Penampakan Bambu Penopang Jembatan 'Melintir' Cibadak

Penampakan Bambu Penopang Jembatan 'Melintir' Cibadak

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Selasa, 31 Mar 2026 16:25 WIB
Jembatan bambu Sukabumi.
Jembatan bambu Sukabumi. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Dua batang bambu terlihat bergetar hebat menopang beban fisik warga yang melintasi jembatan tua, penghubung antarkampung di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi.

Batang bambu yang ditancapkan vertikal menembus dasar sungai berbatu itu kini menjadi satu-satunya penyangga kerangka besi jembatan yang sudah kehilangan keseimbangan.

Meski terlihat rapuh, dua bilah bambu ini adalah "nyawa" terakhir bagi struktur jembatan yang sudah melintir tersebut. Tanpa kehadiran penyangga darurat ini, jembatan dipastikan akan langsung ambruk dan terpelintir jatuh ke derasnya arus Sungai Cimahi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pantauan detikJabar di lokasi, kondisi jembatan sepanjang 30 meter ini benar-benar menguji nyali. Struktur besinya sudah berkarat hebat dan sling bajanya tampak kendur. Posisinya yang miring membuat lantai jembatan yang tersisa dari bilah bambu dan kayu tampak bolong-bolong di berbagai titik.

ADVERTISEMENT

Setiap kali ada warga yang melintas, jembatan akan bergoyang hebat. Warga dipaksa melakukan manuver berbahaya, berpegangan erat pada sling karatan yang licin agar tidak tergelincir ke sungai yang arusnya cukup deras.

Seorang pedagang yang setiap hari melintas, Mimit, mengungkapkan bahwa jembatan ini merupakan akses krusial yang digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Ia menyebut mulai dari anak sekolah hingga karyawan terpaksa mengandalkan jembatan yang nyaris ambruk ini.

"Soalnya nggak ada lagi jalan buat memotong jalan gitu. Nggak ada lagi jalannya, cuma ke sini-sininya doang. Jadi memang tempat pemakamannya di sana semua, lewat jembatan juga. Saya setiap hari usaha ke sini lewat sini. Anak sekolah, petani, pedagang, karyawan, semuanya lewat sini," ujar Mimit saat ditemui di lokasi, Selasa (31/3/2026).

Mimit juga menyoroti usia jembatan yang sudah mencapai satu dekade namun luput dari perhatian pemerintah. Ia berharap perbaikan segera dilakukan karena jembatan ini menyangkut akses ekonomi dan pendidikan warga.

"Sudah lama, mungkin sepuluh tahunan dan belum direnovasi. Pengennya saya gitu aja, cepet-cepet dibetulin lah gitu. Kan emang itu jalan akses buat ke Sekarwangi, buat ke Kamandoran juga itu karena nggak ada lagi jalan," jelas Mimit dengan nada pasrah.

Senada dengan Mimit, Hendra, warga lainnya yang juga seorang petani, menjelaskan bahwa kerusakan berat jembatan ini sudah terjadi selama dua bulan terakhir. Kerangka besi yang sudah tua membuat jembatan tak lagi mampu berdiri tegak secara mandiri.

"Ya hampir dua bulan atau tiga bulan lah rusaknya itu. Ya jembatannya sudah tua lagi istilahnya. Sudah sepuluh tahunan tapi rusak beratnya sudah dua bulan lebih. Ya jalan hidup, jelas ini mah jalan hidup," ungkap Hendra.

Hendra menceritakan bahwa pemasangan bambu penopang atau warga lokal menyebutnya sebagai "tunjel" dipasang secara swadaya demi kemanusiaan, terutama saat ada warga yang meninggal dunia dan harus dibawa ke tempat pemakaman.

"Banyak anak sekolah, yang kuliah-kuliah, yang banyak-banyak kerja, yang berumput ya macam-macam ada di sini para petani. Apalagi kalau ada yang meninggal susah lho, masalahnya TPU di sebelah sana kan bagaimana bawa jenazahnya. Kemarin-kemarin ada yang meninggal dunia dikuburnya di atas sana, akhirnya dipakai tunjel bambu gitu habis ngeri kan buat orang banyak," bebernya.

Hendra menegaskan betapa krusialnya keberadaan dua batang bambu tersebut sebagai penyangga sementara agar warga tidak terperosok ke sungai.

"Ya untuk sementara bisa dilintas aja. Bisa kalau nggak ada tunjalan nggak bisa lintas Pak. Ya otomatis itu jembatannya takut ambruk sendiri aja gitu dijaga-jaga. Mau sih dibetulin cepet-cepet supaya ini kan penting sekali karena lintasannya nggak ada lagi lintasan masalahnya," pungkas Hendra.

(sya/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads