Di balik ramainya penampakan dua bilah bambu yang menyangga jembatan 'melintir' di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, terselip kisah pilu para pelajar.
Setiap hari, mereka terpaksa 'bertaruh nyawa' melintasi struktur besi yang miring ekstrem itu hanya demi menghemat ongkos angkot sebesar Rp 2 ribu.
Bagi para siswa di wilayah ini, jembatan tua di atas Sungai Cimahi tersebut adalah jalur utama yang tak tergantikan. Meski nyawa menjadi taruhan, faktor ekonomi dan efisiensi waktu mengalahkan rasa takut mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah seorang pelajar, Ardiansyah Sopandi, menceritakan dilema yang ia hadapi setiap berangkat dan pulang sekolah. Jika harus menggunakan jalur alternatif yang lebih aman, ia harus memutar sejauh 2 kilometer dengan biaya transportasi yang jauh lebih mahal.
"Ada jalan lain, tapi jauh, lewat muter sekitar 2 kilometer. Kalau lewat sana ongkosnya mahal, sekitar Rp 4.000. Kalau lewat sini (jembatan) cuma Rp 2.000, lebih terjangkau buat anak sekolah," ungkap Ardian saat ditemui detikJabar di lokasi, Selasa (31/3/2026).
Bagi Ardian dan kawan-kawannya, selisih Rp 2.000 sangatlah berharga. Selain urusan kantong, faktor waktu juga menjadi alasan utama mereka nekat melintasi jembatan yang kondisinya sudah tidak stabil tersebut.
"Jalan sini lumayan dekat Pak, soalnya kalau lewat sana (memutar) takut kesiangan. Lewat sini enggak (kesiangan)," tambahnya.
Keberanian para pelajar ini sebenarnya dibayangi trauma mendalam. Ardian mengisahkan pengalaman mencekam saat dirinya hampir terperosok ke sungai yang alirannya seringkali deras, terutama saat cuaca ekstrem melanda Sukabumi.
"Takut sih Pak, apalagi kalau hujan suka licin. Pernah beneran terjebak di sini, bertiga atau berempat sama teman. Waktu itu hampir jatuh ke sungai karena licin. Dulu mah belum ada bambu (penyangga) kayak sekarang," kenang Ardian dengan raut wajah waswas.
Ia menyebutkan, sebelum warga berinisiatif memasang dua batang bambu penyangga atau "tunjel", kondisi jembatan jauh lebih mengerikan dan sulit dilalui.
Keberadaan dua batang bambu yang bergetar hebat saat diinjak itu kini menjadi satu-satunya harapan mereka agar tidak tergelincir ke sungai.
Sebagai jalan umum yang juga digunakan petani dan pedagang, para pelajar ini menaruh harapan besar agar pemerintah segera turun tangan. Mereka tidak ingin pendidikan mereka terhenti hanya karena infrastruktur yang sudah berusia 10 tahun itu ambruk.
"Harapannya bisa segera dibangun sama pemerintah, soalnya ini jalan umum, banyak juga orang lewat sini. Selain kami ada, petani, warga, sampai pedagang. Kasihan kalau harus muter lewat atas sana, jauh," pungkas Ardian.
Hingga saat ini, pemandangan pelajar berseragam putih-biru yang berjalan hati-hati di atas sling besi berkarat masih menjadi pemandangan harian di Cibadak.
Mereka hanya bisa berharap, dua batang bambu itu tetap kuat menopang mimpi mereka hingga jembatan permanen benar-benar dibangun.
(sya/sud)
