Sederet Fakta Kematian Huru dan Hara di Bandung Zoo

Sederet Fakta Kematian Huru dan Hara di Bandung Zoo

Tim detikJabar - detikJabar
Jumat, 27 Mar 2026 07:30 WIB
Anak harimau di Bandung Zoo, Senin (22/9/2025)
Anak harimau di Bandung Zoo. Foto: Bima Bagaskara/detikJabar
Bandung -

Kabar duka datang dari Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo. Dua anak harimau Benggala, Huru dan Hara mati setelah terjangkit virus panleukopenia.

Seperti diketahui, Huru dan Hara lahir dari pasangan induk Shah Rukh Khan (22 tahun) dan Jelita (4,5 tahun) pada 12 Juli 2025. Hara mati terlebih dahulu pada Selasa (24/3), menyusul saudaranya, Huru, pada Kamis (26/3).

Berikut 8 fakta dalam kejadian ini:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keterangan BBKSDA Jabar

Humas BBKSDA Jabar Ery Mildranaya mengatakan Huru mati pada pagi tadi. Kondisinya ketahuan saat proses pergantian piket jaga di Bandung Zoo.

"Meninggal terjadi pagi hari, sekitar saat pergantian piket petugas," kata Ery saat dikonfirmasi wartawan di Bandung Zoo.

ADVERTISEMENT

Huru Sempat Membaik Kesehatanya

Sebelum mati, kondisi Huru sempet lebih membaik selepas kematian saudaranya, Hara. Bahkan, anak harimau Benggala itu dinyatakan telah melewati fase kritis yang berlangsung hingga 72 jam.

"Sebelumnya, kami sempat memiliki harapan karena berdasarkan keterangan dokter hewan jika satwa bisa bertahan melewati 48 jam, bahkan hingga 72 jam, peluang hidupnya cukup besar. Salah satu anakan sempat menunjukkan perbaikan kondisi, sehingga kami optimistis. Namun, pada akhirnya kondisinya kembali menurun," ungkapnya.

"Gejala yang muncul antara lain muntah-muntah dan diare, bahkan terdapat darah pada feses. Meskipun sempat membaik, kondisi Huru akhirnya kembali menurun hingga tidak tertolong," tandasnya.

Upaya Medis Sudah Dilakukan

Ery mengklaim seluruh pihak sudah mengupayakan penanganan supaya anak harimau Benggala itu bisa selamat. Namun, upaya yang dilakukan ternyata tidak sesuai dengan harapan.

"Banyak pihak yang terlibat dalam perawatan dan pemantauan. Mulai dari Rumah Sakit Cikole, DKPP, BKSDA, hingga tim dari kebun binatang. Semua telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa," ujarnya.

"Hal ini memang menjadi kabar yang sangat memukul. Kami sangat berduka, karena kedua anak harimau tersebut bukan hanya sekadar satwa, tetapi sudah menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Bandung. Kami tidak mengharapkan kejadian ini, karena berbagai upaya maksimal telah dilakukan, namun hasil berkata lain," terangnya.

Evaluasi Pemkot Bandung

Usai kejadian ini, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memastikan akan ada evaluasi. Sebab, Bandung Zoo menurutnya tetap berfungsi sebagai lembaga konservasi dan menjadi rumah untuk hewan endemik di Jawa Barat.

"Lembaga konservasi itu kan punya juga kewajiban seperti kebun binatang ini, jadi kegiatan reproduksi dari satwa langka yang ada di kebun binatang Bandung ini tidak boleh berhenti. Selanjutnya yang belum pernah dilakukan oleh Kebun Binatang Bandung adalah upaya untuk melakukan pelepasliaran, itu nanti akan jadi tujuan," katanya.

"Dan yang ketiga adalah memastikan bahwa satwa langka endemik Jawa Barat pun harus menjadi salah satu yang bisa direproduksi di Kebun Binatang Bandung ini," tambahnya.

Tingkatkan Biosecurity

Ke depan, Farhan memastikan akan meningkatkan faktor biosecurity di Bandung Zoo. Pencegahan juga bakal dimaksimalkan, termasuk segera menunjuk lembaga konservasi untuk pengelola Bandung Zoo.

