan segera kita bangun," kata Iwan.
Dia menyebutkan, saat ini menargetkan sebanyak 40 unit rutilahu pada tahun 2026. Pembangunan tersebut dikerjasamakan dengan pihak swasta dan anggota dewan.
"Target untuk rutilahu 40-an. Dari dinas ada 6, dari dewan ada, jadi ditarget tahun ini 40 unit," bebernya.
(sud/sud)
