Langkah Pemkot Soal Kisruh Dana Nasabah Koperasi di Sukabumi Tak Cair

Siti Fatimah - detikJabar
Jumat, 12 Agu 2022 20:30 WIB
Ilustrasi uang rupiah
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/Squirescape)
Sukabumi -

Kisruh dana tabungan nasabah koperasi simpan pinjam (KSP) Sejahtera Bersama di Kota Sukabumi masih berlanjut dengan dana simpanan mencapai Rp 100 miliar! Mereka bahkan sempat melakukan audiensi ke kantor cabang yang berlokasi di Jalan R. E Martadinata, Kota Sukabumi.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumindag) Kota Sukabumi Ayi Jamiat menyatakan akan memanggil kepala cabang untuk dimintai keterangan. Menurutnya, kondisi tersebut akan berpengaruh pada stabilitas koperasi yang ada di Kota Sukabumi.

"Iya (akan memanggil Kepala Cabangnya) saya cek dulu dan akan datangkan. Tapi memang kita tidak bisa masuk ke internal, ada pengawas koperasi, pengurus, jadi kita hanya memonitoring saja, menjaga stabilitas dan memanggil untuk mengetahui permasalahannya apa," jelas Ayi saat dihubungi detikJabar, Jumat (12/8/2022).


Dia menjelaskan, permasalahan mengenai dana macet itu tak hanya terjadi di Kota Sukabumi saja, akan tetapi hampir merata se-nasional. Bahkan, kata dia, KSP Sejahtera Bersama sudah masuk dalam daftar sanksi Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) yaitu sebagai koperasi yang diawasi khusus.

"Iya ini nasional permasalahannya. Data Provinsi itu masuk ke koperasi yang diawasi oleh Kementerian Koperasi. Jadi kewenangannya pusat, dari dinas hanya memonitor saja, melaporkan ke provinsi dan pusat," ujarnya.

Salah satu nasabah, Budi Wijaya mengatakan, pada Kamis (11/8) kemarin belasan nasabah sempat melakukan audiensi ke kantor cabang Kota Sukabumi. Mereka menuntut agar pihak koperasi dapat memberikan dana tabungan dan transparansi.

"Jadi kita ke kantor lagi, cuman kasarnya semua PHP (Pemberi Harapan Palsu) lagi. Anggota saya Rp 400 juta cuman dikasihnya Rp 500 ribu," kata Budi melalui panggilan telepon.

Total duit tabungan nasabah yang belum dicairkan cukup besar. Bahkan per nasabah ada yang mencapai miliaran rupiah.

"Kurang tahu pasti (total) angkanya, sekitar di atas Rp 100 miliar. Nggak tentu tiap orang, ada yang jutaan, ratusan juta sampai miliaran," ujarnya.

"Jadi alasannya cash-in, nunggu pendapatan sedangkan untuk operasional kantor itu rutin. Jadi tiap bulan lancar, operasional kantor, gaji kepala cabang segala macam, sedangkan gaji kepala cabang itu uang anggota juga. Kalau kita biarin terus bisa habis" sambungnya.

Dia menuturkan, tuntutan mereka adalah prioritas pencairan dana tabungan yang saat ini dibutuhkan untuk biaya pendidikan anak, biaya modah usaha dan lain-lain. Selain itu, pihaknya juga meminta transparansi koperasi cabang Sukabumi terkait data pemberian dana bagi nasabah.

"Intinya kita yang datang ingin diprioritaskan pembayaran karena butuh banget dan posisi sangat menderita. Tuntutannya kembali dana dan transparansi karena nggak transparan. Kita curiga yang dapat orangnya itu-itu saja," tutupnya.



Simak Video "Dua Warga Sukabumi Tewas Tertimbun Longsor Saat Bangun TPT Fondasi Rumah"
[Gambas:Video 20detik]
(dir/dir)