"Nah tentunya kami harus meningkatkan berbagai macam cara dan metode untuk memastikan, satu biosekurity-nya aman. Kedua penanganan pencegahan juga dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dan yang ketiga tata kelola yang baik yang harus kami selesaikan dalam waktu satu bulan ini," ungkapnya.

"Sehingga sebulan ke depan kita sudah bisa menentukan bersama secara fair gitu ya. Pemerintah akan menunjuk lembaga konservasi berbadan hukum yang bisa dijadikan sebagai mitra dalam skema kerjasama pemanfaatan Kebun Binatang Bandung," tuturnya.

Walkot Ingin Perbaikan Lebi Optimal

Bandung Zoo saat ini diketahui telah disegel Kementerian Kehutanan. Namun ke depan, Farhan ingin memastikan tata kelola di kawasan tersebut bisa dievaluasi untuk perbaikan yang lebih optimal.

'Tantangannya besar. Saya tahu karena banyak sekali kritik yang mengatakan bagaimana mungkin kalau anak harimau, ini tantangannya di situ. Bahwa memang menuju langkah perbaikanlah tidak semudah itu. Keterbukaan kami dalam hal ini tentu saja menunjukkan bahwa kami ingin masyarakat terlibat secara aktif. Kritik, masukan akan sangat kami perhatikan dengan transparansi yang seperti sekarang ini. Insya Allah kita akan punya rasa memiliki yang kuat terhadap kebun binatang sebagai lembaga konservasi," katanya.

"Saya mohon maaf karena sampai sekarang kita masih demi kepentingan biosecurity, memang Drenten masih belum bisa dibuka sampai kita betul-betul yakin pengelolaannya sudah sangat baik baru kita akan buka nanti untuk masyarakat," terangnya.

Pakar Soroti Biosecurity Bandung Zoo

Kepala Pusat Studi Lingkungan Fakultas Komunikasi Unpad Herlina Agustin mengatakan pihaknya telah berdiskusi dengan dokter hewan terkait kematian anak harimau itu. Menanggapi kejadian ini, Herlina menyoroti aspek biosecurity dan animal welfare.

"Saya diskusi dengan dokter hewan, virus ini bisa bertahan lama di lingkungan tidak bisa hilang cepat dengan disinfektan, jadi saya khawatir ini bukan sekedar virus, ini adanya indikator dalam biosecurity dan manajemen animal welfare," kata Herlina dihubungi detikJabar, Kamis (26/3/2026).

Saat disinggung mengenai biosecurity dan animal welfare di Bandung Zoo, Herlina menyebut sebagai lembaga konservasi, Bandung Zoo semestinya memenuhi kedua standar tersebut.

"Normatif semua kebun binatang punya, masalahnya bukan ada atau tidak, tapi apakah dia menjalankan secara konsisten? Kalau dijalankan konsisten, kok masih ada? Apakah ada alat yang kebersihan yang terpisah dengan antar kandang? Jangan-jangan gunakan satu alat yang sama, bisa jadi menular juga kepada yang lain," ungkapnya.

Pakar Duga Ada Satwa Liar Masuk Bandung Zoo

Herlina juga mempertanyakan kemungkinan adanya satwa liar yang masuk ke kawasan Bandung Zoo, seperti kucing liar. Jika itu terjadi, ia menilai sistem keamanan di sana lemah.

"Kemudian masuk tidak kucing liar? Jangan-jangan karena sudah tidak dipegang manajemen, masuk kucing liar dan binatang liar masuk situ, ini juga perlu perhatian khusus karena kalau bicara biosecurity intinya operasional menyeluruh, ini bukan simbolik, tapi harus dijalankan," jelasnya.

Dalam hal ini, Herlina menilai BBKSDA Jabar memiliki peran strategis. Bukan hanya sebagai regulator, melainkan juga pengawas biosecurity ini.

"Selama ini audit nya gimana? Apakah ada evaluasi? Setiap kematian satwa transparan gak? Jujur gak? Apakah ada yang disembunyikan? Jadi kita perlu melihat pentingnya transparansi dalam hal evaluasi kematian satwa. Terus ada gak BBKSDA melakukan pelatihan bioscurity terhadap pegawai kebun binatang, atau pelatihan yang berkaitan dengan maslah teknis dan bukan sekedar administrasi," terangnya.



(wip/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads