Disabilitas yang Diperkosa Ayah di Pangandaran Sudah Melahirkan!

Aldi Nur Fadillah - detikJabar
Selasa, 16 Agu 2022 00:40 WIB
Baby leg fingers. Shallow DOF. Developed from RAW; retouched with special care and attention; Small amount of grain added for best final impression. 16 bit Adobe RGB color profile.
Ilustrasi bayi. (Foto: iStock)
Pangandaran -

Perempuan disabilitas berinisial PS di Pangandaran yang diperkosa ayahnya kini sudah melahirkan. Sang bayi laki-laki dilahirkan di RSUD Pandega, Pangandaran, pada Senin (15/8/2022) malam.

"Alhamdulillah tadi PS (18) melahirkan anak laki-laki sekitar pukul 22.00 WIB, bayinya sehat," kata Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Kabupaten Pangandaran Ida Nurlaela Wiradinata kepada detikJabar.

Ia berjanji akan memenuhi kebutuhan persalinan PS. Semua urusan persalinan dan kebutuhan kesehatan akan ditanggung Pemkab Pangandaran dan RSUD Pandega.


"Saat ini korban sudah membaik, kondisinya sehat," ucapnya.

Ida mengatakan, setelah PS melahirkan, untuk memastikan pelaku pemerkosaan adalah ayahnya, pihak RSUD Pandega akan melakukan tes DNA. Sebab, pelaku pemerkosaan adalah ayah dan tetangganya sejak Desember 2021.

"Tujuannya untuk memastikan bahwa pelaku yang sebenarnya hasil penyelidikan ayahnya dengan tetangganya," kata Ida.

Sementara itu, P2TP2A Pangandaran akan mengawal terus kasus pelecehan seksual kepada anak dibawah umur. "P2TP2A sejak tahun 2016 sampai sekarang terus berupaya mencegah menangani pelecehan seksual pada anak," ucap Ida.

Untuk menecegah terjadinya kasus, Pemkab Pangandaran salah satunya mencetuskan Pangandaran Menekan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak dengan cara Jemput Bola (Paneker Perak Jebol).

"Program tersebut sudah berjalan mulai tahun 2021, sudah disosialisasikan ke 93 desa di 10 Kecamatan," kata Ida.

Ida mengayakan, minimal dengan Program Paneker Perak Jebol, masyarakat mengetahui dan paham mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak.

"Oang tua harus mempunyai kesadaran yang tinggi untuk mencegah, dan membatasi peluang terjadinya kekerasan ataupun pelecehan diaekitar lingkungan sendiri," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, perempuan 18 tahun penyandang tunagrahita jadi korban pemerkosaan ayah durjana dan tetangganya. Kondisi gadis tersebut kini mengalami trauma.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBP3A) Pangandaran, Dodi Soleh Hidayat mengaku sangat prihatin atas kejadian yang menimpa gadis tersebut.

"Ya memang betul PS seorang disabilitas tunagrahita, usianya 18 tahun secara biologis, namun secara mental masih 6-7 tahun. Saat ini korban ditangani UPTD PPA Jabar untuk dilakukan trauma healing," kata Dodi kepada detikJabar saat ditemui. Senin (15/8/2022).

(orb/orb)