Jejak Benteng Masa Kolonial Belanda di Indramayu

Jejak Benteng Masa Kolonial Belanda di Indramayu

Sudedi Rasmadi - detikJabar
Minggu, 25 Sep 2022 04:30 WIB
Potret Benteng Pengintai (Pillbox) zaman Belanda di Desa Dadap Indramayu.
Potret Benteng Pengintai (Pillbox) zaman Belanda di Desa Dadap Indramayu (Foto: Sudedi Rusmadi/detikJabar).
Indramayu -

Puing-puing bangunan jejak Pemerintah Kolonial Belanda tampak terlihat jelas di Desa Dadap, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Sabtu (24/9/2022). Bangunan yang diduga bekas tentara Belanda itu berbentuk benteng pelindung.

Kepala Desa Dadap Asyriqin Syarif Wahadi mengungkapkan bangunan mirip tempat pengintai itu diduga sudah ada sejak zaman Belanda. Atau diduga sekitar masa kepemimpinan Ratu Wilhelmina III.

Bangunan benteng berbahan cor dan besi itu, ada di bibir pantai sekitar kongsi lama atau sekarang ruang terbuka hijau. Benteng dengan bentuk silinder tinggi sekitar 1 meter itu terdapat satu pintu utama dan dua lubang sebagai pengintai.


"Pillbox itu kayanya sudah ada sejak zaman Belanda, kabarnya, ada sebanyak 8 unit tersebar di sekitar pantai Dadap. Tapi saya waktu kecil masih melihat ada 6 unit," Kata Asyriqin Syarif Wahadi.

Saat ini, benteng pengintai itu hanya tersisa 2 unit. Itu pun 1 unit lagi masih ada di dasar laut.

Diceritakan Asyriqin, zaman kolonial Belanda juga meninggalkan bekas berupa benteng di tepi pantai atau dikenal masyarakat menyebut baro malang. Keberadaan benteng itu sekitar 300 meter dari bibir pantai saat ini, atau berada di dasar laut dan sudah tidak terlihat.

"Waktu tahun 80-an bagian dasar perahu yang hendak berlabuh di pelabuhan Dadap masih menyentuh bangunan itu, sekarang sudah tidak terlihat," cerita Asyriqin.

Bangunan Benteng itu berukuran sekitar lebar 2,5 meter dengan panjang sekitar setengah kilometer membentuk huruf L. Benteng itu mengelilingi pesisir pantai.

Konon, Dadap ini menjadi salah satu kota administrasi Kolonial Belanda di wilayah Kabupaten Indramayu. Benteng itu menandakan adanya sebuah aktivitas penjagaan bagi pejabat Belanda.

Di wilayah ini juga sempat terjadi perlawanan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Perang pun dikabarkan mewarnai keberadaan kota administrasi tersebut.

Namun, seiring perkembangannya, laut terus mengalami abrasi. Diperkirakan sejak 1970-an, abrasi laut terus menenggelamkan jejak-jejak sejarah di Desa Dadap.

Dalam sejarah Perkoperasian disebut di laman https://dkp.jabarprov.go.id/sejarah/ bahwa sejarah itu menyebutkan Pantai Dadap terdapat Koperasi

"Afdeeling Institute Van de Zee Visschery telah mengembangkan Zee Visserij Copperatie (koprasi Perikanan Laut-KPL) di pusat-pusat nelayan di daerah-daerah pantai utara, antara lain KPL "Misaja Mina" di Eretan Wetan dan Dadap Indramayu (1927).

(mso/mso)