Longsor di kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu (24/1/2026) sore menyisakan duka mendalam. Sedikitnya 30 rumah rusak berat hingga rata dengan tanah. Aktivitas masyarakat pun terhenti, termasuk kegiatan wisata dan pendakian di kawasan Gunung Burangrang.
Pasalnya, material longsor berupa lumpur dan tanah dari perbukitan di kaki Gunung Burangrang menyapu pemukiman warga. Sehingga, penutupan jalur dilakukan sebagai langkah mitigasi risiko terhadap potensi longsor susulan.
Dua jalur resmi yang ditutup saat ini adalah jalur Mentari dan Legok Haji. Gunung Burangrang sejak lama dikenal sebagai gunung bersejarah di Jawa Barat, yang berusia lebih tua dari Gunung Tangkubanperahu. Berikut ulasan profil Gunung Burangrang selengkapnya.
Profil Gunung Burangrang
Gunung Burangrang merupakan gunung api tidak aktif yang berada di Pulau Jawa. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 2.050 meter di atas permukaan laut. Secara geologis, Burangrang merupakan sisa dari letusan besar Gunung Sunda Purba pada masa prasejarah.
Gunung ini berlokasi di wilayah dua kabupaten, yakni Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Bandung Barat. Burangrang termasuk dalam rangkaian Pegunungan Sunda Purba yang mengelilingi wilayah Bandung Raya.
Dibandingkan Gunung Tangkuban Perahu, nama Gunung Burangrang mungkin kurang populer di kalangan wisatawan. Namun, akses menuju kawasan ini relatif mudah. Jalur menuju kaki gunung dapat ditempuh dari Bandung maupun Purwakarta melalui jalan beraspal.
Puncak Gunung Burangrang diperkirakan hanya sekitar 25 meter persegi. Meski terbilang tidak terlalu luas, namun puncak gunung ini tetap menjadi daya tarik bagi para pendaki karena panorama alam yang terbuka dan sejuk.
Terlebih, Gunung Burangrang memiliki sejumlah objek wisata alam yang memanjakan mata. Dua air terjun yang terkenal berada di kawasan gunung tersebut adalah Curug Cijalu yang berada di ketinggian sekitar 1.300 meter dan Curug Putri.
Pendaki yang meniti Gunung Burangrang melalui jalur Legok Haji juga dapat singgah ke Curug Cipalasari. Air terjun ini menjadi lokasi favorit untuk beristirahat dan menikmati suasana alam.
Di area puncak Gunung Burangrang, terdapat Tugu Triangulasi setinggi sekitar 2,5 meter. Tugu ini menjadi spot populer untuk berfoto sekaligus penanda titik puncak gunung.
Gunung Burangrang juga kerap dimanfaatkan sebagai lokasi pendidikan dan latihan dasar bagi komunitas pecinta alam. Beberapa kawasan di sekitarnya, seperti Situ Lembang, termasuk dalam area militer yang berada di bawah pengelolaan Pusdikpassus.
Secara administratif, kawasan hutan Gunung Burangrang telah ditetapkan sebagai cagar alam melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 479/Kpts/Um/9/1979 dengan luas sekitar 2.700 hektare. Status ini menegaskan peran Burangrang sebagai kawasan konservasi yang dilindungi.
Kondisi Geografis dan Iklim Kawasan Burangrang
Secara geografis, kawasan Cagar Alam Gunung Burangrang terletak pada koordinat sekitar 107°31'7" hingga 107°32'56" Bujur Timur dan 6°41'45" hingga 6°43'18" Lintang Selatan. Wilayah ini berada di sejumlah kecamatan di Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta.
Topografi kawasan Burangrang didominasi oleh wilayah pegunungan dengan kontur berbukit dan curam. Kemiringan lahan bervariasi, mulai dari area landai, bergelombang, hingga lereng terjal berbatu.
Curah hujan di kawasan ini tergolong sangat tinggi, yakni mencapai sekitar 5.200 milimeter per tahun. Tingginya curah hujan ini menjadi salah satu faktor risiko terjadinya longsor, terutama di wilayah kaki gunung.
Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson, kawasan Burangrang termasuk dalam tipe iklim B dengan nilai Q sekitar 20 hingga 33 persen. Bulan basah umumnya terjadi dari Oktober hingga Juni, sedangkan periode kering berlangsung dari Juli hingga September. Kondisi iklim yang lembab dan basah ini mendukung pertumbuhan vegetasi lebat.
(iqk/iqk)