Catatan Temuan Fosil di Sumedang dalam Tiga Bulan Terakhir

Nur Azis - detikJabar
Selasa, 16 Agu 2022 07:00 WIB
Fosil di Sumedang.
Fosil di Sumedang (Foto: Nur Azis/detikJabar)
Sumedang -

Sejumlah patahan demi patahan fosil satwa purba ditemukan di Desa Jembarwangi, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang. Fosil-fosil tersebut secara perlahan menguak awal mula terbentuknya pulau Jawa.

Berdasarkan catatan detikJabar, sejumlah fosil satwa purba ditemukan selama tiga bulan terakhir.

Pada pertengahan Juni 2022, sebuah fosil kura-kura utuh dan fosil buaya ditemukan di Blok Leuwiumbar, Desa Jembarwangi, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang. Fosil tersebut diperkirakan berusia antara 1 juta sampai 1,2 juta tahun yang lalu.


Seorang Arkeolog dari BRIN Bandung, Anton Ferdiyanto mengatakan fosil kura-kura utuh yang ditemukan berasal dari kura-kura jenis air tawar. Sementara untuk fragmen atau patahan fosil buaya berasal dari jenis gavialis dan crocodylus Sp.

Anton menyebut ukuran kura-kura saat hidup diperkirakan berdiameter sekitar 1 meter bahkan lebih. Sementara untuk buaya ukuran lebarnya sekitar 2 sampai 3 meter.

"Ukuran kura-kuranya kemungkinan bisa lebih besar lagi seperti fosil kura-kura yang ditemukan di Flores, kalau untuk buaya jika dilihat dari potongan fragmen kulit yang ditemukan, buaya itu sangat besar," katanya.

Anton menambahkan, berdasarkan fosil- fosil yang ditemukan, kawasan Cisaar, Desa Jembarwangi dapat direkontruksi dimana dulunya berupa laut dangkal yang kemudian berubah menjadi kawasan estuaria.

"Setelah kawasan estuaria kemudian berubah menjadi wilayah terestrial dengan aliran-aliran sungainya hingga kondisi lingkungannya seperti sekarang ini," ungkap Anton kepada detikJabar saat melakukan eskavasi saat itu.

Kemudian pada sekitar awal Juli 2022, tiga potongan (fragmen) diduga fosil hewan purbakala kembali ditemukan oleh Satgas Kepurbakalaan di Desa Jembarwangi.

Kepala Desa Jembarwangi, Fitriani Dewi menyebut tiga potongan fosil yang diduga peninggalan hewan purbakala kembali ditemukan oleh Satgas Kepurbakalaan Desa Jembarwangi pada pekan kemarin.

"Ada temuan lagi minggu kemarin oleh Satgas Purbakala Desa, tiga potongan fosil tapi belum diketahui fosil apa," ungkap Fitriani kepada detikJabar, Kamis (7/7/2022).

Fitriani mengatakan, ketiga patahan fosil tersebut saat ini tersimpan di Satgas Kepurbakalaan Desa. Fosil tersebut masih perlu diteliti lebih mendalam agar diketahui terkait usia dan jenis fosil tersebut.

"Untuk memastikan fosil itu fosil apa masih harus diteliti," ujarnya singkat.

Pada akhir Juli 2022, fosil diduga bagian dari tulang rusuk Stegodon (gajah purba) kembali ditemukan di Desa Jembarwangi, Kecamatan Tomo. Namun, temuan kali ini di area blok yang berbeda dari temuan fosil sebelumnya.

Kepala Desa Jembarwangi, Fitriani Dewi mengatakan, fosil tersebut ditemukan warga saat hendak membuka akses jalan menuju kebun pada sekitar akhir Juli lalu.

"Warga yang menemukan fosil saat itu hendak membuka akses jalan menuju kebun," ungkap Fitriani kepada detikjabar, Kamis (11/8/2022).

Fitriani memaparkan, lokasi temuan fosil kali ini berbeda dengan temuan-temuan fosil sebelumnya atau ditemukan di Blok Cirendang.

"Fosil ini jauh dari blok yang lain atau di area baru. Lokasinya cukup jauh dengan lokasi temuan fosil kura-kura yang belum lama ini ditemukan," ucapnya.

Ftriani menyebut, patahan-patahan fosil yang ditemukan diduga merupakan bagian dari tulang rusuk stegodon. Jika dirangkai, fosil tersebut panjangnya lebih dari 30 centimeter.

"Menurut para peneliti yang belum lama ini berkunjung ke Desa Jembarwangi, patahan-patahan fosil ini diduga bagian dari tulang rusuk stegodon," terangnya.

Penyelidik Bumi dari Museum Geologi Bandung, Unggul Prasetyo Wibowo yang belum lama ini mengunjungi Desa Jembarwangi menjelaskan bahwa tersebut diduga tulang rusuk Stegodon yang diperkirakan berusia kisaran 1 juta sampai 1,5 juta.

"Kalau di desa jembarwangi kemungkinan itu (Stegodon), usianya relatif sekitar 1 juta sampai 1,5 juta tahun," terang Unggul kepada detikjabar, Jumat (12/8/2022).

Unggul menjelaskan, lapisan batuan di lokasi temuan fosil tersebut sudah cukup tua. Dengan lapisan batuan seperti itu, kemungkinan yang hidup disana adalah gajah Stegodon.

"Kalau dilihat dari umur batuannya, belum ada gajah modern, masih gajah yang sudah punah atau Stegodon yang hidup di sana itu," terangnya.

Menurut Unggul, masa itu kawasan Desa Jembarwangi merupakan kawasan estuarin atau lingkungan transisi dari lautan hendak berubah menjadi daratan.

"Di sana saat itu terdapat beberapa muara sungai menuju ke lautan dangkal. Pada masa lingkungan estuarin itu banyak kehidupan di sana dan di sana juga terdapat hutan seperti hutan tropis seperti yang ada di Sumatra," katanya.

(iqk/iqk)