Kesaksian Warga Panumbangan Saat Gempa: Jalanan Seperti Gerakan Ular

Gempa Cianjur

Kesaksian Warga Panumbangan Saat Gempa: Jalanan Seperti Gerakan Ular

Sudirman Wamad - detikJabar
Kamis, 24 Nov 2022 13:41 WIB
Kampung Panumbangan Desa Cibulakan, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, hancur diguncang gempa M 5,6 pada Senin (21/11/2022) lalu.
Kampung Panumbangan Cianjur, hancur diguncang gempa M 5,6 pada Senin (21/11/2022) lalu.
Cianjur -

Kampung Panumbangan Desa Cibulakan, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, hancur diguncang gempa M 5,6 pada Senin (21/11/2022) lalu. Warga bertahan di tenda pengungsian yang dibangun di area terbuka.

Salah seorang koordinator posko pengungsian RW 01 Panumbangan Andri (44) mengingat betul bagaimana dahsyatnya gempa yang menghancurkan kampungnya. Sebanyak 271 orang meninggal dunia, berdasarkan laporan terakhir BNPB. Siang yang menakutkan.

Saat guncangan terjadi, Andri saat itu sedang berkendara. Ia baru selesai mengajar di SMPN 5 Cibeber. Andri adalah guru honorer. Tepat setelah Soeharto lengser, Andri mulai mengajar sembari kuliah. Senin (21/11/2022) kemarin, siang yang tak terbayang dalam pikiran Andri. Pikiran Andri kala itu fokus pada anak ketiganya. Ia berjanji bakal pulang membawa susu soya. Sebab, anak ketiga Andri itu alergi susu sapi.


Di tengah perjalanan pulang, Andri merasa oleng. Tanah tiba-tiba bergelombang. Ia pun jatuh dari kendaraannya. Kejadian itu masih di sekitar wilayah Kecamatan Cugenang. "Rasanya jalanan itu seperti ular bergerak. Meliuk-liuk gitu. Saya jatuh dari motor, tertindih motor juga kaki saya," ucap Andri sembari tangannya meliuk-liuk memperagakan gerakan ular saat berbincang dengan detikJabar, Kamis (24/11/2022).

Rasa sakit di kakinya seakan sirna. Sejumlah rumah tiba-tiba runtuh di depannya. Andri langsung berdiri dan tancap gas. Ia memikirkan keselamatan anak yang sedang di rumah bersama neneknya. Anaknya masih berusia dua tahunan.

Akses menuju rumah Andri itu tak mulus. Sudah tertutup reruntuhan. Ia makin panik. Setibanya di rumah, Andri langsung mengucap syukur. Guru honorer itu tak menyangka lemari rumahnya melindungi anak ketiganya. "Anak saya sedang tidur. Pas kejadian rumah saya ambruk. Atas kuasa Allah, anak saya selamat di dekat lemari. Lemari ini menahan reruntuhan," kata Andri.

Andri menunjukkan foto anak ketiganya seraya mengucap syukur. Andri juga menunjukkan lokasi anaknya nyaris tertimpa reruntuhan. "Itu lemarinya, posisinya miring. Anak saya di bawah lemari itu," tutur Andri.

Kebutuhan Material

Kondisi rumah Andri itu ambruk. Hanya atap halaman depannya yang masih berdiri. Selebihnya runtuh. Ia berharap pemerintah menepati janjinya untuk memberikan bantuan pembangunan rumah. "Kalau logistik aman, kita masih membuka pintu untuk yang memberi bantuan. Tapi, warga juga kepikiran soal rumahnya yang rusak. Semoga ada bantuan material juga," kata Andri.

Upahnya sebagai guru honorer memang empot-empotan. Andri khawatir rumahnya tak bisa berdiri seperti sediakala. Sekadar diketahui, pemerintah memberikan bantuan senilai Rp 50 juta bagi rumah yang rusak. "Kita masih data rumah-rumah yang rusak. Semoga ini bisa jadi acuan juga datanya," kata Andri.

Banyak rumah di Kampung Panumbangan rata dengan tanah. Warga kampung ini belum berani masuk rumah. Mayoritas rumah dikosongkan sementara. Mereka bertahan di tenda-tenda pengungsian.

(sud/iqk)