Jabar Hari Ini: Amukan Si Jago Merah di Pasar Rebo Purwakarta

Jabar Hari Ini: Amukan Si Jago Merah di Pasar Rebo Purwakarta

Tim detikJabar - detikJabar
Selasa, 24 Feb 2026 22:00 WIB
Kebakaran Pasar Rebo di Purwakarta
Kebakaran Pasar Rebo Purwakarta (Foto: Dian Firmansyah/detikJabar).
Bandung -

Beragam peristiwa terjadi di Jawa Barat hari ini, Selasa (24/2/2026). Mulai dari ibu tiri yang diduga menganiaya bocah di Sukabumi mendapatkan pendampingan psikologis, hingga dua bilah parang yang diamankan polisi dari sekelompok pemuda di Bandung.

Berikut rangkuman Jabar hari ini:

Ibu Tiri yang Diduga Aniaya Nizam Dapat Pendampingan Psikolog

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi memberikan pendampingan psikologis kepada TR, ibu tiri dari bocah berinisial NS (12) yang meninggal dunia. TR diduga menganiaya anak sambungnya tersebut. Langkah pendampingan ini diambil atas permintaan kepolisian di tengah derasnya sorotan publik di media sosial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala DP3A Kabupaten Sukabumi Agus Sanusi menyampaikan belasungkawa atas wafatnya NS. Ia menegaskan pihaknya belum bisa memberikan kesimpulan karena masih menunggu hasil pemeriksaan kepolisian dan tim forensik.

"Kami mengucapkan belasungkawa dengan meninggalnya ananda NS. Saat ini kami mengawal bagaimana hasil pemeriksaan pihak polres dan tim forensik. Jadi belum memberikan statement apa pun terkait dugaan segala macam," kata Agus kepada detikJabar di kantornya, Jalan Siliwangi, Kota Sukabumi hari ini.

ADVERTISEMENT

Agus menjelaskan, fokus DP3A saat ini adalah memastikan pendampingan psikologis bagi pihak-pihak yang membutuhkan, termasuk ibu tiri korban.

"Kemarin ibu sambungnya, sesuai dengan permintaan pihak kepolisian," ujarnya.

Ia mengakui kondisi psikologis ibu tiri tersebut tertekan, terlebih setelah kasus ini viral dan beredar berbagai potongan video di media sosial.

"Karena ramainya di medsos itu, tentu ada tekanan psikologis. Makanya kami tidak bisa menyimpulkan atau menyalahkan siapa pun sebelum hasil pemeriksaan keluar," ucapnya.

Selain ibu tiri, DP3A juga menyiapkan pendampingan bagi ibu kandung korban, L. Berdasarkan informasi yang diterima, L berencana melaporkan dugaan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) kepada polisi.

Namun, terkait status pelaporan dan pihak terlapor, Agus menegaskan hal tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan aparat penegak hukum (APH).

"Ranah APH yang berwenang memberikan jawaban. Kami hanya menyiapkan apa yang dibutuhkan, terutama dari sisi pendampingan psikolog," tegasnya.

Mengenai informasi medis yang beredar, Agus menyebut adanya dugaan kondisi kesehatan tertentu berdasarkan keterangan awal, seperti infeksi paru-paru dan kelainan darah. Namun, ia kembali menekankan bahwa kepastian medis tetap menunggu hasil forensik.

"Yang dikhawatirkan dari forensik, apakah ada penyakit seperti infeksi paru-paru atau kelainan darah. Tapi untuk saat ini kami menunggu hasil resminya," katanya.

Agus menambahkan, jika nantinya terbukti ada unsur kekerasan, hal tersebut menjadi pukulan telak bagi DP3A sebagai instansi yang bertugas melindungi perempuan dan anak.

"Kalau memang betul ada kekerasan, tentu ini menjadi tamparan bagi kami. Tapi kami juga terus melakukan sosialisasi pencegahan kekerasan sampai tingkat kecamatan, desa, RW dan RT," ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi sebelum hasil resmi diumumkan. Menurutnya, seluruh proses akan disampaikan secara transparan oleh pihak berwenang.

