Di usianya yang menginjak 94 tahun atau hampir satu abad, Mak Encih masih harus berjuang menyambung hidup seorang diri. Di sisa usia yang seharusnya diisi dengan ketenangan, ia justru bertahan di sebuah gubuk tak layak huni, mengandalkan belas kasih tetangga dan tenaga renta yang kian melemah.
Perempuan yang tumbuh pada masa penjajahan Jepang itu pernah memiliki keluarga kecil yang lengkap. Ia tinggal bersama suami dan dua anaknya di Kampung Maga, Desa Pasirbaru, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Kedua anaknya meninggal dunia saat masing-masing berusia 6 dan 7 tahun.
Duka kehilangan anak belum sepenuhnya pulih ketika cobaan kembali datang. Belasan tahun lalu, sang suami menyusul pergi, meninggalkan Mak Encih sebatangkara di dunia yang kian terasa sunyi.
"Emak nyalira tos ti belasan tahun ka pengker (emak sudah sendiri sejak belasan tahun lalu)," ujarnya lirih saat ditemui di gubuknya, Selasa (24/2/2026).
Sejak hidup sendiri, ia sempat berpindah-pindah, menumpang di rumah sanak saudara selama bertahun-tahun. Namun rasa tak enak hati terus membebani pikirannya. Ia tak ingin menjadi beban terlalu lama. Dengan sisa tenaga dan bantuan seadanya, Mak Encih memutuskan membangun gubuk panggung sederhana untuk ditempati hingga akhir hayatnya.
"Alhamdulillah tetangga sama saudara banyak yang bantu emak bangun rumah panggung," katanya.
Kini, rumah panggung berukuran sekitar 3x4 meter dengan dinding bilik itu menjadi satu-satunya tempat berteduh. Di dalamnya, tak ada perabot memadai. Tikar tipis menjadi alas tidur, sementara angin malam yang menembus celah dinding kerap menjadi 'selimut' bagi tubuhnya yang renta.
Lebih memprihatinkan lagi, gubuk itu tak dilengkapi toilet. Untuk mandi atau sekadar buang air kecil, Mak Encih harus berjalan ke rumah tetangga.
"Yang penting emak punya tempat tinggal. Begini saja tetap harus disyukuri," katanya pasrah.
Untuk makan sehari-hari, ia sepenuhnya bergantung pada pemberian tetangga dan kerabat. Tubuh yang hampir seabad usianya itu tak lagi mampu bekerja sebagai buruh tani seperti dulu. Namun sesekali, ia masih berusaha menjual hasil bumi, seperti pisang, demi membeli beras.
Dengan langkah yang ringkih, ia berkeliling kampung, berharap satu atau dua ikat pisang terjual.
"Kalau untuk makan, kadang dikasih tetangga. Kadang juga ada yang ngasih pisang, nantinya dijual untuk beli beras," tuturnya.
Tak banyak yang kini ia harapkan. Bukan harta, bukan pula kemewahan. Hanya tempat tinggal yang sedikit lebih layak untuk menikmati sisa hidupnya.
"Emak mah yang penting sehat, bisa tinggal di rumah yang sedikit lebih nyaman sudah cukup," ucapnya.
Simak Video "Video: Polisi Tangkap 6 Tersangka Baru Kasus Penjualan Bayi ke Singapura"
(dir/dir)