Masjid Agung Garut menjadi salah satu ikon kota berjuluk Swiss van Java. Sejak didirikan lebih dari dua abad lalu, Masjid Agung Garut beberapa kali mengalami renovasi.
Masjid Agung Garut berdiri di atas lahan sekitar 4 ribu meter persegi di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Paminggir, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut. Lokasinya berada di kompleks Pendopo Garut.
Berdasarkan catatan sejarah, Masjid Agung Garut diyakini didirikan pada tahun 1813, tepatnya pada 15 September 1813, bersamaan dengan peletakan batu pertama sarana dan prasarana Garut, sebagai ibu kota baru Kabupaten Garut yang baru.
Menurut Sejarawan Garut Warjita, saat itu, Masjid Agung didirikan bersamaan dengan bangunan Pendopo, penjara, kantor polisi, hingga sebuah bangunan ikonik di antara alun-alun dan Pendopo, bernama Babancong.
"Masjid Agung dibangun bersamaan dengan itu," kata Warjita.
Sebelum tampil dengan megah seperti saat ini, Masjid Agung Garut diketahui pernah beberapa kali mengalami renovasi dan perubahan bentuk, khususnya di bagian atap.
Pada abad ke-19, bagian atap Masjid Agung Garut diketahui berbentuk nyungcung, atau tajuk tumpang tiga. Bentuknya limas dengan alas bujur sangkar atau piramida. Bangunannya khas seperti masjid-masjid agung di Jawa pada periode tersebut.
Memasuki abad ke-20, bentuk atap Masjid Agung Garut tetap berbentuk atap tajuk dengan sejumlah perubahan. Di antaranya adalah perluasan area utama di samping kiri dan kanan masjid. Informasinya, pada tahun 1925, ruang yang berada di samping masjid juga diberi atap tajuk.
Di tahun 1979, atap asli Masjid Agung Garut diubah bentuknya, dari tajuk tumpang tiga, menjadi kubah dengan plat beton. Dua tahun berselang, bentuk kubah dirubah seperti menyerupai kopiah.
Adapun bentuk Masjid Agung Garut saat ini, merupakan hasil renovasi yang dilakukan oleh pemerintah, pada tahun 1994. Dimana, Masjid Agung Garut mengalami renovasi total mulai dari luas hingga bentuk atap.
Atap Masjid Agung Garut kala itu dibuat dengan konsep ala gaya masjid di Timur Tengah, dengan satu kubah yang dikelilingi empat menara di setiap sisinya.
Renovasi Masjid Agung Garut pada tahun 1994 ini, diketahui sangat membetot perhatian publik. Sony MS, wartawan senior asal Kabupaten Garut menjadi salah satu saksi sejarah renovasi masjid tersebut.
"Dulu itu jadi pusat perhatian. Karena selain bentuknya yang menjadi mewah pada zamannya, proses renovasi juga melibatkan helikopter saat pemasangan menaranya. Saya tidak ingat helikopter dari mana, tapi dulu saya sempat mengambil beberapa foto," ucap Sony.
Hingga saat ini, Masjid Agung Garut sendiri masih mempertahankan bentuknya. Berdasarkan catatan detikJabar, Masjid Agung Garut kemudian dikelola oleh Yayasan Masjid Agung Garut mulai tahun 2017 lalu, dengan Ketua Yayasan KH Aceng Irfan Nauval.
Di masa kini, Masjid Agung Garut atau Masjid Alun-alun masih dibanjiri jemaah, di momen bulan Ramadan untuk melaksanakan ibadah tarawih, hingga sholat fardhu. Di 10 hari terakhir Ramadan, Masjid Agung Garut biasanya. dibanjiri jemaah dari berbagai daerah yang melaksanakan itikaf.
(yum/yum)