Namanya Ganesha Rahman Liswantoro, mahasiswa Program Studi Teknik Fisika, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB). Mahasiswa adal Jakarta itu dinobatkan sebagai juara 1 Mahasiswa Berprestasi (Mapres) ITB 2026.
detikJabar berkesempatan berbincang dengan Aga, sapaan karib Ganesha Rahman Liswantoro. Dalam perbincangannya Aga mengaku tak menyangka bisa menyabet Juara 1 Mapres ITB 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Waktu itu dipilih oleh jurusan untuk maju. Tapi saya nggak pernah ngebayangkan dapat Mapres. Itu suatu hal yang sebetulnya diluar rencana juga dan saya nggak expect, soalnya saya kira ada teman saya yang bakal dapat," kata Aga dihubungi detikJabar, Selasa (31/3/2026).
Disinggung kunci sukses menjadi Mapres ITB 2026. Putra tunggal dari pasangan Joshua Garibaldi Wiswantoro dan Hapniwati mengungkapkan, jika banyak kriterianya. "Gini, jadi untuk mahasiswa berprestasi, itu kan ada beberapa bidang capaian unggulan yang ditulis. Jadi bisa kompetisi, bisa pengakuan, bisa karier organisasi, bisa karya cipta, bisa wirausaha, dan ada 7 bidang. Jadi dari 7 bidang itu, aku tuh emang orang yang tipenya lebih ke menyeluruh. Jadi bukan cuma fokus di bidang kompetisi," ungkapnya.
"Soalnya kalau misalkan kita lihat di kompetisi doang, saya sebenarnya baru menang kompetisi itu cuma 3 lomba doang. Tapi kalau misalkan kita lihat dari berbagai bidang itu, bisa dibilang saya memiliki sekitar 30-an prestasi," tambahnya.
Selain itu, Aga juga membagikan kunci sukses menjadi mahasiswa ITB. Menurut lulusan SMAN 70 Jakarta menjelaskan, jika tahun 2023 lalu dia masuk ITB melalui jalur SNBP.
"Menurut saya hal yang harus dipelajarin itu namanya meta-learning. Yakni harus bisa belajar cara belajar. Karena kemampuan itu banyak orang yang nggak terlalu investasi banyak waktu untuk mempelajari metode yang works for them. Karena ya itu harusnya hal suatu yang banyak orang tuh menginvestasi waktu terhadap hal itu. Jadi bukan cuma belajar, tapi belajar cara belajar," jelasnya.
Aga menyebutkan, kebiasaan itu dia lakukan saat menunggu kelulusan SNBP ITB atau peralihan dari SMA ke kuliah.
"Jadi saya mulai banyak belajar tentang hal itu sebenarnya waktu awal masuk kuliah. Jadi antara libur SMA dengan kuliah, saya merasakan kayak, oh saya kuliah nanti harus serius nih, harus bisa lebih fokus lagi. Maksudnya belajar ya udah belajar, tapi nggak terlalu yang gimana-gimana. Jadi saya rasa di kuliah harus beneran fokus." tambahnya.
Disinggung apakah Aga puas dengan menyandang sebagai Mapres ITB 2026. Aga sebut ada target lain, bahkan dia tak pernah bermimpi menjadi Mapres ITB. Sebelum mengikuti ajang tersebut, Aga juga dikenal sebagai mahasiswa yang aktif mencoba berbagai peluang, mulai dari organisasi, kompetisi, hingga pengembangan diri.
"Tentunya masih ada target. Jadi dengan Mapres, ini sebenarnya bukan tujuan saya, jadi saya nggak pernah taruh target untuk Mapres. Nah, untuk targetnya lebih lanjut sih, sekarang saya juga masih ada ikut beberapa kompetisi dan juga lagi mengembangkan startup dan saya juga lagi ketua organisasi di himpunan, yaitu namanya ITB Insight. Itu sebuah bedan semi-otonom untuk bikin festival teknologi, gitu," tuturnya.
"Kalau ada hal yang menarik, aku coba ikut. Aku tidak pernah menyangka bisa menjadi mapres," ujarnya.
Sejak kecil, Aga tumbuh di keluarga yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Ia menempuh pendidikan di sekolah unggulan di Jakarta dan tertarik dengan bidang akademik maupun berbagai bidang nonakademik.
"Aku dari dulu merupakan tipe orang yang jack of all trades. Dari segala sisi tersebut, aku mencoba untuk bisa mengusahakan itu," ujarnya.
Selama masa sekolah, Aga juga aktif mengikuti berbagai kegiatan seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN) Fisika, kompetisi debat bahasa Inggris, hingga lomba musik internasional. Hal ini membentuknya sebagai pribadi yang tidak hanya unggul di satu bidang, tetapi berkembang secara menyeluruh.
Hal tersebut kemudian berlanjut hingga bangku perkuliahan, yang ditunjukkan melalui berbagai capaian prestasi. Aga tercatat meraih Juara 1 International Paper Competition "Youth Innovation Competition 2024", Juara 1 Business Case Competition "Marine Icon 2024", serta Juara 1 Business Plan Competition Youth Entrepreneur Project (YEP) 2025. Pada ajang yang sama, ia meraih penghargaan Best Feasible Project dan Best Presentation.
Selain prestasi kompetisi, ia memperoleh berbagai penghargaan, di antaranya Hibah Startup Mahasiswa dalam Program Mahasiswa Wirausaha 2025 serta beasiswa SOBAT BUMI dari Pertamina. Capaian ini mencerminkan pengembangan diri yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga inovasi dan kewirausahaan.
Adapun salah satu capaian internasionalnya diwujudkan melalui penelitian di bidang sistem pendinginan baterai kendaraan listrik (electric vehicle battery thermal management system). Penelitian ini berkembang menjadi publikasi ilmiah dan ia menjadi first author dalam paper berjudul "Alternative Liquid Cooling Agents for Optimization of Electric Vehicle Battery Thermal Management System: A Comprehensive Review" yang dipresentasikan pada Konferensi TIME-E 2025 dan dipublikasikan dalam jurnal IEEE.
Ia mempresentasikan penelitiannya di hadapan akademisi internasional, mulai dari peneliti hingga profesor dari berbagai negara. Menariknya, ia menjadi satu-satunya mahasiswa sarjana (undergraduate) yang tampil dalam forum tersebut.
"Awalnya minder, tapi itu menjadi motivasi untuk terus berkembang," tuturnya.
Selain itu, Aga terlibat dalam berbagai penelitian inovatif seperti pengembangan teknologi fog capture, yaitu mengubah kabut menjadi air layak minum yang rencananya diimplementasikan di kawasan Gunung Bromo.
Saat ini, ia mengembangkan proyek stabilisasi drone berbasis computer vision untuk kebutuhan logistik pada kendaraan bergerak.
Aga juga aktif Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik (HMFT) ITB dan unit kegiatan mahasiswa Techno Entrepreneur Club (TEC) ITB. Di tengah berbagai aktivitasnya, Aga menekankan pentingnya metode belajar yang efektif. Ia melakukan riset mandiri untuk menemukan cara belajar yang optimal, termasuk memanfaatkan kondisi flow state agar dapat meningkatkan fokus dan produktivitas.
Menurutnya, waktu belajar tidak harus panjang, tetapi harus efisien. Belajar yang awalnya butuh waktu 4 jam bisa jadi 1 jam. Baginya, flow state menjadi kunci untuk meningkatkan kinerja belajar. "Flow state itu suatu keadaan ketika kamu benar-benar fokus dalam suatu pekerjaan. Berdasarkan riset, itu bisa membuat kerja otak jauh lebih optimal," tuturnya.
Ia juga menerapkan prinsip Pareto (80/20), yaitu memprioritaskan aktivitas yang memberikan dampak terbesar dengan usaha yang lebih efisien. Selain itu, ia menjaga keseimbangan dengan tetap memperhatikan waktu istirahat guna menghindari kelelahan (burnout).
"Untuk tidur aku usahakan 8 jam, karena itu non-negotiable," katanya.
Sebelum masuk ITB, Aga pernah mengalami titik terendah. Ia gagal melanjutkan studi ke luar negeri dan merasa usahanya tidak membuahkan hasil. Namun, hal itu menjadi titik perubahannya. Ia mulai mengevaluasi metode belajar dan fokus pada hal-hal yang dapat dikontrol.
"Kegagalan itu bukan kebalikan dari sukses, tapi bagian dari sukses," ujarnya.
Ia juga menekankan, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kerja keras, tetapi merupakan kombinasi dari beberapa faktor penting. "Sukses itu sama dengan kerja keras Γ metode Γ opportunity," katanya.
Menurutnya, banyak orang hanya berfokus pada kerja keras dan keberuntungan, tanpa memperhatikan metode yang digunakan. Padahal, metode yang tepat menjadi kunci agar usaha yang dilakukan dapat memberikan hasil maksimal.
Dalam menjalani hidup, Aga berprinsip untuk tidak hanya mengejar kebahagiaan pribadi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi orang lain. Ia bercita-cita menjadi engineer di bidang instrumentasi dan kontrol, baik di industri maupun robotika. Ke depannya, ia berencana untuk fokus ke industri terlebih dahulu sebelum melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Dari perjalannya, Aga berpesan kepada mahasiswa ITB untuk tidak takut mencoba dan gagal. "Kalau kamu sedang berusaha, kamu pasti akan gagal. Tapi jangan berhenti. Terus jalan dan pastikan kamu menggunakan metode yang benar," pungkasnya.
(wip/sud)
