Duka Cita untuk Huru dan Hara

Round Up

Duka Cita untuk Huru dan Hara

Tim detikJabar - detikJabar
Jumat, 27 Mar 2026 08:30 WIB
Bandung Zoo
Bandung Zoo (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar)
Bandung -

Langit siang itu di Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo tiba-tiba berubah menjadi kelabu. Bukan pertanda turun hujan, namun kabar memilukan yang justru di area yang selama ini kerap ramai dengan aktivitas wisatawan.

Dua anak harimau Benggala, Huru dan Hara, mati setelah terjangkit virus panleukopenia. Virus mematikan tersebut disinyalir dibawa indukannya hingga membuat dua satwa menggemaskan tersebut tak bisa diselamatkan.

Huru dan Hara lahir dari pasangan induk Shah Rukh Khan (22 tahun) dan Jelita (4,5 tahun) pada 12 Juli 2025. Hara mati terlebih dahulu pada Selasa (24/3), menyusul saudaranya, Hara, pada Kamis (26/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat Hara mati, kondisi Huru sebetulnya dilaporkan membaik pada Rabu (25/3) kemarin. Namun, virus itu menyebabkan penurunan sel darah putih, sehingga Huru mengalami kondisi diare serta muntah-muntah dan nyawanya tak bisa diselamatkan.

ADVERTISEMENT

"Jadi perkembangan terakhir di Kebun Binatang Bandung memang ada sebuah berita yang sangat memprihatinkan. Saya secara pribadi juga sangat sedih mengetahui bahwa dua ekor anak harimau yang yang berusia 8 bulan di Kota Bandung ini kedua-duanya mengalami kematian," kata Wali Kota Bandung Muhammaf Farhan.

Kematian Huru dan Hara sejatinya tak hanya membawa kabar duka. Sejumlah pihak ikut menyesalkan soal proses penanganannya, meski Farhan menjamin segala upaya telah dilakukan.

"Memang virus yang menyerang di seminggu terakhir ini mengalami keganasan yang luar biasa, langsung akut sehingga penanganannya memang tidak sempat mencegah terjadinya kematian. Tentu saja ini menjadi pelajaran yang sangat penting untuk kita," ucapnya.

"Bahwa walaupun beberapa ahli menganggap bahwa panleukopenia ini adalah salah satu virus yang memang banyak menjangkiti. Tetapi ketika menjangkiti kucing besar usia muda ini bisa tingkat fatalitasnya bisa sangat tinggi," tambahnya.

Dua bayi harimau benggala yang lahir di Bandung ZooDua bayi harimau benggala yang lahir di Bandung Zoo Foto: dok Bandung Zoo

Setelah tragedi ini, Farhan memastikan akan ada evaluasi di Bandung Zoo. Salah satu yang jadi sorotan yaitu sektor biosecurity di area tersebut.

"Nah, hal-hal yang bisa kita lakukan sekarang ini tentunya peningkatan biosecurity. Karena bagaimanapun juga Kebun Binatang Bandung ini kan dari dulu pengunjungnya banyak. Sekarang sedang dalam masa penataan ulang dan dekat dengan pemukiman masyarakat. Nah, jadi kita harus betul-betul memperhatikan biosecurity yang ada," ucapnya.

Kemudian, Farhan memastikan akan ada evaluasi. Sebab, Bandung Zoo menurutnya tetap berfungsi sebagai lembaga konservasi dan menjadi rumah untuk hewan endemik di Jawa Barat.

"Lembaga konservasi itu kan punya juga kewajiban seperti kebun binatang ini, jadi kegiatan reproduksi dari satwa langka yang ada di kebun binatang Bandung ini tidak boleh berhenti. Selanjutnya yang belum pernah dilakukan oleh Kebun Binatang Bandung adalah upaya untuk melakukan pelepasliaran, itu nanti akan jadi tujuan," katanya.

"Dan yang ketiga adalah memastikan bahwa satwa langka endemik Jawa Barat pun harus menjadi salah satu yang bisa direproduksi di Kebun Binatang Bandung ini," tambahnya.

Satu hal yang bakal dibenahi adalah meningkatkan faktor biosecurity di Bandung Zoo. Pencegahan juga bakal dimaksimalkan, termasuk segera menunjuk lembaga konservasi untuk pengelola Bandung Zoo.

"Nah tentunya kami harus meningkatkan berbagai macam cara dan metode untuk memastikan, satu biosekurity-nya aman. Kedua penanganan pencegahan juga dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dan yang ketiga tata kelola yang baik yang harus kami selesaikan dalam waktu satu bulan ini," ungkapnya.

"Sehingga sebulan ke depan kita sudah bisa menentukan bersama secara fair gitu ya. Pemerintah akan menunjuk lembaga konservasi berbadan hukum yang bisa dijadikan sebagai mitra dalam skema kerjasama pemanfaatan Kebun Binatang Bandung," tuturnya.

"Saya mohon maaf karena sampai sekarang kita masih demi kepentingan biosecurity, memang Drenten masih belum bisa dibuka sampai kita betul-betul yakin pengelolaannya sudah sangat baik baru kita akan buka nanti untuk masyarakat," ucapnya.

Humas BBKSDA Jabar Ery Mildranaya mengatakan Huru mati pada pagi tadi. Kondisinya ketahuan saat proses pergantian piket jaga di Bandung Zoo.

"Meninggal terjadi pagi hari, sekitar saat pergantian piket petugas," kata Ery saat dikonfirmasi wartawan di Bandung Zoo.

Sebelum mati, kondisi Huru sempat lebih membaik selepas kematian saudaranya, Hara. Bahkan, anak harimau Benggala itu dinyatakan telah melewati fase kritis yang berlangsung hingga 72 jam.

"Sebelumnya, kami sempat memiliki harapan karena berdasarkan keterangan dokter hewan jika satwa bisa bertahan melewati 48 jam, bahkan hingga 72 jam, peluang hidupnya cukup besar. Salah satu anakan sempat menunjukkan perbaikan kondisi, sehingga kami optimistis. Namun, pada akhirnya kondisinya kembali menurun," ungkapnya.

"Gejala yang muncul antara lain muntah-muntah dan diare, bahkan terdapat darah pada feses. Meskipun sempat membaik, kondisi Huru akhirnya kembali menurun hingga tidak tertolong," tandasnya.

Ery mengklaim seluruh pihak sudah mengupayakan penanganan supaya anak harimau Benggala itu bisa selamat. Namun, upaya yang dilakukan ternyata tidak sesuai dengan harapan.

"Banyak pihak yang terlibat dalam perawatan dan pemantauan. Mulai dari Rumah Sakit Cikole, DKPP, BKSDA, hingga tim dari kebun binatang. Semua telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa," ujarnya.

"Hal ini memang menjadi kabar yang sangat memukul. Kami sangat berduka, karena kedua anak harimau tersebut bukan hanya sekadar satwa, tetapi sudah menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Bandung. Kami tidak mengharapkan kejadian ini, karena berbagai upaya maksimal telah dilakukan, namun hasil berkata lain," pungkasnya.




(ral/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads