Di Balik Selamatnya Ratusan Pencari Ilmu dari Gempa Cianjur

Di Balik Selamatnya Ratusan Pencari Ilmu dari Gempa Cianjur

Whisnu Pradana - detikJabar
Kamis, 24 Nov 2022 14:30 WIB
Ponpes di Cianjur yang nyaris terguling usai diguncang gempa.
Ponpes di Cianjur yang nyaris terguling usai diguncang gempa. (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Cianjur -

Syukur dipanjatkan Ujang (59), guru ngaji di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mubarok, Kampung Cisarua, Desa Sarampad, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur.

Itu karena seratusan santri putra dan putri yang menuntut ilmu agama untuk bekal di akhirat kelak selamat tanpa berkurang seorang pun usai gempa 5,6 magnitudo mengguncang Cianjur pada Senin (21/11/2022) lalu.

Padahal saat itu Ujang dan semua santrinya sedang berada di dalam ruangan tempat mereka biasa menggelar majelis ilmu. Getaran bangunan akibat guncangan gempa membuat semuanya panik dan lari tunggang langgang.


"Alhamdulillah semua santri selamat, nggak ada yang sampai jadi korban meninggal. Kalau yang luka ada, tapi cuma luka ringan aja kena reruntuhan bangunan," kata Ujang saat ditemui di lokasi pesantren, Kamis (24/11/2022).

Menurut Ujang, Allah SWT melindungi ia dan santri-santrinya. Sebab jika melihat kondisi bangunan pesantren yang rusak parah hingga fondasinya terangkat dari tanah, bukan tidak mungkin ada korban jiwa.

"Bangunannya kan hancur semua, tapi alhamdulillah nggak sampai ada yang tertimbun. Sekarang sudah nggak boleh dimasukin orang dulu, bahaya bisa ambruk soalnya," ucap Ujang.

Padahal bangunan tetangganya tepat di sebelah pesantren yang mengalami kondisi kerusakan serupa, menelan korban jiwa. Dua penghuninya tewas tertimbun reruntuhan dan baru ditemukan Tim Sar saat mendekati tengah malam.

"Kalau tetangga rumahnya sama mau ambruk juga, terus ada yang meninggal dua orang. Tertimbun reruntuhan," ujar Ujang.

Saat ini pelaksanaan pembelajaran di ponpes tersebut diliburkan sepenuhnya sampai waktu yang tak ditentukan. Pun demikian dengan santri-santrinya yang dipulangkan kepada keluarganya masing-masing.

"Di sini sisa 6 orang santri pria, mereka sengaja nggak mau pulang. Katanya bantu-bantu di sini saja, untuk tidur ikut warga lain di penginapan. Kita juga ajak warga ngaji kalau malam, biar semuanya tenang," ungkap Ujang.

(orb/orb)