Derita Warga Pameungpeuk: Dihantui Banjir di Wilayah Pegunungan

Derita Warga Pameungpeuk: Dihantui Banjir di Wilayah Pegunungan

Hakim Ghani - detikJabar
Rabu, 28 Sep 2022 06:00 WIB
Potret korban banjir bandang di Pameungpeuk, Garut
Potret korban banjir bandang di Pameungpeuk, Garut (Foto: Hakim Ghani/detikJabar)
Garut -

Banjir bandang lagi-lagi terjadi di Kabupaten Garut. Terhitung beberapa kali banjir terjadi di berbagai penjuru, termasuk di kawasan Garut selatan yang jauh dari pembangunan.

Kamis, 22 September 2022. Tak ada satu orang pun warga Kecamatan Pameungpeuk yang menyangka, jika hari itu menjadi hari kelam bagi mereka.

Di tengah keheningan malam, saat itu sekitar jam 10, ketenangan warga yang sedang beristirahat pecah usai air dari Sungai Cipalebuh meluap.


Tak main-main. Hanya dalam hitungan menit, air merangsek masuk ke pemukiman warga. Di beberapa titik, tingginya bahkan disebut warga mencapai 3 meter.

Suasana tenang dan kesunyian malam perkampungan warga di sepanjang Cipalebuh saat itu berubah menjadi kekacauan. Warga berbondong-bondong menyelamatkan diri. Beruntung tak ada korban jiwa, sebab segelintir warga cekatan memukul pentungan tanda bahaya.

Dari perhitungan Pemda Garut, total ada 1,2 ribu keluarga, atau sekitar 3.702 warga yang terdampak bencana di waktu tersebut. Terdiri dari korban banjir dan longsor yang terjadi di waktu bersamaan. Pemda bahkan menaksir kerugian mencapai tak kurang dari Rp 10 miliar.

Usut punya usut, di wilayah Pameungpeuk, banjir ternyata tak hanya sekali saja terjadi. Tak kurang dari empat kali kejadian banjir, terjadi dalam kurun waktu 12 tahun terakhir sejak 2010.

"Sudah empat kali," ucap Dede Sumiati (57) seorang warga setempat kepada detikJabar beberapa waktu lalu.

Dari catatan detikJabar, banjir bandang di kawasan Pameungpeuk terjadi tak kurang dari tiga kali. Yakni pada tahun 2011, 2020 dan 2022.

Dihitung dari jumlah korban, pada tahun 2011 adalah yang paling mengerikan usai 9 orang warga meninggal menjadi korban. Namun, warga menyebut banjir kali ini yang paling parah, karena terjadi malam hari dan ketinggian air dianggap lebih tinggi.

Lantas, kenapa banjir bandang di Garut selatan terus menerus terjadi, padahal selatan Garut didominasi hutan dan laut. Dudung (57), warga Pameungpeuk menilai jika ulah manusia menjadi penyebab banjir terus menerus terjadi.

"Ya karena manusia-manusia juga. Kayu udah pada habis ditebang jadi ya begini akibatnya," kata Dudung.

Potret korban banjir bandang di Pameungpeuk, GarutPotret korban banjir bandang di Pameungpeuk, Garut Foto: Hakim Ghani/detikJabar

Penebangan liar dan alih fungsi lahan yang terjadi di kawasan hutan selatan Garut diduga kuat menjadi biang kerok banjir bandang lagi-lagi terjadi. Kondisi itu kemudian dipicu dengan hujan deras yang mengguyur hingga menyebabkan sungai meluap dan terjadi banjir.

Wakil Bupati Garut Helmi Budiman membenarkan adanya indikasi kerusakan lahan di kawasan hulu. Banyak lahan yang tak memiliki tegakan hingga memicu bencana alam.

"Memang selain karena hujan deras, di atas (hutan) harus diperbaiki. Kebanyakan lahan-lahan ini sudah tidak ada tegakan kerasnya. Ini harus dilakukan rehabilitasi atau reboisasi terhadap hutan. Kalau kita lihat yang banjir ini di atas tegakannya hilang atau sedikit," ungkap Helmi.

Harus sampai kapan warga di kawasan Garut selatan menderita akibat bencana alam. Dibutuhkan ketegasan dari pemangku kebijakan, agar bencana tak terus terjadi di sana.

Sebab, bencana alam khususnya banjir dan longsor kerap kali terjadi di sana dan seolah sudah menjadi agenda rutinan tiap tahunnya.

Bencana ini tak main-main. Dampaknya, sangat dirasakan oleh masyarakat setempat. Tak hanya dirasakan para penduduk, tapi sektor pendidikan juga terdampak.

Seperti halnya dirasakan para pelajar sekolah dasar di lingkungan setempat. Mereka harus rela tak bersekolah, hanya gara-gara pensil, buku dan seragamnya terbawa hanyut oleh air.

"Anak-anak banyak yang kehilangan daripada alat tulis. Buku, tas, sepatu, pakaian. Anak-anak yang jadi korban banyak, jumlahnya di saya kurang lebih ada 58 orang," ujar Muhtar, Kepala SDN 1 Pameungpeuk.

(yum/yum)