Pakar Unpad: Penyebab Gempa Cianjur M 5,6 Bukan Sesar Cimandiri

Pakar Unpad: Penyebab Gempa Cianjur M 5,6 Bukan Sesar Cimandiri

Bima Bagaskara - detikJabar
Kamis, 24 Nov 2022 10:39 WIB
Bangunan sekolah rusak akibat gempa Cianjur
Bangunan sekolah rusak akibat gempa Cianjur (Foto: Ikbal Selamet/detikJabar)
Bandung -

Gempa bumi berkekuatan M 5,6 mengguncang Cianjur dan meluluhlantakkan kota. Sebanyak 268 orang meninggal dunia akibat gempa dahsyat tersebut.

Gempa bumi Cianjur diduga kuat bersumber dari sesar Cimandiri yang membentang dari Teluk Pelabuhan Ratu sampai sekitar Padalarang. Namun pakar dari Universitas Padjajaran (Unpad) ragu akan hal tersebut.

Dosen Fakultas Teknik Geologi Unpad Ismawan mengatakan salah satu yang mendukung hipotesis tersebut adalah lokasi episenter gempa yang berada jauh dari bentangan Sesar Cimandiri.


"Yang jelas, saya yakin ini bukan bagian dari sesar Cimandiri, meskipun arahnya sama," kata Ismawan dalam keterangan yang diterima detikJabar, Kamis (24/11/2022).

Ismawan mengungkapkan, kawasan Cugenang yang menjadi episenter gempa Cianjur berjarak sekitar 10 kilometer di sebelah utara dari jalur patahan sesar Cimandiri. Dugaan ini juga diperkuat dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa lebar dari sesar Cimandiri adalah berkisar 8-10 meter.

Selain itu kata dia, kontur dari sesar Cimandiri memiliki kemiringan ke arah selatan, sehingga lokasi episenter gempa dengan kedalaman 10 kilometer dipastikan berada di luar jalur sesar tersebut.

Lebih lanjut menurut Ismawan, kemungkinan besar gempa bumi Cianjur itu diakibatkan oleh pergerakan sesar baru yang belum banyak diketahui orang karena bisa jadi jejak pelurusan sesar tersebut tertutupi oleh beberapa faktor, salah satunya yang dekat dengan Gunung Gede sehingga tertutup endapan gunung api.

"Ini dimungkinkan karena kalau sesar lama biasanya ada jejak-jejak pelurusan yang menunjukkan bahwa di situ ada sesar. Di sana karena batuan vulkanik, jejak pelurusannya itu kelihatan tidak ada," ujarnya.

Ia menjelaskan, jika melihat dari focal mechanism gempa Cianjur, ada dua kemungkinan jalur sesar yang belum teridentifikasi tersebut, yaitu: barat-timur atau utara-selatan. Namun, kemungkinan besar jalur sesar tersebut mengarah barat-timur.

Bukan Aktivitas Gunung Api

Ismawan juga menyanggah bahwa gempa bumi tersebut diakibatkan oleh aktivitas gunung api. "Justru sebaliknya, dikhawatirkan aktivitas sesar tersebut apakah akan memicu aktivitas vulkanik atau tidak," jelasnya.

Masih kata Ismawan, gempa Cianjur memiliki kekuatan yang cukup besar yang diperparah dengan lokasi episenter yang berada di daratan serta kedalaman gempa yang cukup dangkal, yaitu 10 kilometer. Hal itulah yang kemudian menyebabkan dampak yang cukup dahsyat.

"Sesar-sesar yang di darat memang tidak akan menimbulkan tsunami, tetapi akibat primernya itu gedung-gedung banyak yang roboh. Kalau kedalamannya cukup dangkal, gempa kecil pun bisa merusak," ujarnya.

Karena itu, peristiwa gempa Cianjur menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat yang hidup di kawasan patahan. Analisis mengenai gempa dipicu pergerakan sesar baru menandakan bahwa bisa jadi ada banyak sesar baru yang belum teridentifikasi dan dapat memicu gempa cukup serius.

"Kemarin kejadian satu daerah yang selama ini tidak disinggung ada patahan ternyata menghasilkan gempa bumi cukup besar. Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran," tutup Ismawan.

(bba/yum)