"Kami mengimbau kepada masyarakat jangan berspekulasi. Kita tunggu hasil pemeriksaan kepolisian dan tim forensik, nanti akan disampaikan secara terbuka," tutupnya.

Warga Bandung Kesal Galian Bikin Kecelakaan

Warga Bandung sedang dibuat kesal dengan galian ducting atau proyek kabel bawah tanah. Pasalnya, proyek itu justru membahayakan bahkan menimbulkan kecelakaan di jalan raya.

Kekesalan itu turut diluapkan warga dalam salah satu unggahan video akun Instagram @sekitarbandungcom. Dilihat detikJabar, seorang pria meluapkan sumpah serapah karena mengalami kecelakaan saat melintas di Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Senin (23/2) malam.

Kasus itu pun mendapat perhatian langsung dari Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Mulanya, ia memastikan sudah meminta target kepada operator proyek, PT Bandung Infra Investama (BII) dan Diskominfo Kota Bandung untuk memberi target mengenai lini masa atau timeline hingga proyek itu selesai.

"Saya sekarang sedang memberikan tengat waktu kepada PT BII dan kepada Diskominfo untuk memberikan timeline waktu kepada saya. Bahwa ketika galian itu dimulai, maka selesainya kapan, ditutupnya kapan. Deadline ini harus diinformasikan kepada media dan masyarakat supaya warga juga punya ekspektasi," katanya di kantor Kelurahan Binong hari ini.

Timeline* itu kata Farhan, dibutuhkan supaya warga bisa punya perhitungan kapan proyek galian itu akan selesai. Malam ini, Farhan meminta supaya *timeline tersebut segera diserahkan.

"Nah itu lagi nunggu waktu perhitungan. Nanti malam harusnya saya udah dapat datanya dari Kadiskominfo yang baru. Kemudian yang kedua juga adalah saya akan melakukan audit ulang terhadap keselamatan," ungkapnya.

"Digali kan ngehalangan jalan tah. Nah, itu teh bagaimana memastikan bahwa setelah galian, sebelum perbaikan, itu bisa menghindarkan para pengguna jalan dari risiko kecelakaan," tambahnya.

Masalahnya kemudian, warga di media sosial mengeluhkan sudah mengalami kecelakaan. Untuk itu, kata Farhan, ia menduga ada yang salah dengan penanganan pencegahan potensi kecelakaan.

"Makanya saya melihat bahwa kayaknya ada yang salah nih dengan penanganan pencegahan kecelakaan tersebut. Jadi desainnya mah kelihatannya bagus tapi kan memang pelaksanaannya tidak semudah itu. Karena si para kontraktornya saya lihat eh belum seragam kerjanya," pungkasnya.

Kebakaran Pasar Rebo Purwakarta

Kebakaran yang melanda Pasar Tradisional Pasar Rebo, Purwakarta, menyisakan kesedihan dan kerugian mendalam bagi para pedagang terdampak. Kobaran api meluluhlantakkan kios tempat mereka mengais rezeki hingga kini tinggal abu dan arang.

Barang dagangan yang baru saja ditambah stoknya untuk pasokan selama bulan Ramadan tak bersisa. Bangunan hingga harta benda di dalamnya ludes dilahap si jago merah.

Acep (52), pedagang sembako di Pasar Rebo tak kuasa menahan tangis saat menceritakan detik-detik api menghanguskan pasar. Tangisnya kembali pecah saat melihat kiosnya telah rata dengan tanah. Ia kebingungan harus memulai dari mana usaha yang telah dirintis belasan tahun silam.

"Dua kios, semuanya habis. Kurang lebih dua ratus jutaan mah ada kerugiannya," ujar Acep sambil mata terus berkaca-kaca hingga meneteskan air mata, Selasa (24/2/2026).

Di tengah kondisi tanpa modal dan barang, Acep kini dipusingkan dengan tanggung jawab yang harus ditunaikan, termasuk kewajiban membayar utang dagang serta rencana pemberian Tunjangan Hari Raya (THR).

"Barang-barang (sembako) itu kan titipan, ngutang, cicilan. Utang tetap harus dibayar. Kondisi usaha kayak gini. Yang penting kita bertanggung jawab, belum lagi mau Lebaran, bingung bayar THR karyawan," katanya.

Meski terpukul, Acep mencoba tetap tegar. Ia berencana kembali melanjutkan usaha dagangnya di Pasar Rebo dan berharap pemerintah dapat memberikan bantuan, terutama terkait relokasi kios agar ia bisa kembali menyambung hidup.

"Mudah-mudahan pemerintah bisa memberikan bantuan kepada para pedagang," pungkasnya.

Sementara itu, Pengelola Pasar Rebo Apip Anwar memperkirakan jumlah kios yang terdampak mencapai lebih dari 200 unit, termasuk lapak kaki lima. Area yang paling parah terbakar berada di bagian belakang pasar.

"Kalau perkiraan hampir 200 kios, bahkan bisa lebih dengan lapak kaki lima. Di dalam itu kebanyakan gudang-gudang sembako, beras, ikan asin," ungkap Apip.

Polisi Amankan 2 Bilah Parang dari Sekelompok Pemuda Bandung

Sekelompok pemuda kembali diamankan Tim Prabu Lodaya Presisi Polrestabes Bandung. Kali ini, 17 orang diamankan saat petugas melakukan patroli rutin menjelang waktu sahur di kawasan Mekarwangi, Kecamatan Bojongloa Kidul, Kota Bandung, Selasa (24/2/2026) pukul 04.17 WIB.

Dalam patroli tersebut, polisi menemukan dua bilah senjata tajam jenis parang dari kelompok pemuda itu.

Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Budi Sartono melalui Kabag Ops Asep Saepudin mengatakan, penindakan bermula saat Tim Prabu melakukan patroli rutin di wilayah hukum Polsek Bojongloa Kidul.

"Pada saat patroli di wilayah Mekarwangi, anggota mendapati sekelompok pemuda. Ketika dihampiri petugas, mereka berusaha melarikan diri," kata Asep kepada wartawan hari ini.

Petugas kemudian melakukan pengejaran. Hasilnya, 17 orang berhasil diamankan, sementara satu orang lainnya lolos dari kejaran aparat.

Menurut Asep, seluruh pemuda yang diamankan langsung dibawa ke Mapolrestabes Bandung untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Dari hasil pemeriksaan awal di lokasi, polisi mengamankan dua bilah parang sebagai barang bukti. "Untuk narkotika, obat-obatan terlarang, maupun minuman keras tidak ditemukan," ujar Asep.

Berdasarkan pendataan awal, sebagian besar pemuda yang diamankan masih berstatus pelajar. Selain pelajar aktif, terdapat pula sejumlah alumni dan satu orang yang telah bekerja. Mereka berasal dari kawasan Cibaduyut dan Sauyunan.

Polisi masih mendalami tujuan kelompok tersebut berkumpul pada dini hari dengan membawa senjata tajam.

"Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya rencana aksi yang berpotensi mengganggu kamtibmas, terutama menjelang sahur dan selama bulan Ramadan," jelasnya.

Ia juga mengimbau para orang tua agar meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak, khususnya pada malam hingga dini hari selama Ramadan.

Asep menegaskan, pihaknya tidak akan menoleransi aktivitas yang berpotensi mengganggu kamtibmas, seperti balapan liar, perang sarung, dan gangguan lainnya selama bulan Ramadan.

"Polrestabes Bandung tidak akan mentolerir pemuda yang masih melakukan balapan liar, perang sarung, atau kegiatan lain yang sangat mengganggu kamtibmas di Kota Bandung, terlebih pada bulan Ramadan," tegasnya.

Ia juga mengimbau agar komunitas atau kelompok mana pun tidak menggelar kegiatan sahur on the road tanpa koordinasi yang jelas. Menurutnya, kegiatan tersebut kerap memicu gesekan antarkelompok dan berujung pada pelanggaran hukum.

"Kami melarang komunitas apa pun melakukan sahur on the road yang dapat memicu terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan," pungkasnya.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video Kakorlantas: Korban Tewas Kecelakaan Turun 25% saat Operasi Lilin 2025"
[Gambas:Video 20detik]
(wip/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads