Kabar Nasional

Menakuti Anak dengan Suara 'Hantu' di TikTok, Pikirkan Efeknya!

Tim detikHealth - detikJabar
Senin, 15 Agu 2022 07:30 WIB
Ilustrasi Anak Menangis
Ilustrasi anak menangis. (Foto: Getty Images/iStockphoto/photocheaper)
Jakarta -

Menakut anak-anak dengan suara cekikikan ala hantu tengah jadi tren di Tiktok. Hati-hati, hentikan melakukan hal ini!

Tren menakuti anak-anak dengan suara cekikikan itu memang sedang banyak dilakukan pengguna TikTok belakangan ini. Dalam tren itu, anak diajak berpose di depan kamera. Setelah muncul suara cekikikan dari ponsel, anak-anak ditinggalkan sendirian di depan kamera.

Banyak anak yang terlihat menjerit ketakutan gara-gara tindakan ini. Bahkan, banyak yang melengkapi anak-anak itu dengan mengunci pintu agar si korban tak bisa kabur.


Tindakan seperti ini banyak memancing gelak tawa. Sebab, anak-anak begitu ketakutan dan oleh sebagian orang dianggap lucu.

Namun, ada catatan dari psikolog. Tindakan seperti itu mungkin dianggap biasa saja dan hiburan, tapi bagi anak-anak dampaknya bisa memicu trauma berkepanjangan.

Dikutip dari detikHealth, Senin (15/8/2022), psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani, SPsi, MSi, Psi, atau yang akrab disapa 'Nina' menjelaskan, setiap anak dengan usia berbeda memiliki tahap perkembangan kognitif berbeda.

Rasa takut pada beberapa hal tertentu pada anak-anak berusia di bawah tujuh tahun sebenarnya normal. Namun karena anak-anak tersebut belum bisa betul-betul membedakan realita dan fantasi, kondisi ditakut-takuti terasa lebih menakutkan sehingga berisiko terjadi trauma.

"Trauma di sini ini bukan sesuatu yang sangat mengerikan. Tapi dalam hal karena ini memang hal seperti sendirian, tidak ada orang yang dia percaya yang bisa menemani atau menjaga dalam kondisi tersebut, jadi ini memang bisa saja memunculkan trauma," terang Nina pada detikcom.

Efek yang ditimbulkan bahkan bisa melebar. Sehingga, perlu penanganan tepat bagi mereka yang pernah jadi korban keisengan orang yang dewasa.

"Trauma ini kalau tidak ditangani dengan tepat memang bisa kemudian melebar efeknya ke hal-hal lainnya," sambungnya.

Menurutnya selain kejadian ditakut-takuti, respons cepat setelah anak ditakut-takuti menentukan keparahan dan lama trauma pada anak. Pada kasus tren tersebut, jika anak tidak diberi perasaan aman setelah ditakut-takuti, besar risiko trauma pada anak berkepanjangan.

"(Misalnya) orang tua memperlihatkan bahwa ada tindakan tegas terhadap orang-orang yang memperlakukan itu terhadap anaknya. Katakanlah orang tuanya memarahi si kakak atau pemuda-pemuda yang melakukan hal itu. Anak itu kan betul-betul lebih merasa dia ditemani sehingga kejadian itu walaupun menakutkan tidak menjadikan traumanya berkelanjutan atau lebar-lebar efeknya," tegas Nina.

"Kalau orang di sekitarnya hanya bilang 'itu kan lucu, bohongan lagi' kan bingung. (Anak) belum memahami kondisi tersebut, dia merasa takut, kemudian orang lain bilang itu biasa saja. Itu kan disonansi kognitif, sesuatu yang membingungkan buat si anak. Jadi justru itu yang memunculkan trauma itu tidak terproses dan jadinya bisa melebar ke kondisi-kondisi lain," pungkasnya.

(orb/orb)