Psikiater Ingatkan Gen Z-Alpha soal Bahaya Curhat Kondisi Mental ke AI

Psikiater Ingatkan Gen Z-Alpha soal Bahaya Curhat Kondisi Mental ke AI

Nafilah Sri Sagita K - detikJabar
Minggu, 30 Nov 2025 07:00 WIB
Ilustrasi kesehatan mental.
Ilustrasi kesehatan mental. (Foto: Shutterstock)
Jakarta -

Tren penggunaan artificial intelligence (AI) seperti ChatGPT untuk menilai kondisi kesehatan mental meningkat di kalangan anak muda. Psikiater Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), dr Kristiana Siste, mengingatkan bahwa kebiasaan ini berisiko menyesatkan karena AI tidak dirancang untuk menegakkan diagnosis klinis.

dr Siste melihat banyak remaja dan dewasa muda kini bergantung pada chatbot, mulai dari mencari tahu kepribadian hingga menanyakan kemungkinan gangguan mental.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"AI ini kan sering kali digunakan oleh gen Z dan gen Alpha untuk menanyakan 'Aku kepribadiannya apa? Introvert atau extrovert? Aku depresi nggak sih?'" ujarnya di Jakarta, Rabu (26/11/2025).

Menurut dia, sejumlah pasien bahkan menjadikan AI sebagai tempat bercerita ketika merasa kesepian. Minimnya komunikasi dalam keluarga membuat anak muda lebih nyaman berbagi keluhan kepada chatbot dibanding kepada orang tua atau orang terdekat.

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan bahwa AI memang dapat berfungsi sebagai alat skrining awal, termasuk untuk mendeteksi kecanduan internet, game, atau judi online. Namun, hasil yang diberikan sering kali keliru, berlebihan, atau tidak sesuai konteks sehingga tidak dapat dijadikan dasar untuk diagnosis klinis.

Risiko Self-Diagnosis

dr Siste menyoroti fenomena pengguna yang mempublikasikan hasil "diagnosis" AI ke media sosial dan melakukan self-treatment tanpa melibatkan tenaga profesional. Langkah ini dinilai berbahaya karena gejala yang tampak serupa sering memiliki penyebab berbeda dan memerlukan penanganan medis.

Ia juga melihat kecenderungan anak muda semakin menarik diri dari lingkungan sosial akibat ketergantungan pada chatbot. Mereka merasa lebih dipahami oleh AI dibanding manusia.

dr Siste menegaskan bahwa AI harus ditempatkan sebagai alat pendukung, bukan pengganti tenaga kesehatan profesional. Ia menilai pendampingan keluarga penting agar penggunaan teknologi tidak makin menggeser komunikasi di rumah.

"AI bagus jika digunakan bersama-sama oleh keluarga. Orang tua harus mengerti dulu lalu mengajak anaknya berinteraksi bersama," tegasnya.

Artikel ini telah tayang di detikHealth.




(naf/sud)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads