Kisah Engkong Rana, dari Gubuk Reyot ke Harapan Baru di Usia Senja

Kabupaten Kuningan

Kisah Engkong Rana, dari Gubuk Reyot ke Harapan Baru di Usia Senja

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Rabu, 06 Mei 2026 21:00 WIB
Engkong Rana dan rumah baru di Kuningan
Engkong Rana dan rumah baru di Kuningan (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Rana (77), atau yang akrab disapa Engkong Rana, kini menjalani hari-harinya seorang diri di masa senja. Ia tampak duduk termenung di sudut rumah barunya di Desa Karangbaru, Kecamatan Ciwaru, Kabupaten Kuningan, yang belum lama ini selesai direnovasi.

Rana mengisahkan, sejak istrinya meninggal dunia sekitar 20 tahun lalu, ia tinggal di sebuah gubuk dengan kondisi sangat memprihatinkan dan tidak layak huni. Keterbatasan ruang membuatnya harus tidur di sela-sela tumpukan barang bekas.

"Anaknya ada satu cuman ada di Jakarta. Nggak pulang-pulang. Jadi tinggal sendiri. Udah lama sendiri, paling kalau ditemenin juga sama tetangga," tutur Rana, Rabu (6/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski kerap mendapat bantuan dari tetangga, Rana tetap berusaha mandiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia bekerja serabutan sebagai pembersih makam di sekitar tempat tinggalnya, dengan penghasilan yang tidak menentu, maksimal sekitar Rp50.000 per hari.

ADVERTISEMENT

"Kerja di makam makam paling, kalau ada yang minta bantu bantu bebersih. Nggak menentu kalau penghasilan mah. Kadang dibantu juga sama tetangga untuk kebutuhan sehari harinya mah," tutur Rana.

Engkong Rana dan rumah baru di KuninganEngkong Rana dan rumah baru di Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

Kini, setelah rumahnya diperbaiki, rasa syukur tak henti diucapkan Rana. Ia berharap kondisi kesehatannya tetap terjaga agar bisa terus beraktivitas.

"Alhamdulillah. Senang sudah dibenerin rumahnya. Alhamdulillah. Harapannya ke depan semoga sehat saja, bisa kerja lagi," tutur Rana.

Ketua Yayasan Sedekah Kebaikan, Sari Maryati, yang menginisiasi pembangunan rumah tersebut, menjelaskan bahwa sebelumnya hunian Rana hanya berupa gubuk dengan kondisi atap bocor, lantai tanah, dan dipenuhi barang bekas.

Melalui program perbaikan rumah tidak layak huni (Rutilahu), pihaknya berharap Rana dapat menikmati masa tua di tempat tinggal yang lebih layak dan nyaman.

"Awalnya tuh rumahnya gubuk, bawahnya masih tanah, udah bolong-bolong, pokoknya sudah tidak layak Saya mau duduk di mana saja waktu penyaluran sembako saya bingung, karena udah nggak ada tempat duduk sedikitpun. Kita pembangunan ini selama satu bulan dari nol. Jadi kita robohkan semuanya, kita hancurkan, jadi kita bangun baru. Untuk pembangunannya selama sebulan," pungkas Maryati.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads