Kata Dokter RSHS Soal Bahaya Vape

Bima Bagaskara - detikJabar
Senin, 15 Agu 2022 14:45 WIB
Ilustrasi Vape
Ilustrasi Vape (Foto: ThinkStock/gawriloff)
Bandung -

Kebiasaan menghisap vape atau rokok elektrik telah menjadi gaya hidup baru di masyarakat. Alih-alih menghindari bahaya rokok konvensional, vape ternyata tak lebih baik sehat dari rokok biasa.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung Hendarsyah Suryadinata mengatakan sejak 2012 lalu organisasi kesehatan dunia atau WHO telah menyatakan vape sama bahayanya dengan rokok konvensional.

"Jadi tahun 2012 WHO sudah mengeluarkan rilis sebetulnya bahwa vape itu atau e-cigarettes itu sama bahayanya dengan merokok," kata Hendarsyah saat berbincang dengan detikJabar melalui sambungan telepon, Senin (15/8/2022).


Padahal menurut Hendarsyah, vape awalnya dibuat untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin berhenti merokok namun masih tetap ingin menikmati menghisap asap.

"Padahal kan awalnya vape itu tadinya untuk memfasilitasi yang merokok mau berhenti. Tapi ternyata dengan cara seperti itu sama saja dengan merokok," ujarnya.

Ia menjelaskan, komponen yang ada dalam vape dapat memberikan efek bahaya bagi tubuh. Asap vape kata dia bisa mengakibatkan iritasi pada mata dan hidung.

Selain itu, liquid yang digunakan pada vape juga dapat mengakibatkan penyakit pada paru-paru. Penyakit yang paling parah yakni kanker paru.

"Dari komponen vape itu asapnya terdiri dari beberapa unsur itu punya efek ke mata ke hidung itu sifatnya iritasi. Kemudian ada juga yang rasanya (liquid) itu bisa menyebabkan beberapa injury pada paru yang dapat memicu kanker paru," katanya.

"Jadi secara umum sama bahaya dengan rokok biasa. Jadi gabisa vape untuk menjembatani yang berhenti merokok," tegas Hendarsyah yang juga Dosen Universitas Padjajaran (Unpad).

Sebelumnya ramai diberitakan soal seorang pria yang mengalami hidropneumotoraks karena kebiasaan merokok tembakau dan nge-vape. Paru-paru pria itu dikabarkan bocor karena kebiasaannya itu.

Hasil dari pemeriksaan medis, pasien tersebut mengaku merokok sejak 10 tahun silam. Kemudian, dalam satu tahun terakhir ia aktif menggunakan rokok elektrik. Per harinya, ia menghisap rokok elektrik sebanyak 50 kali.

Lebih lanjut, hasil rontgen menunjukkan pria tersebut alami hidropneumotoraks. Penanganan medis pun dilakukan. Selang dipasang untuk mengeluarkan cairan dari paru-paru pria itu.

(bba/iqk)