Horor Jembatan Melintir di Cibadak, Hanya Ditopang Dua Batang Bambu

Horor Jembatan Melintir di Cibadak, Hanya Ditopang Dua Batang Bambu

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Selasa, 31 Mar 2026 13:03 WIB
Horor Jembatan Melintir di Cibadak, Hanya Ditopang Dua Batang Bambu
Horor Jembatan Melintir di Cibadak, Hanya Ditopang Dua Batang Bambu (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Sebuah pemandangan mencekam tersaji di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Sebuah jembatan gantung sepanjang 30 meter yang membentang di atas Sungai Cimahi kondisinya kini miring atau "melintir".

Ironisnya, jembatan yang menjadi akses utama warga ini hanya bertumpu pada dua batang bambu darurat agar tidak ambruk sepenuhnya ke dasar sungai.

Pantauan di lokasi, jembatan yang menghubungkan Kampung Karang Lodaya Hilir dengan Kampung Kamandoran di Desa Karangtengah ini tampak compang-camping.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rangka besinya sudah mengalami deformasi, membuat posisi alas jembatan tidak lagi rata. Dua batang bambu atau yang oleh warga setempat disebut "tunjel", dipasang menyangga bagian bawah jembatan yang paling miring.

Kondisi ini memaksa warga yang melintas, termasuk anak-anak sekolah dan petani, untuk bertaruh nyawa. Mereka harus berjalan ekstra hati-hati sambil berpegangan kuat pada sling baja agar tidak tergelincir.

ADVERTISEMENT

Atin Supriatin (50), warga Kamandoran yang setiap hari melintasi jembatan tersebut, tak menampik rasa was-was yang menghantuinya. Meski nyawa menjadi taruhan, ia mengaku tidak punya pilihan karena jalur alternatif yang ada sangat jauh.

"Takut sih takut gitu, cuman gimana lagi gitu ya satu-satunya jalan ini gitu melintasnya," ujar Atin kepada detikJabar saat ditemui di lokasi, Selasa (31/3/2026).


Atin menjelaskan bahwa jika tidak lewat jembatan "melintir" ini, warga harus memutar melalui Jalan Lodaya.

"Ada sih ada (jalan lain), cuman jauh. Satu satu kilometer. Kalau mau pulang ke rumah gitu. Yang deket ya jembatan ini, umum ini," tambahnya.

Saking horornya kondisi jembatan tersebut, istri Atin bahkan tidak berani melintas dan memilih mengeluarkan biaya ekstra untuk transportasi lain.

"Iya (akses utama). Malahan istri saya juga kalau lewat jalan sini takut katanya. Jadi pesen ojek online kalau istri mah. Kalau saya sih, paksain aja di jalan sini. Walaupun ini kalinya besar ya Pak," ungkap Atin dengan nada pasrah.

"Semoga ini jembatan ini cepat diperbaiki. Itu aja. Jadi biar masyarakat lewat jalan sini, anak-anak sekolah, petani-petani lewat jalan sini. Jangan sampai lewat jalan ke atas sana yang jauh. Kasihan juga gitu," pungkas Atin penuh harap.

Informasi lain yang dihimpun di lapangan, jembatan ini sudah berdiri sekitar 10 tahun silam, namun hingga kini belum pernah mendapatkan renovasi signifikan.

Pemasangan dua batang bambu penyangga itu sendiri ternyata memiliki cerita pilu. Bambu tersebut dipasang secara swadaya agar rombongan warga yang membawa jenazah bisa melintas.

"Dulu mah kan enggak ditunjel, nggak miring. Karena kemarin-kemarin ada yang meninggal dunia, menurut warga Karangtengah kan dikuburnya di Kamandoran, melintasi jalan ini. Akhirnya ditunjel pakai bambu, ada dua bambu, khawatirnya kalau dilepas bambunya sekarang jembatannya melintir, karena tidak ada penahan," jelas Maman.

Maman menambahkan bahwa keselamatan para siswa sekolah kini sedang di ujung tanduk.

"Anak sekolah kemarin sempat hampir jatuh, ada (saksi) pedagang juga. Ini menghubungkan Kampung Karang Lodaya Hilir ke Kamandoran, kan satu desa," tuturnya.

(sya/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads