Kacang Rebus dan Langkah Mahri Menantang Aspal Bandung di Usia Senja

Kacang Rebus dan Langkah Mahri Menantang Aspal Bandung di Usia Senja

Fauzan Muhammad - detikJabar
Senin, 30 Mar 2026 16:00 WIB
Mahri, penjual kacang rebus di Bandung
Mahri, penjual kacang rebus di Bandung (Foto: Fauzan Muhammad/detikJabar)
Bandung -

Hiruk-pikuk pusat Kota Bandung tak hanya dipenuhi lalu lalang kendaraan dan keramaian warga, tetapi juga menyimpan kisah perjuangan mereka yang menggantungkan hidup dari jalanan. Di antara trotoar yang padat dan panas aspal yang menyengat, Mirin Mahri tetap melangkah setia, memanggul dagangan kacang rebus demi menyambung hidup.

Selama tujuh tahun terakhir, pria berusia 73 tahun itu menjalani rutinitas yang sama, berjalan kaki dari pagi hingga petang, menyusuri sudut-sudut kota untuk menjajakan dagangannya. Mahri, perantau asal Sumedang yang berbatasan dengan Majalengka, tak pernah benar-benar berhenti melangkah.

"Tos tujuh taunan ieu ngider jualan kacang (Sudah tujuh tahunan keliling jualan kacang)" ujar pria yang akrab disapa Mahri saat ditemui detikJabar, Senin (30/03/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setiap pagi, langkahnya dimulai dari kawasan Nyengseret, Tegalega. Di sanalah ia mengambil kacang rebus dari seorang pengepul yang ia sebut sebagai 'bos'. Mahri tidak terlibat dalam proses produksi, mulai dari mencuci hingga merebus, semuanya telah disiapkan. Tugasnya hanya satu, menjual.

ADVERTISEMENT

"Nyandak ti bosna. Bosna nu ngarebusna nu ngumbah, urang mah kantun ngical (Ambil dari yang lain, dari bosnya. Bosnya yang merebus dan mencuci, saya tinggal menjual saja)" tuturnya.

Tak hanya mengambil dagangan, Mahri juga tinggal di tempat milik sang bos. Kehidupannya sederhana, berpusat di sana, sebelum kembali menyusuri jalanan setiap hari.

"Ieu ge bumi ngiringan kanu gaduh suukna (Ini juga ikut tinggal sama yang nyediain kacang)" tambah Mahri.

Mahri, penjual kacang rebus di BandungMahri, penjual kacang rebus di Bandung Foto: Fauzan Muhammad/detikJabar

Rute yang ia tempuh bukanlah jarak yang pendek. Dengan langkah perlahan namun pasti, Mahri berjalan kaki hingga kawasan Gasibu. Di sela perjalanan, ia kerap beristirahat di sekitar Jalan Anggrek, menunggu pembeli datang menghampiri.

Namun, di balik usaha panjang itu, keuntungan yang didapat terbilang sangat tipis. Dari setiap liter kacang yang dijual seharga Rp 20.000, Mahri hanya memperoleh Rp 2.000.

"Ti bosna Rp 18.000 seleter, dijual Rp 20.000. Gaduh Rp 2.000 tina seleter teh (Dari bos Rp 18.000 per liter, dijual Rp 20.000. Dapat Rp 2.000 dari satu liternya)" ungkap Mahri.

Jika sedang beruntung, ia bisa membawa pulang sekitar Rp 40.000 dalam sehari, itu pun setelah dipotong kebutuhan makan. Tak jarang, hasil jualannya langsung habis untuk sekadar mengisi perut.

"Paling ka urangna mah kana 40-an. Kadang-kadang teu acan emam, pake meser nasi (Paling untuk saya sekitar 40-an ribu. Kadang-kadang kalau belum makan, dipakai beli nasi)" tambahnya.

Kerinduan pada keluarga di kampung halaman menjadi beban lain yang ia pikul dalam diam. Mahri hanya bisa pulang setiap 20 hari sekali, dengan mengandalkan angkutan Elf dari Terminal Leuwi Panjang. Namun, kenaikan ongkos transportasi membuat perjalanan pulang menjadi semakin berat.

"Memeh lebaran mah Rp 65.000, kamari mah kadieukeun Rp 120.000. Awis (Sebelum lebaran Rp 65.000, kemarin-kemarin ini jadi Rp 120.000. Mahal)" keluhnya.



(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads