Menelisik Penyebab Konflik Macan-Manusia hingga Keasrian Gunung Kareumbi

Menelisik Penyebab Konflik Macan-Manusia hingga Keasrian Gunung Kareumbi

Nur Azis - detikJabar
Rabu, 14 Sep 2022 17:07 WIB
Diambil dari kamera CCTV peternakan milik warga di desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung.
Diambil dari kamera CCTV peternakan milik warga di desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung. (Foto: Istimewa)
Sumedang -

Kejadian macan kumbang yang menyerang tiga warga, membuat gempar masyarakat sekitar kawasan Konservasi Gunung Masigit Kareumbi (TBMK) atau tepatnya di Blok Cihanyawar, Desa Tegalmanggung, Kabupaten Sumedang.

Kepala Sub Bagian Humas BBKSDA Jabar Halu Oleo mengatakan tidak ada perubahan kondisi alam di kawasan konservasi TBMK sehingga menyebabkan macan kumbang harus mencari makan di kawasan penduduk. "Kawasan konservasi itu luasnya dari dulu 12 hektar dan masih terjaga sampai saat ini," ucap Halu saat dihubungi detikJabar, Rabu (14/9/2022).

Halu mengatakan, fenomena penyerangan macan kumbang terhadap warga diduga lantaran usia macan kumbang yang masih terhitung muda dengan pengalaman berburu yang masih minim.


"Sebetulnya ini macan kan masih muda, belum dewasa, dia belajar mandiri, itu sebetulnya bukan karena ada fenomena apa, ini hal yang wajar ketika anak macan belajar untuk berburu," katanya.

Kasus macan muncul di hadapan warga bukan pertama kali terjadi pada tahun ini. Berdasarkan catatan detikjabar pada 2022 seekor macan muncul dan menggegerkan warga Kampung Cikaso, Desa Tanjungwangi, Kabupaten Bandung serta temuan di Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung.

Halu membenarkan atas kejadian itu. Menurutnya, banyak faktor yang membutuhkan penelitian lebih dalam dimana salah satunya lantaran adanya perubahan kondisi di sekitar luaran hutan.

"Banyak faktor dan belum dapat disimpulkan penyebabnya apa, karena faktor perubahan di luar kawasan (konservasi) juga ada, ibaratnya tadinya tidak ada peternakan jadi ada peternakan, banyak faktor, yang jelas namanya macan dia bebas, tahu-tahu bertemu batas kawasan," katanya.

Halu pun tidak menampik bahwa seiring perkembangan zaman banyak pemukiman yang semakin mendekati kawasan konservasi TBMK yang menjadi tantangan bagi BBKSDA Jabar sendiri.

Terkait hal itu, BBKSDA Jabar akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat yang berdampingan dengan sekitar kawasan konservasi TBMK.

"Kita sama-sama mengajak untuk menjaga dan melestarikan kawasan dan jika ada aktivitas masyarakat yang menimbulkan perekonomian, ya mereka diajak untuk sama-sama menjaga keseimbangan ekosistem yang ada, termasuk petugas kami lapangan melakukan patroli dan sama-sama melakukan pengawasan secara bersama," katanya

(iqk/iqk)