Kisah Haru Mak Encih Hadapi Kesepian di Usia Nyaris Satu Abad

Kabupaten Cianjur

Kisah Haru Mak Encih Hadapi Kesepian di Usia Nyaris Satu Abad

Ikbal Selamet - detikJabar
Selasa, 24 Feb 2026 18:30 WIB
Mak Encih Cianjur
Mak Encih Cianjur (Foto: Ikbal Selamet/detikJabar)
Cianjur -

Di usianya yang menginjak 94 tahun atau hampir satu abad, Mak Encih masih harus berjuang menyambung hidup seorang diri. Di sisa usia yang seharusnya diisi dengan ketenangan, ia justru bertahan di sebuah gubuk tak layak huni, mengandalkan belas kasih tetangga dan tenaga renta yang kian melemah.

Perempuan yang tumbuh pada masa penjajahan Jepang itu pernah memiliki keluarga kecil yang lengkap. Ia tinggal bersama suami dan dua anaknya di Kampung Maga, Desa Pasirbaru, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Kedua anaknya meninggal dunia saat masing-masing berusia 6 dan 7 tahun.

Duka kehilangan anak belum sepenuhnya pulih ketika cobaan kembali datang. Belasan tahun lalu, sang suami menyusul pergi, meninggalkan Mak Encih sebatangkara di dunia yang kian terasa sunyi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Emak nyalira tos ti belasan tahun ka pengker (emak sudah sendiri sejak belasan tahun lalu)," ujarnya lirih saat ditemui di gubuknya, Selasa (24/2/2026).

Sejak hidup sendiri, ia sempat berpindah-pindah, menumpang di rumah sanak saudara selama bertahun-tahun. Namun rasa tak enak hati terus membebani pikirannya. Ia tak ingin menjadi beban terlalu lama. Dengan sisa tenaga dan bantuan seadanya, Mak Encih memutuskan membangun gubuk panggung sederhana untuk ditempati hingga akhir hayatnya.

ADVERTISEMENT

"Alhamdulillah tetangga sama saudara banyak yang bantu emak bangun rumah panggung," katanya.

Kini, rumah panggung berukuran sekitar 3x4 meter dengan dinding bilik itu menjadi satu-satunya tempat berteduh. Di dalamnya, tak ada perabot memadai. Tikar tipis menjadi alas tidur, sementara angin malam yang menembus celah dinding kerap menjadi 'selimut' bagi tubuhnya yang renta.

Lebih memprihatinkan lagi, gubuk itu tak dilengkapi toilet. Untuk mandi atau sekadar buang air kecil, Mak Encih harus berjalan ke rumah tetangga.

"Yang penting emak punya tempat tinggal. Begini saja tetap harus disyukuri," katanya pasrah.

Untuk makan sehari-hari, ia sepenuhnya bergantung pada pemberian tetangga dan kerabat. Tubuh yang hampir seabad usianya itu tak lagi mampu bekerja sebagai buruh tani seperti dulu. Namun sesekali, ia masih berusaha menjual hasil bumi, seperti pisang, demi membeli beras.

Dengan langkah yang ringkih, ia berkeliling kampung, berharap satu atau dua ikat pisang terjual.

"Kalau untuk makan, kadang dikasih tetangga. Kadang juga ada yang ngasih pisang, nantinya dijual untuk beli beras," tuturnya.

Tak banyak yang kini ia harapkan. Bukan harta, bukan pula kemewahan. Hanya tempat tinggal yang sedikit lebih layak untuk menikmati sisa hidupnya.

"Emak mah yang penting sehat, bisa tinggal di rumah yang sedikit lebih nyaman sudah cukup," ucapnya.

Bantuan Mengalir untuk Mak Encih

Kisah Mak Encih yang hidup sebatangkara di rumah tak layak huni akhirnya sampai ke telinga berbagai pihak. Aparat kepolisian pun turun tangan.

Kapolres Cianjur AKBP A. Alexander Yurikho Hadi mengatakan pihaknya bersama jajaran Polda Jabar langsung mendatangi lokasi setelah menerima informasi tersebut.

"Begitu mendapatkan kabar kami langsung ke lokasi, mengecek langsung apa saja kebutuhan untuk Mak Encih," ujarnya.

Kediaman Mak Encih di CianjurKediaman Mak Encih di Cianjur Foto: Ikbal Selamet/detikJabar

Ia memastikan seluruh kebutuhan Mak Encih akan ditanggung. Rumahnya pun akan dibangun ulang agar lebih layak huni.

"Kami akan bangun rumahnya agar lebih nyaman, termasuk membuatkan toilet agar Mak Encih tidak perlu lagi berjalan jauh. Kasian, apalagi kalau harus jalan kaki ke rumah tetangga saat malam hari. Peralatan rumah, termasuk tempat tidur pun akan kami siapkan," katanya.

Pembangunan rumah layak huni itu ditargetkan rampung dalam beberapa hari ke depan.

"Rencananya hari ini mulai dibongkar bangunan lamanya, kemudian langsung diperbaiki. Secepatnya program tali asih ini rampung, sehingga Mak Encih bisa tinggal di rumah yang lebih layak huni," ujarnya.

Sementara itu, Kasi Kesra Desa Pasirbaru Cengceng Samsul Hidayat menyebutkan Mak Encih telah terdaftar sebagai penerima bantuan sosial. Namanya masuk dalam daftar penerima BLT Dana Desa prioritas tahun anggaran 2026.

"Untuk bantuan sosial selalu dapet, mulai dari BLT DD tahun lalu, BPNT, dan terbaru kami sudah masukan dalam daftar penerima BLT DD prioritas tahun ini," katanya.

Namun, ia mengakui bantuan untuk perbaikan rumah sempat terkendala karena status lahan yang bukan milik pribadi.

"Untuk program rutilahu pemerintah memang sulit, karena status lahan. Makanya kami bersyukur ada bantuan dari berbagai pihak, salah satunya dari kepolisian untuk Mak Encih ini," ujarnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Polisi Tangkap 6 Tersangka Baru Kasus Penjualan Bayi ke Singapura"
[Gambas:Video 20detik] (dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads