Lumbung Pangan di Balik Pesona Wisata Pangandaran

Aldi Nur Fadillah - detikJabar
Kamis, 05 Feb 2026 21:00 WIB
Ilustrasi pertanian di Pangandaran (Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar).
Pangandaran -

Selama ini, mendengar nama Pangandaran identik dengan wisata alam yang indah. Namun, daerah ini ternyata memiliki denyut ekonomi lain yang tak kalah kuat, yakni sektor pertanian.

Selain pariwisata, sektor pertanian menjadi penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar di Kabupaten Pangandaran, hingga menjadikannya sebagai lumbung pangan.

Tahun 2024 menjadi catatan gemilang bagi petani setempat. Produksi padi melonjak drastis hingga 210.540 ton, naik signifikan sebesar 68.382 ton dibandingkan perolehan tahun 2023.

Produktivitas hasil pertanian kini rata-rata mencapai 5,05 ton per hektare. Selain padi, komoditas lain yang memiliki potensi unggul adalah jagung.

Jagung mencatatkan kenaikan signifikan, dari hanya 343,67 ton pada 2023, melesat menjadi 3.413,33 ton pada 2024. Begitu pula dengan ubi jalar yang terus meningkat sejak 2021. Kondisi ini membuktikan sektor pangan sangat menjanjikan.

Pada sektor hortikultura, Pangandaran juga menjelma menjadi penghasil sayur-sayuran. Produksi cabai rawit, misalnya, mencapai 2.556 ton pada 2024, disusul cabai merah sebesar 2.265 ton.

Angka tersebut membuktikan sektor pertanian menjadi pertahanan utama dalam menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi. Kondisi ini mempertegas bahwa Pangandaran bukan sekadar daerah wisata, melainkan juga lumbung pertanian.

Potensi tersebut menjadi peluang besar bagi daerah. Namun, sektor ini sering kali tak tampak di permukaan.

Dengan potensi yang ada, Pangandaran membuktikan diri bukan sekadar tempat untuk berlibur, melainkan lumbung pangan di Jawa Barat.



Simak Video "Bernyanyi Riang di Alam Curug, Pangandaran"


(mso/mso)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork