Lika-liku Penutupan Saritem, Eks Sarang Kembang Dayang Bandung

Lika-liku Penutupan Saritem, Eks Sarang Kembang Dayang Bandung

Tim detikJabar - detikJabar
Kamis, 22 Sep 2022 12:00 WIB
Gerbang jalan menuju kawasan Saritem di Gardujati, Bandung
Gerbang jalan menuju kawasan Saritem di Gardujati, Bandung (Foto: Avitia Nurmatari/detikcom)
Bandung -

Nama Saritem sebagai lokalisasi masih begitu melekat di Kota Bandung. Saritem begitu melegenda karena telah ada sejak zaman kolonial Belanda di tahun 1838. Meski telah ditutup Pemkot Bandung pada 2007 silam, namun tetap saja, orang-orang masih mengenal Saritem sebagai lokalisasi yang ada di Kota Kembang.

Lalu seperti apa lika-liku penutupan Saritem oleh Pemkot Bandung saat itu. Berikut rangkumannya:

Rencana Penutupan

Pada 11 Maret 2007, Pemkot Bandung membahas rencana penutupan Saritem. Rencana ini didasari oleh terganggunya warga sekitar akan aktivitas malam di kawasan Saritem.


Rencana penutupan Saritem ini disampaikan Syaeful Abdullah, Ketua Majelis Tanfidzi Bandung saat dihubungi detikcom via telepon, 10 April 2007. Syaeful mewakili warga dan sejumlah ormas Islam di Bandung.

Pernyataan Syaeful ini juga sesuai dengan hasil rapat antara pihak pesantren At-Taubah, ormas - ormas Islam, unsur Muspika Kecamatan Andir dan perwakilan warga di sekitar lokalisasi Saritem.

"Baru kesepakatan bersama saja akan menutup Saritem untuk selamanya. Untuk teknis penutupannya rencananya akan dibicarakan besok di kantor Satpol PP Bandung!" jawab Syaeful saat ditanya mengenai hasil rapat.

Cita-cita warga Bandung terbebas dari lokalisasi segera terkabul. Pada 12 April 2007, disepakati bahwa Saritem akan segera ditutup.

"Kita telah mengadakan rapat dengan semua pihak, yakni Satpol PP, Kodam, Kepolisian, Muspika, dan ormas-ormas terutama FPI, NU, BMW (Bandung Maksiat Watch). Hasilnya semua sepakat sebentar lagi kita akan menutup secara resmi lokalisasi Saritem," ungkap Ketua Majelis Tanfidzi FPI (Front Pembela Islam) Bandung Syaeful Abdullah.

Namun rencana penutupan Saritem tidak menghalangi pengunjung. Di malam minggu terakhir, masih terlihat banyak 'tamu' yang datang ke lokalisasi yang sudah ada sejak 200-an tahun lalu.

Pantauan detikcom ketika itu, wanita berpakaian minim berlalu lalang di gang-gang. Mereka sebagian duduk di ruang dengan kaca terbuka.Salah satu calo yang tidak ingin disebutkan namanya tidak khawatir dengan rencana penutupan Saritem ini.

Menurutnya penutupan hanya akan berlangsung sebentar. Namun dia mengakui akibat rencana penutupan ini banyak PSK yang pulang karena ketakutan.

"Penutupan sementara biasa. Nanti juga buka lagi," katanya, 15 April 2007.

Rencana penutupan Saritem direspons cepat para pekerja seks komersial (PSK). Mereka mulai meninggalkan lokalisasi tersebut. Seperti yang dilakukan Leni (17) dan Susi (19).

Keduanya terlihat bergegas menuju sebuah mobil sambil membawa sejumlah tentengan. Kedua PSK belia itu mengaku akan pulang kampung ke Indramayu.

"Yah mau pulang, habis tempat ini mau ditutup. Kita pulang kampung sambil menunggu kepastian dari pemerintah," kata Leni yang mengaku baru 4 bulan 'bekerja' di Saritem.

Wanita berparas ayu ini mengaku tidak memiliki rencana khusus terkait penutupan Saritem. Dia juga belum berencana apakah akan menjadi PSK di tempat lain dan sebagainya.

"Nggak tahu deh. Kita nggak tahu mau ngapain," ujar Leni sambil terus menundukkan kepalanya.

Penggerebekan di lokalisasi SaritemPenggerebekan di lokalisasi Saritem Foto: Baban Gandapurnama/detikcom

Selain itu, para PSK juga memberikan diskon kepada pria hidung belang Rp 50 ribu sekali kencan. Diskon diberikan oleh para PSK itu karena 17 April 2007 malam, adalah hari terakhir mereka bisa beroperasi di Saritem.

Rencananya Pemkot Bandung akan menutup lokalisasi itu pada Rabu 18 April 2007 pukul 09.00 WIB. Dari 400 PSK yang beroperasi di Saritem, masih terdapat 18 PSK yang masih beroperasi. Mereka tetap bertahan di tempat itu, karena masih memiliki tanggungan utang kepada mucikarinya.

"Maunya sih kita nutup utang dulu biar tenang," kata Nita (22), seorang PSK yang ditemui detikcom di lokalisasi.

Makanya sejumlah PSK mulai memberikan diskon sebesar Rp 50 ribu untuk sekali kencan short time. Tarif para PSK ini beragam, ada yang mulai Rp 200 ribu, Rp 170 ribu bahkan Rp 100 ribu. Rencananya para PSK yang tersisa ini sudah harus keluar dari kompleks pelacuran itu pada malam ini pukul 24.00 WIB.

Ada juga warga yang menentang keras penutupan Saritem. 12 Orang berbalut pakaian adat menyambut kedatangan aparat pembongkar Saritem. Warga pun berjoget ria.

Sebanyak 8 perempuan dan 4 pria tampak mengenakan baju adat Sunda warna kuning lengkap dengan konde dan blangkon. Wajah mereka pun dihias make up. 4 Pria yang telah didandani terlihat mengusung payung pengantin warna kuning.

Mereka berdiri di depan panggung berukuran 3x4 meter yang dibangun di Jalan Saritem.

"Kita sengaja menyambut aparat untuk menunjukkan bahwa warga Saritem bukan teroris atau kriminal, jadi tidak perlu khawatir," kata Ketua RW O7, Yayan, kepada detikcom.

Sementara itu, 2.000 warga RW 7,8,9 Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Bandung, Jawa Barat, tampak menyemut di gang-gang di 13 titik.

Mereka menolak keras penutupan lokalisasi Saritem lantaran khawatir kehilangan mata pencaharian. Warga juga mendapat dukungan dari Angkatan Muda Siliwangi (AMS) yang mengenakan pakaian loreng dan Forum Bela Bangsa yang terbalut kaos hitam.

Sejak ditutup tidak ada lagi kegiatan prostitusi di lokalisasi tersebut. Tidak ada lagi senyum nakal dan panggilan menggoda para wanita penghibur. Toko-toko yang biasa menjual jamu atau kebutuhan khas lokalisasi prostitusi lainnya juga tutup. Rumah-rumah yang hampir semuanya berjendela kaca lebar terlihat sepi. Beberapa pria di dalamnya hanya terlihat tidur-tiduran atau main catur.

"Kita stres. Warga bingung, bagaimana mau cari makan. Jadi ya kita cari hiburan aja kayak gini," kata Asep Kosasih, warga RW 9 Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Bandung, Sabtu (21/4/2007).

Lokalisasi Saritem memang masuk ke wilayah RW 7 dan RW 9. Selain berjoget ria, warga setempat juga terlihat mendirikan sebuah dapur umum. Menurut Asep, langkah ini dilakukan warga untuk mengurangi beban mereka.

"Supaya kita nggak berat, ya makan juga terpaksa harus patungan. Pokoknya segalanya kita lakukan bersama deh," ungkap Asep.

Selama ini warga RW 07 dan RW 09 Saritem memang menggantungkan hidupnya dari usaha di lingkungan lokalisasi prostitusi Saritem. Setidaknya jumlah warga yang menggantungkan hidupnya dari usaha prostitusi itu mencapai 4.000 orang.

Pasca Penutupan

Pasca penutupan Saritem setahun yang lalu, 18 April 2007, perekonomian warga di Saritem menjadi lesu. Warga pun menuntut pemerintah untuk menghidupkan kembali perekonomian warga demi kelangsungan hidup.

Tuntutan tersebut disampaikan dalam aksi warga di depan gedung DPRD Kota Bandung, Rabu (23/4/2008). Selain itu, warga menuntut dihilangkannya intimidasi aparat kepolisian terhadap warga Saritem karena meresahkan warga dan menuntut pemerintah memberikan kesejahteraan pada warga Saritem secara berkelanjutan.

Para demonstran pun menolak dengan keras jika kasus penutupan Saritem dinyatakan sebagai penyakit sosial. Sebab menurut mereka Saritem adalah permasalahan sosial yang harus diselesaikan pemerintah kota Bandung.

Penutupan Saritem tidak hanya berimbas hilangnya mata pencaharian para PSK tetapi juga melumpuhkan perekonomian warga sekitar. Bahkan, ratusan warga terpaksa menjadi pengangguran.

Hal tersebut diakui salah seorang warga Saritem, Mumuh (40). Menurutnya warga Saritem yang menjadi pengangguran pasca penutupan Saritem sekitar 200 orang. Sebelumnya ke 200 orang itu bekerja sebagai pedagang, calo, tukang cuci dan lain-lain.

"Omzet saya yang biasanya Rp 400 ribu, sekarang setengahnya pun tidak," tutur Mumuh yang ditemui di kiosnya, 23 April 2007.

Penutupan lokalisasi prostitusi Saritem tahun lalu, dinilai kebijakan setengah hati pemerintah kota untuk memberantas prostitusi. Sebab warga menilai penutupan hanya dilakukan pada Saritem tidak pada tempat lain. Belum lagi penjagaan dari polisi Dalmas di kawasan Saritem.

"Kami risih karena seringkali Dalmas datang berjaga-jaga di sini. Memang di sini ada apa?" tanya salah satu warga, Erwin (30) kesal.

Erwin mengaku dalam empat bulan terakhir ini, kawasan Saritem dijaga ketat Dalmas. Menurutnya pemda bersikap pilih kasih karena hanya menertibkan prostitusi di kawasan Saritem, namun tidak pada tempat-tempat praktik prostitusi terselubung seperti panti pijat.

Lima Tahun Pascapenutupan Masih Ada Denyut Saritem

Lima tahun berselang, aktivitas di Saritem ditengarai masih ada. Padahal Wali Kota Bandung Dada Rosada pada 17 April 2007 lalu telah resmi menutup lokalisasi tersebut.

"Harusnya tidak ada lokalisasi itu (Saritem-red)," ujar Wali Kota Bandung terpilih periode 2013-2018 Ridwan Kamil saat dimintai tanggapan soal kembali menggeliatnya aktivitas di Lokalisasi Saritem, di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Jalan Perintis Kemerdekaan, Minggu (1/9/2013).

Saat ditanya bagaimana nasib Lokalisasi Saritem setelah ia resmi dilantik pada 16 September nanti, Ridwan menyatakan akan melihat dulu aturan yang sudah ada. Menurutnya jika memang sudah ada aturan lokalisasi itu ditutup, maka ia akan menegakkan aturan itu.

"Saya akan fokus pada kesepakatan yang sudah ada di Perda dan Perwal. Kalau memang sudah ada (aturan penutupan lokalisasi Saritem-red), saya akan menegakkannya," tegasnya.

Suasana pengajian santri di Ponpes Daruttaubah yang berada di kawasan Saritem, Kota Bandung.Suasana pengajian santri di Ponpes Daruttaubah yang berada di kawasan Saritem, Kota Bandung. Foto: Rifat Alhamidi

Satpol PP angkat bicara terkait masih aktifnya praktik prostitusi di kawasan Saritem Bandung. Kepala Satpol PP Kota Bandung Ferdi Ligaswara mengakui kehidupan malam di tempat tersebut masih ada.

"Masih ada, tapi tidak seperti dulu. Mereka sembunyi-sembunyi," ujar Ferdi kepada wartawan di Balaikota Bandung, Senin (2/9/2013).

Menurut Ferdi, dampak dari penutupan Saritem, para pekerja seks komersial (PSK) masih terus mencari pelanggan. Bahkan kini mereka berkeliaran di pinggir jalan di sekitar daerah tersebut.

"Diindikasikan masih ada, soalnya ada PSK di pinggir jalan. Konsumen takut masuk ke sana (Saritem)," terang Ferdi.

Bahkan pada 2014, bisnis esek-esek tertua di kota kembang itu tak pernah padam. Masih ada beberapa rumah bordil yang buka. Yang berbeda, aktivitas itu lebih senyap dan tersembunyi di rumah-rumah warga.

Fakta ini menunjukkan, denyut Saritem masih berbunyi. Upaya penutupan yang sebatas seremoni, tak benar-benar menghapuskan kegiatan malam tersebut. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengakui, praktik itu masih terjadi. Namun dia butuh waktu untuk membereskannya.

"Saya tidak bilang dalam setahun masalah bisa selesai. Satu persatu masih muncul ke permukaan. Kami akan terus selesaikan, termasuk Saritem," ujarnya.

Gerebek 'Sisa-sisa' Saritem pada 2015

Setahun berikutnya Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Angesta Romano Yoyol menerjunkan ratusan anak buahnya menggerebek kawasan prostitusi Saritem pada Rabu malam 20 Mei 2014. Sebanyak 169 perempuan PSK terjaring razia.

Yoyol tak main-main menumpas bisnis seks di Kota Bandunng. Dia menegaskan beragam upaya dilakukan pihaknya agar Saritem tak kembali menggeliat, salah satunya dengan cara menyegel 40 rumah bordil.

"Kami segel biar tidak ada orang (pria hidung belang) datang ke sini," ujar Yoyol di Mapolsek Andir, Jalan Saritem, Kota Bandung, Senin 25 Mei 2015

Dinas Sosial Kota Bandung juga kerap menjaring mereka, namun mereka selalu kembali ke lembah hitam itu. Dinas Sosial Kota Bandung sebetulnya sudah memiliki penanganan khusus. Setiap kali Satpol PP atau polisi merazia, mereka adalah instansi yang kebagian mengurusi sisi kemanusiaan dari para PSK.

"Tiap kali ada razia, mereka sudah kami tampung di rumah singgah. Kami melakukan pelatihan-pelatihan ke mereka," ujar Kepala Dinas Sosial Kota Bandung Dodi Ridwansyah kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Pelatihan dilakukan bekerjasama dengan pemerintah provinsi yakni di daerah Cirebon dan Sukabumi. Pelatihan disesuaikan dengan kemampuan para pekerja bisnis esek-esek tersebut.

Pasca-penutupan, 'denyut' prostitusi di Saritem memang masih terasa. Dalam beberapa kali razia, germo dan PSK ditemukan beroperasi di kawasan yang terletak di Kecamatan Andir itu.

(bba/yum)