Iding Soemita, Oasis Asa Kuli Tani Suriname asal Tasikmalaya

Iding Soemita, Oasis Asa Kuli Tani Suriname asal Tasikmalaya

Faizal Amiruddin - detikJabar
Kamis, 22 Sep 2022 05:30 WIB
Iding Soemita
Iding Soemita (Fotocollectie Anefo Reportage: Eigenhuis, Nico)
Tasikmalaya -

Perjalanan gemilang Iding Soemita, pria asal Cikatomas Tasikmalaya menjadi politisi atau pejabat di Suriname menyisakan banyak catatan sejarah menarik dan inspiratif.

Betapa tidak, dia menapaki karirnya benar-benar dari nol, bahkan bisa jadi dari keadaan minus. Dari seorang kuli tani yang diberangkatkan Belanda ke Suriname pada 1925, dia bertransformasi menjadi politisi yang berpengaruh di Suriname.

Dari semula tak mengenakan baju -saat didokumentasikan Belanda-, berubah menjadi sosok bersafari yang ikut berbicara di meja perundingan dunia.


"Martin van Bruinessen seorang penulis buku dan antropolog Belanda, menuliskan kalimat "Hardjo mengabarkan realitas dan Soemita memungkinkan orang bermimpi," kata Dudu Risana, pegiat sejarah dan dosen di Tasikmalaya, Rabu (21/9/2022).

Kalimat itu kata Dudu, membuktikan bahwa sosok Iding Soemita adalah seorang yang visioner dan memiliki kemampuan berorasi yang bagus. "Iding Soemita adalah orator ulung, kemampuan berpidatonya bisa membakar semangat dan harapan para buruh tani," kata Dudu.

Terkait nama Hardjo yang disebutkan oleh Bruinessen, menurut Dudu dia adalah Salikin Hardjo seorang penulis atau jurnalis anak buah Iding Soemita di Kaoem Tani Persatoean Indonesia (KTPI).

"Selain Iding Soemita, banyak sejumlah nama buruh tani Indonesia di Suriname yang muncul menjadi tokoh, salah satunya Salikin Hardjo. Dia jurnalis," kata Dudu.

Kembali ke Iding Soemita, selain pandai berorasi, melakukan penggalangan massa dan cakap berorganisasi, Iding Soemita juga pandai berbisnis. Setelah habis masa kontraknya sebagai buruh tani selama 5 tahun, Iding Soemita juga diketahui memiliki sebuah toko di Paramaribo.

"Jadi aktivis idealnya kan begitu, mapan dulu secara ekonomi sebelum aktif melakukan perjuangan," kata Dudu.

Di samping itu Iding juga berhasil mendidik anak lelakinya Willy Soemita menjadi politisi dan menteri di Suriname. "Anaknya jadi menteri," kata Dudu.

Iding Soemita saat dikirimkan ke Suriname pada 1925Iding Soemita saat dikirimkan ke Suriname pada 1925 Foto: istimewa

Mengulas kembali perjalanan Iding Soemita, pria yang satu ini lahir di Cikatomas Tasikmalaya pada 3 April 1908. Dia meninggal dunia di Suriname pada 18 Nopember 2001, pada usia 93 tahun.

"Iding Soemita berangkat menjadi kuli kontrak di Suriname saat masih pemuda. Catatan sejarah menuliskan dia berangkat ke Suriname tahun 1925, berarti usianya masih 17 tahun," kata Dudu.

Bekerja menjadi buruh tani di perkebunan Belanda tak membuat Iding Soemita terjebak di zona nyaman atau hanya fokus pada pekerjaannya saja.

Pikirannya yang revolusioner mendorong dia menjadi motor penggerak untuk melawan ketidakadilan termasuk melakukan perlawanan terhadap kolonialisme. "Iding Soemita menjadi tokoh perjuangan bagi masyarakat Indonesia di Suriname untuk mendapatkan hak-hak politiknya," kata Dudu.

Berawal dari Keprihatinan

Kiprahnya diawali dengan keprihatinan dirinya terhadap nasib rekan sesama kuli tani Indonesia di Suriname. Keterbatasan membuat buruh yang meninggal dunia dikuburkan dengan tidak layak. Atas hal tersebut Iding menggagas penghimpunan dana pemakaman secara swadaya, sehingga ketika ada buruh yang meninggal dunia bisa dimakamkan secara layak dan terhormat.

Semangat persatuan dan gotong royong itu akhirnya mengkristal menjadi sebuah kekuatan. Iding sebagai frontman di komunitasnya, kemudian kerap kali tampil mengadvokasi perselisihan kaum buruh dengan kaum kolonial.

Sosok Iding semakin disegani ketika dia menyuarakan gerakan Moelih n' Djawa sekitar tahun 1933.

"Moelih n' Djawa adalah gerakan dari buruh tani yang menuntut agar mereka dipulangkan ke tanah air. Pada tahun-tahun itu banyak buruh yang sudah habis masa kontrak kerjanya, rata-rata mereka bekerja untuk 5 tahun," kata Dudu.

Dari puluhan ribu buruh banyak yang tidak kerasan bekerja di Suriname, mereka ingin pulang ke tanah air. Di sisi lain pemerintah Belanda tak bisa langsung memenuhi tuntutan tersebut.

"Sejarah mencatat gerakan ini dengan sebutan politik Nagih Djangjie. Mereka menagih janji Belanda atas kesepakatan-kesepakatan kerja terhadap buruh asal Indonesia tersebut," kata Dudu.

"Kesepakatan itu diantaranya gaji yang diterima pekerja laki-laki usia di atas 16 tahun sebesar 60 sen, pekerja wanita usia di atas sepuluh tahun sebesar 40 sen. Itu adalah upah harian," imbuh Dudu.

Masa perjanjian kerja para buruh tani di Suriname adalah lima tahun. Setelah bekerja selama masa kontrak, mereka mendapatkan hak untuk kembali ke Tanah Air. Pemerintah Belanda menanggung biaya kepulangan mereka ke tanah air. Janji-janji inilah yang mereka tagih kepada Pemerintah Belanda.

Meretas Karir Politik

Di sisi lain momentum ini seakan memberikan ruang bagi Iding untuk meretas perjalanan karir politiknya. Hal itu ditandai dengan dibentuknya sebuah organisasi pergerakan bernama Persatuan Indonesia pada tahun 1946. Organisasi itu dia dirikan bersama rekannya sesama buruh dari Indonesia.

"Dengan adanya Persatuan Indonesia ini, gerakan politik Nagih Djangjie semakin masif, semakin kuat dan semakin diperhitungkan," kata Dudu.

Selanjutnya para 1948, Iding mengubah nama organisasi Persatuan Indonesia menjadi Kaoem Tani Persatoean Indonesia (KTPI). Berbeda dengan sebelumnya, KTPI didibentul dan dideklarasikan sebagai partai politik.

"Konstelasi politik berubah, sepertinya Iding menangkap celah yang lebih potensial untuk perjuangan kaumnya. Nah pada tahun 1949, KTPI ikut jadi peserta Pemilu Suriname di distrik Commewijne," kata Dudu.

Pada Pemilu itu partai KTPI berhasil meraup 2.325 suara sehingga berhasil mendapatkan 2 kursi parlemen dari total 21 kursi.

"Sukses masuk parlemen, membuat Iding tak hanya sebatas berjuang untuk kaum buruh tani asal Indonesia saja. Tapi dia ikut aktif dalam upaya kemerdekaan Suriname," kata Dudu.

Di parlemen, Iding aktif terlibat dalam setiap perundingan dengan Belanda terkait kemerdekaan Suriname.

Sebuah perjuangan panjang yang pada akhirnya menemukan titik terang ketika Pemerintah Belanda bersama beberapa wakil dari Suriname menandatangani kesepakatan rencana Belanda mengakhiri penjajahan pada 15 Desember 1954. "Suriname tergolong negara yang terlambat merdeka, negara ini baru merdeka 25 November 1975," kata Dudu.

Dia menambahkan masyarakat Tasikmalaya patut berbangga dengan kiprah dan perjuangan sosok Iding Soemita ini. "From zero to hero, sosok pemuda kampung buruh tani yang bertransformasi menjadi pejuang keadilan bagi kaumnya," kata Dudu.



Simak Video " Penampakan Banjir Terjang Tasikmalaya, Ratusan Rumah Terendam"
[Gambas:Video 20detik]
(yum/yum)