Motif Kebanggaan hingga Konten di Balik Duel Siswi SMP Sukabumi

S - detikJabar
Kamis, 29 Sep 2022 05:35 WIB
ilustrasi berkelahi
Ilustrasi perempuan berkelahi. (Foto: thinkstock)
Sukabumi -

Duel siswi SMP di Sukabumi yang ditonton belasan temannya viral setelah videonya beredar. Motif dari kejadian ini adalah demi konten.

Kapolsek Kebonpedes Iptu Tommy Ganhany Jaya Sakti mengungkapkan, kejadian sparring atau perkelahian itu berlangsung pada Senin (26/9) lalu. Hal itu berdasarkan hasil pemeriksaan kepada belasan siswi terkait peristiwa tersebut.

Mereka bertemu di Lapang Angkasa sepulang sekolah. Di sana peristiwa itu terjadi. Dua siswa dari SMP yang berbeda berkelahi dan ditonton teman-temannya. Ada juga yang merekam kejadian itu.


Setelah ditelusuri, polisi akhirnya bisa mengungkap kasus tersebut. Belasan siswi dipanggil, termasuk dari pihak sekolah, ke Mapolsek Kebonpedes. Mereka diberi pembinaan agar jangan sampai kejadian serupa terulang.

"Hasil wawancara kami, kejadian hari Senin jam pulang sekolah, kejadiannya itu di wilayah kami. Tapi sekolah yang terlibat di situ adalah SMP negeri yang berkedudukan di wilayah Kecamatan Baros dan Kecamatan Cibeureum," ungkap Tommy, Rabu (28/9/2022) malam.

Dia mengatakan, dugaan motif mereka melakukan adegan sparring karena adanya unsur chauvinisme atau ingin membangga-banggakan sekolah asalnya.

"Adanya sikap chauvinisme, artinya dia membanggakan sekolah masing-masing lebih unggul dibanding sekolah lainnya. Sehingga sifat-sifat seperti ini harus diminimalisir atau bahkan dihilangkan terutama pihak sekolah dalam mendoktrinisasi bahwa sifat chauvinisme itu sifat buruk," kata dia.

"Ketika tidak terjadi tindak pidana, maka kami lakukan persuasif dan mencegah supaya tidak berulang dan bahkan tidak terjadi tindak pidana," sambungnya.

Dia juga menduga, aksi itu didasari demi konten semata. Terlebih, salah satu siswi dengan sengaja merekam adegan berkelahi itu dan menyebarkan ke media sosial.

Ia pun memberi atensi khusus pada motif tersebut. Ia berharap orang tua turut memantau aktivitas anaknya di media sosial agar tidak kecolongan melakukan hal negatif.

"Orang tua juga harus memperhatikan aktivitas sosial medianya, jangan sampai konten yang dibuatnya itu cenderung negatif dan membuat provokatif. Sehingga kejadian-kejadian ini bermula dari hal-hal seperti itu," sambungnya.

Tommy juga mengimbau seluruh pihak, baik siswi, orang tua dan sekolah dapat bekerja sama dalam menyikapi permasalahan tersebut. Sanksi tegas pun dibutuhkan agar para siswi merasakan efek jera terhadap tindakannya yang tidak terpuji.

"Proses ini harus melibatkan semua pihak, tidak hanya kepolisian saja, dinas-dinas instansi terkait juga harus peduli. Pihak sekolah kooperatif dan berjanji akan memberikan sanksi tegas. Mereka juga akan membuat pernyataan di sekolah, di drop out atau tidak dinaikkan kelas," tegasnya.

Langkah pencegahan juga bakal dilakukan kepolisian demi meminimalisir kejadian serupa terulang lagi. Patroli bakal dilakukan berkala.

"Kami juga berupaya intensitas patroli anggota kami terutama jam rawan sekolah, titik-titik mana yang menjadi lokasi rawan. Kami perintahkan anggota kami, unit patroli untuk melakukan patroli secara periodik," tambah Tommy.

Sementara itu, 14 siswi yang sempat dihadirkan di kantor polisi sudah dijemput orang tua atau walinya setelah diberi pembinaan. Mereka diharuskan untuk menandatangani surat pernyataan bermaterai dan diketahui oleh pihak kesiswaan serta orang tuanya masing-masing.

(orb/orb)