Tanah yang sebelumnya tak bisa dipijak, kini bebas dilalui. Permukaannya sudah mengering, kering dan debu berterbangan ketika ditiup angin yang berembus dari arah Gunung Burangrang.
Material longsor yang memporak-porandakan 48 rumah di Kampung Pasir Kuning, Babakan, dan Kampung Pasir Kuda berubah jadi lahan tandus, berantakan, namun menyimpan luka dan duka.
Longsor yang terjadi pada 24 Januari itu merenggut nyawa 80 orang yang tengah terlelap. Di pukul 03.00 WIB, saat tubuh terbaring lelap atas kasur, longsor menerjang kampung tanpa aba-aba sebelumnya.
Dari kejauhan, alat berat mulai bergerak meninggalkan sektor A1, area pencarian korban longsor di Kampung Pasir Kuda. Di sisi lainnya, beberapa orang duduk tanpa alas di tanah merah yang menelan kerabat mereka. Sabtu (14/2/2026), Basarnas resmi menghentikan operasi pencarian korban longsor usai 22 hari pelaksanaan.
SAR Mission Coordinator (SMC), Ade Dian Permana, menyebut ada sekitar 20 korban lagi yang belum ditemukan. Namun batas waktu yang sudah ditentukan sebelumnya, mengharuskan mereka menyudahi upaya kemanusian menemukan jasad korban.
Keluarga yang ditinggalkan tak bisa protes. Mereka ikhlas, namun tetap menjaga asa tubuh keluarga yang diyakini sudah tak lagi utuh tetap bisa ditemukan demi dikebumikan secara layak.
"Mau bagaimana lagi, kami sudah berusaha dengan Basarnas, relawan tapi tetap belum ditemukan. Kami ikhlas, tapi tetap berharap nanti bisa ditemukan jasadnya," kata Ai Neni (36), salah seorang warga yang anggota keluarganya masih belum ditemukan, Sabtu (14/2/2026).
Simak Video "Video: Pencarian Pelatih Valencia di Labuan Bajo Libatkan Tokoh Adat"
(mso/mso)