2 Hal yang Belum Terungkap soal Potret 'Nyai Saritem'

Tim detikJabar - detikJabar
Senin, 26 Sep 2022 08:15 WIB
Potret wanita Jawa yang diyakini sebagai Nyai Saritem
Potret wanita Jawa yang diyakini sebagai 'Nyai Saritem' (Foto: Ronny Mediono/Kedai Barang Antik)
Bandung -

Sosok Nyai Saritem dan potret wanita ayu berkebaya masih menjadi teka-teki. Berikut beberapa hal yang masih misteri alias belum terungkap tentang potret Nyonya Jawa itu dan Nyai Saritem.

1. Sosok Potret Nyonya Jawa

Potret zaman dulu yang menggambarkan wanita cantik berkebaya, lengkap dengan aksesoris anting dan kalung menjadi salah satu hal yang masih misterius sampai saat ini.

Walau pun sejumlah budayawan, termasuk Budi Dalton meyakini sosok tersebut adalah Nyai Saritem atau Nyimas Ayu Permatasari, namun hal itu masih perlu ditelusuri lebih lanjut.


Sebab dari penelusuran detikJabar dengan metode reverse image, foto yang diklaim sebagai Nyai Saritem itu pertama kali diunggah oleh sebuah blog toko barang antik asal Ungaran, Semarang pada 2011 lalu.

Ketika dikonfirmasi, sang pemilik toko pun tidak mengetahui siapa sosok wanita tersebut sebenarnya. Pasalnya, pihak yang dipercaya untuk mengelola rumah milik eks pejabat kolonial itu pun tak mengetahui siapa sosok dari wanita tersebut.

Namun dapat dipastikan wanita tersebut bukan berasal dari kalangan rakyat jelata, hal itu terlihat dari aksesoris dan kebaya yang dikenakannya. Kemungkinan wanita itu berasal dari kalangan priyayi Jawa.

2. Kiprah Nyai Saritem, Antara Gundik atau Sosok Penyelamat?

Versi Gundik

Terlepas dari kebenaran siapa potret dari wanita tersebut, kisah soal Nyai Saritem sendiri pun menarik untuk disimak. Sebab, ada dua versi cerita tentang Nyai Saritem yang sebenarnya agak bertolak belakang.

Versi pertama disampaikan penulis Wakhudin dalam buku Saritem Uncensored. Dalam buku itu disebutkan jika Saritem merupakan warga biasa. Namun, karena wajahnya yang menawan, seorang pembesar Belanda menjadikannya gundik.

Hingga akhirnya ia mendapatkan gelar 'Nyai' atau wanita yang tinggal bersama meneer Belanda. Dalam buku Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda karya Reggie Bay, sang penulis mengatakan istilah Nyai yang digunakan berasal dari bahasa Bali.

Kata itu muncul bertepatan dengan momentum perempuan Bali yang juga menjadi gundik atau perempuan simpanan dari orang-orang Eropa.

Kembali soal Saritem versi ini, Sang Kembang Dayang rupanya diminta untuk mencari wanita-wanita lain dari berbagai pelosok di Jawa Barat untuk dijadikan teman kencan bagi tentara Belanda yang lajang.

Versi Penyelamat

Lain halnya dengan versi gundik, penulis Aan Merdeka Permana dalam tulisan berjudul Saritem menyebutkan bahwa Nyai Saritem merupakan gadis keturunan orang yang terpandang. Saritem juga disebut memiliki nama lain, yakni Nyimas Ayu Permatasari.

Namun ia kerap bepergian bersama keluarganya. Terutama ke kawasan Marongge, perbatasan Sumedang dan Majalengka.

Di sana, ia kerap datang ke tempat pengasihan. Tapi pada zaman itu, pengasihan lebih kepada kebutuhan untuk saling peduli hingga menyayangi. Bukan hanya untuk birahi.

Di sisi lain, ia pun ingin mengembara ke luar dari Tatar Ukur, atau wilayah Bandung saat ini. Ke kawasan Karapyak atau Dayeuhkolot, ia punya saudara yang ingin ia tuju.

Singkatnya, Nyimas Ayu Permatasari mengembara. Ia didampingi oleh Ki Usdi seorang kusir pedati, yang ditugaskan keluarga Nyimas Ayu Permatasari untuk menemani pengembaraan.

Sepanjang perjalanan, mereka beberapa kali berhenti di pos penjagaan yang berderet setiap beberapa kilometer. Ki Usdi kerap dicurigai akan menjual seorang wanita yang dibawanya di pedati.

Dari kecurigaan petugas itu juga Nyi Mas Ayu makin penasaran. Ia terus bertanya kepada Ki Usdi mengenai hal tersebut.

Tujuan Nyi Mas Ayu pun langsung berubah. Ia kini berniat untuk mendatangi lokasi jual-beli perempuan itu. Menurutnya, menjaga harga diri sendiri juga wajib hukumnya untuk menjaga harga diri bangsa.

Versi Budi Dalton

Budayawan Budi Dalton justru melihat Nyai Saritem dari sisi berbeda. Dalam berbagai siniar, Budi menyebut Nyai Saritem merupakan seorang wanit terpandang yang menikahi seorang lelaki Belanda. Mereka tinggal di kawasan Kebon Tangkil atau lokasi eks lokalisasi Saritem sekarang.

Nyai Saritem disebut-sebut menjadi pahlawan, dengan memberikan jampi-jampi atau mantra agar para wanita tuna susila tidak dilirik oleh pria hidung belang sehingga dipulangkan lagi oleh muncikarinya ke kampung.

Oleh karena itu, ujar Budi, pemerintah memberikan penghargaan kepada sosok Nyai Saritem. Penghargaan itu berupa penamaan jalan Saritem, yang kini bisa diakses dari Jalan Jenderal Sudirman maupun lewat Jalan Gardujati.

(yum/yum)