Perasaan hampa, lelah, hingga kehilangan semangat setelah libur Lebaran ternyata bukan hal yang aneh. Banyak orang mengalaminya, meski sering kali tidak disadari.
Kondisi ini dikenal sebagai post holiday blues, sebuah respons emosional yang muncul saat seseorang harus kembali dari suasana menyenangkan ke rutinitas harian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir detikHealth, Spesialis kedokteran jiwa, Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan reaksi emosional sementara setelah berakhirnya momen menyenangkan, seperti liburan panjang.
"Post-Holiday Blues adalah reaksi emosional sementara yang muncul segera setelah berakhirnya waktu yang menyenangkan, seperti liburan panjang. Secara psikologi," kata dr Lahargo.
"Kondisi ini termasuk dalam adjustment related emotional response, yaitu respons adaptasi terhadap perubahan situasi hidup. Namun, jika berlangsung lama dan berat, kondisi ini bisa berkembang menjadi stres kronis atau bahkan depresi ringan," sambungnya.
Mekanisme Psikologis di Otak
dr Lahargo menguraikan sejumlah mekanisme psikologis yang memicu post holiday blues:
1. Reward System dan Dopamine Withdrawal
Saat liburan, otak berada dalam kondisi penuh stimulus menyenangkan (reward rich environment), seperti berkumpul dengan keluarga dan minim tuntutan. Hal ini meningkatkan produksi dopamin, zat kimia otak yang berperan dalam rasa senang dan motivasi.
"Semua ini meningkatkan aktivitas zat kimia dopamin di otak, yaitu neurotransmitter yang berperan dalam motivasi dan rasa senang," kata dr Lahargo.
"Tapi, saat liburan selesai stimulus reward berkurang drastis. Otak mengalami dopamine withdrawal ringan, muncul rasa kosong, hampa, tidak bersemangat," sambungnya.
2. Hedonic Adaptation dan Set-Point Theory
Manusia cenderung kembali ke tingkat kebahagiaan normal setelah mengalami peningkatan sementara. Perubahan ini bisa memunculkan ilusi bahwa kondisi setelah liburan terasa lebih buruk, meski sebenarnya kembali ke titik awal.
3. Emotional Contrast Effect
Semakin tinggi kebahagiaan saat liburan, semakin terasa penurunannya ketika kembali ke rutinitas. Suasana santai dan penuh kehangatan keluarga kontras dengan tuntutan kerja yang lebih formal dan penuh tekanan.
4. Social Comparison dan Identity Threat
Interaksi sosial saat Lebaran kerap disertai perbandingan, seperti soal pekerjaan, status, atau pencapaian. Jika seseorang merasa tertinggal, hal ini dapat memicu ancaman terhadap harga diri (identity threat) dan memperkuat perasaan negatif.
5. Role Transition Stress
Selama liburan, seseorang berperan sebagai anggota keluarga. Namun setelahnya, peran berubah kembali menjadi pekerja, mahasiswa, atau profesional dengan berbagai tuntutan.
"Perubahan peran ini membutuhkan energi adaptasi. Menurut teori role transition, perubahan identitas sosial dapat memicu stres sementara (Ashforth)," tutup dr Lahargo.
Kondisi post holiday blues umumnya bersifat sementara. Namun, jika berlangsung lama dan semakin berat, penting untuk segera mencari bantuan profesional guna mencegah dampak yang lebih serius.
Artikel ini sudah tayang di detikHealth
(dpy/dir)











































