BBKSDA Urai Kronologi Lengkap Macan Kumbang Vs 3 Warga Sumedang

BBKSDA Urai Kronologi Lengkap Macan Kumbang Vs 3 Warga Sumedang

Bima Bagaskara - detikJabar
Selasa, 13 Sep 2022 22:15 WIB
Ilustrasi Macan Kumbang.
Ilustrasi Macan Kumbang (Foto: Istimewa)
Sumedang -

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat menjelaskan kronologis lengkap soal peristiwa penerkaman macan kumbang yang membuat tiga warga Sumedang menjadi korban.

Kepala Sub Bagian Humas BBKSDA Jabar Halu Oleo mengatakan saat itu tepatnya Rabu 7 September ada tiga warga yakni Udes, Adi dan Didin yang sedang bekerja di sebuah kebun di Desa Tegalmanggung, Kecamatan Cimanggung.

Sementara disaat bersamaan, ada seekor macan kumbang (Panthera pardus melas) yang tengah memangsa angsa. Menurut Halu, ketiganya tak mengetahui ada macan kumbang di dekat mereka.


"Jadi kronologisnya analisa kita cek lokasi, si matul (macan tutul) ini lagi makan angsa, secara tidak sengaja ada Pak Didin lagi berkebun, terus ada Pak Udes, Pak Adi, mereka tidak tau ada matul," kata Halu, Selasa (13/9/2022).

Halu mengungkapkan saat itu sebenarnya macan kumbang itu berusaha untuk melarikan diri dan bersembunyi saat melihat sosok manusia. Namun lokasi sembunyi macan justru didatangi oleh Udes yang saat itu tengah membenahi saluran air.

"Kebetulan tempat dia sembunyi itu di situ ada Pak Udes yang benerin air. Nah posisi yang dekat dan kemudian mungkin matul merasa kok ada yang deketin dia keluar untuk melakukan pembelaan dirinya supaya enggak dideketin. Tapi Pak Udes enggak tau," ungkapnya.

Diserang macan kumbang, Udes mengalami luka di bagian kepala dan pelipis mata kanannya. Ketika itu, teman Udes, Didin berusaha membantu. Namun kata Halu, macan kembali menyerang Didin. Begitu juga dengan Adi yang ikut diserang karena berusaha membantu.

"Udes terluka di bagian muka terus dia jatuh sambil teriak, temannya Pak Didin turun membantu pada saat dia datang jarak 5 meter Udes jatuh, macan menyerang yang datang lagi akhirnya digigit Pak Didin bagian tangan, Pak Adi membantu," jelas Halu.

Saat itu menurut Halu, warga tidak berniat untuk mencelakakan macan kumbang tersebut. Namun karena mendapat serangan, warga spontan memegang kepala macan dan menariknya ke air.

"Dia (warga) tidak sengaja memegang kepala (macan), dia bukan cerita berkelahi itu enggak. Mencekik itu enggak, secara tidak sengaja pokoknya posisi gitu, dipegang erat sambil sedikit masuk ke air dan hasilnya tidak ada tenggelam," ucap Halu.

Halu juga menepis kabar jika warga sengaja berburu macan yang mengakibatkan mereka diserang.

"Enggak, kalau kita liat enggak. Karena kalau berburu pastinya ada peralatan dan luka buruan untuk si macannya, ini enggak ada. Hasil (nekropsi) pun traumatik ya. Posisi terdesak gitu tapi kemudian dia membela diri untuk keluar," ujarnya.

Macan kumbang yang menyerang tiga warga di Desa Tegalmanggung sendiri diketahui masih tergolong macan anakan. Halu memperkirakan usia macan kumbang itu antara 2-3 tahun. Itu berarti besar kemungkinan masih ada macan kumbang lain yang merupakan indukan di kawasan tersebut.

"Iya anakan. Usia sekitar 2-3 tahun. Jadi mendekati dewasa. (Indukan) ada, jelas ada. Di sekitar hutan Kareumbi," katanya.

(bba/yum)