Kisah Perjuangan Dewi, Lahirkan Gempita di Posko Pengungsian

Gempa Cianjur

Kisah Perjuangan Dewi, Lahirkan Gempita di Posko Pengungsian

Sudirman Wamad - detikJabar
Kamis, 24 Nov 2022 19:15 WIB
Dewi bersama bayi mungilnya Gempita saat di pengungsian.
Dewi bersama bayi mungilnya Gempita saat di pengungsian (Foto: Sudirman Wamad/detikJabar).
Cianjur -

Suasana tenda pengungsian korban gempa di Lapangan Cariu Desa Mangunkerta, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, begitu ramai. Para orang tua sibuk mengasuh anak-anaknya.

Tenda yang tampak ramai itu memang penuh cerita. Duka dan kebahagiaan hadir beriringan. Kebahagian itu hadir dalam rumah tangga Rahmat (40) dan Dewi (38). Dewi melahirkan putri lucu yang diberi nama Gempita Shalihah Kamil. Nama buah hatinya itu diberikan oleh Gubernur Jabar Ridwan Kamil.

Gempita lahir di posko pengungsian untuk persalinan. Cerita persalinan Dewi itu penuh ketegangan. Ibu empat anak itu berjuang menyambut kebahagiaan putrinya.

Saat ditemui detikJabar, Dewi tengah meninabobokan Gempita, anak keempatnya itu. Ia tampak ramah. Gempita pun tak rewel saat ibunya berbincang-bincang. Sesekali, tangan kanan Dewi menepuk penuh kasih sayang Gempita.

"Waktu itu tegang banget. Pas lahiran memang di posko. Alhamdulillah lancar," kata Dewi saat ditemui detikJabar di posko pengungsian, Kamis (24/11/2022).

Perasaan aneh menghinggapi Dewi dan Rahmat. Saat kesedihan merundung keluarga ini, kebahagian datang dari tangis pertama Gempita.


"Rumah saya ambruk. Tapi, ada perasaan bahagia. Ada musibah, ada berkah. Campur aduk pokoknya," ucap Dewi.

Usia kandungan Dewi saat melahirkan memang sudah cukup bulan. Hari perkiraan lahir (HPL) Gempita itu tanggal 25 November. Tiga hari sebelum memasuki HPL, tepatnya pada Selasa (22/11), Gempita lahir.

Sempat Terjatuh

Sehari sebelum Gempita lahir, gempa mematikan mengguncang Cianjur. Saat itu, Dewi sedang melaksanakan salat Zuhur. Dewi merasakan guncangan saat melaksanakan tahiyat akhir salat. Rumahnya bergetar.

Usai salat, Dewi langsung lari keluar kamarnya. Ia kaget melihat air di akuarium rumahnya bergoyang dan terjatuh. Kepanikan langsung menyerang Dewi yang kala itu masih mengandung Gempita.

"Saya langsung lari, masih pakai mukenah. Terus terjatuh karena terpeleset air akuarium. Bangkit lagi, lari ke luar rumah," kata Dewi.

"Saya langsung teriak ke anak saya yang pertama, namanya Deswita. Anak saya langsung lari juga, menyelamatkan adiknya dulu yang lagi tidur. Alhamdulillah selamat semua," ucap Dewi menambahkan.

Setelah Dewi dan anaknya berhasil menyelamatkan diri. Rumahnya ambruk seketika. Dewi langsung panik dan menelpon suaminya, Rahmat yang sedang bekerja di Bogor. Ia meminta Rahmat pulan untuk menemaninya memeriksa Gempita.

"Saya itu hampir ketindihan lemari. Telat sedikit bisa tertimpa. Saya langsung keluar kamar, terus lemari jatuh," katanya.

"Saya khawatir dengan kandungan. Setelah suami datang, saya langsung memeriksa ke puskesmas," tutur Dewi menambahkan.

Detak Jantung Tak Terdeteksi

Dewi kembali panik. Detak jantung Gempita saat berada di kandungan sempat tak terdeteksi. Ia pun berusaha memancing Gempita. Perutnya langsung dielus-elus. Ditepuk-tepuk dengan lembut.

"Setelah ditepuk. Akhirnya terdeteksi detak jantungnya. Sempat tidak terasa di alat periksa tuh, sekitar 10 menit baru terdengar lagi detaknya. Mungkin karena kaget ya bayinya," ucap Dewi.

Pemeriksaan kandungan di puskesmas itu dilakukan sore hari setelah kejadian gempa. Pas waktu menjelang pagi. Dewi mengalami kontraksi. Sekitar 12 jam lebih Dewi menantikan kelahiran Gempita.

"Subuh itu pembukaan pertama. Akhirnya dibawa ke posko melahirkan. Sekitar pukul 18.30 WIB, lahiran. Jadi dari Subuh sampai jelang Isya kira-kira ya," ucapnya.

Momen Tak Terduga

Suami Dewi, Rahmat harus libur kerja. Ia menemani istrinya di tenda pengungsian. Pun mengasuh anak-anaknya. Rahmat mengaku merasakan kepanikan saat istrinya menelpon.

"Alhamdulillah istri saya tidak apa-apa meski sempat terjatuh. Dan, proses lahirannya pun lancar," ucap Rahmat yang mengenakan sarung itu.

Rahmat tak menyangka anak keempatnya lahir dalam keadaan darurat. Pikirannya buyar. Bahagia dan kekhawatiran datang bersamaan. Sebab, kondisi ibunya juga sedang tak baik-baik saja.

"Momen yang tak terduga. Ada bahagia, ada sedih. Semoga kita semua diberikan kekuatan," ucap Rahmat.

(sud/mso)