Saling Menguatkan hingga Kucing Loncat yang Hadirkan Trauma

Kabupaten Cianjur

Saling Menguatkan hingga Kucing Loncat yang Hadirkan Trauma

Sudirman Wamad - detikJabar
Kamis, 24 Nov 2022 13:30 WIB
Pengungsian di TPU Kampung Panumbangan Cianjur.
Suasana pengungsian di TPU Kampung Panumbangan Cianjur. (Foto: Sudirman Wamad/detikJabar)
Cianjur -

Mumu sedang berteduh di sekitar pohon yang berada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Panumbangan Desa Cibulakan, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Kamis (24/11/2022). Mumu masih mengingat dahsyatnya gempa yang mengguncang tanah kelahiran.

Tokoh masyarakat berusia 50 tahun itu sesekali menatap makam kakak iparnya, Iil. Ia masih tak menyangka gempa yang begitu dahsyat dampaknya. Mumu trauma. Tempat ternyaman dan aman saat ini bukanlah rumah, tapi ruang terbuka.

"Itu kakak saya yang tercatat sebagai korban. Satunya lagi warga sini juga," kata Mumu saat membuka perbincangan dengan detikJabar di posko pengungsian Kampung Panumbangan Cianjur, Kamis (24/11/2022).


Ia menceritakan saat gempa terjadi. Kala itu, Mumu berada di lantai dua rumahnya. Ia berlari menyelamatkan diri. Sedangkan, kakak iparnya berada di rumah yang berbeda. Keesokan harinya, Selasa (22/11), kakaknya ditemukan dengan kondisi meninggal dunia.

Mumu sadar, warga saat ini sedang dalam kondisi yang tak baik-baik saja. Mereka mengalami trauma. Tapi sesepuh Kampung Panumbangan ini tampak tegar. Ia juga meminta warga agar saling menguatkan.

"Kita terus berkumpul, berbincang dan saling menguatkan. Ini yang bisa kita lakukan. Trauma memang sulit hilang. Tapi, kita berupaya meminimalisir trauma ini," ucap Mumu.

Warga di posko pengungsian Kampung Panumbangan ini tengah sibuk mengambil bantuan logistik. Sebagian lagi, berkumpul dan saling menguatkan. Situasi tiba-tiba berubah saat gempa susulan terjadi. Saat ini sudah seratusan kali gempa susulan terjadi.

"Kalau sudah siang, saya kadang mengingat kejadian. Karena kejadian gempa hari pertama itu kan setengah duaan siang. Timbul rasa khawatir," ucap Mumu.

"Kita harus saling menjaga. Keadaan menuntut kita seperti ini, harus bersama-sama agar kuat. Jangan sendiri, saya selalu bilang itu ke warga," tutur Mumu.

Berhimpun dan saling bercengkrama jadi rutinitas harian para pengungsi. Bukan berarti warga Panumbangan tak memiliki kesibukan. Di lokasi pengungsian berdiri, padi sudah mulai menguning. Seharusnya, warga siap memanennya.

"Buat apa kita sibuk sendiri? Kalau kesibukan ada, tapi paling penting adalah saling menjaga," katanya.

Tak Berani Lihat Bangunan Runtuh

Sementara itu, di tenda pengungsian Euis Daripah dan sejumlah warga lainnya tengah berkumpul dan berbincang-bincang. Mereka juga tengah memilih pakaian, bantuan yang diberikan sejumlah warga lainnya.

"Sekarang setiap jam ya mungkin, terasa guncangan. Masih takut," kata Euis.

Pengungsian di TPU Kampung Panumbangan Cianjur.Pengungsian di TPU Kampung Panumbangan Cianjur. Foto: Sudirman Wamad/detikJabar



Euis saat kejadian gempa pertama sedang mengajar di madrasah. Ia langsung lari menyelamatkan diri. Hingga kini, Euis mengaku belum berani melihat bangunan-bangunan yang runtuh akibat gempa, termasuk madrasahnya yang mengalami kerusakan.

"Saya nggak mau lihat langsung. Takut, keingat dengan kejadian waktu itu," ucap Euis.

Senada disampaikan Dedi. Dedi tampak tegar secara fisik. Tapi, psikisnya terganggu. Ia kerap gemetar saat melihat orang berlarian dan kucing yang loncat.

"Kalau ada kucing loncat, saya langsung panik dan gemetar. Sekarang yang kita lakukan saling menguatkan," ucap Dedi.

Pemulihan trauma saat ini penting untuk dilakukan bagi penyintas gempa Cianjur. Saat ini warga saling menjaga dan membantu sama lainnya untuk mengikis trauma.

(sud/orb)