Kabar Internasional

Matinya Matahari dan Prediksi Sisa Umurnya

Tim detikInet - detikJabar
Jumat, 05 Agu 2022 05:30 WIB
TORONTO, ONT - JUNE 24: The sun rises behind the downtown skyline and the CN Tower on June 24, 2022, in Toronto, Ontario. (Photo by Gary Hershorn/Getty Images)
Foto: Ilustrasi (Corbis via Getty Images/Gary Hershorn).
Jakarta -

Matahari sebagai pusat tata surya tak selamnya akan bersinar. Silau dan hangatnya pancaran sinar matahari kabarnya juga akan mati dimakan usia.

Dikutip dari detikInet, Matahari saat ini berusia sekitar 4,6 miliar tahun diukur dari benda lain di Tata Surya yang terbentuk di waktu yang sama. Dari pengamatan bintang-bintang lain, Matahari mungkin memiliki sisa umur 10 miliar tahun lagi.

Matinya Matahari tidak begitu saja terjadi. Namun ada proses yang mengiringi matinya Matahari.


Seperti dalam waktu kurang lebih 5 miliar tahun, Matahari akan berubah menjadi bola merah raksasa. Inti bintang akan menyusut. Tapi, lapisan luarnya meluas ke orbit Mars sehingga akan menelan Planet Bumi.

Itu pun apabila Planet Bumi masih ada. Karena faktanya umat manusia diperkirakan hanya memiliki sekitar 1 miliar tahun tersisa.

Pasalnya setiap miliar tahun Matahi mengalami peningkatan kecerahan sekitar 10 persen. Kondisi itu akan menggerogoti kehidupan di bumi. Lautan akan menguap dan permukaannya akan terlalu panas untuk membentuk air.

Selain itu, sebuah pemodelan komputer menemukan nasib akhir Matahari. Seperti 90% bintang lainnya, Matahari kita kemungkinan besar akan menyusut dari raksasa merah menjadi katai putih dan kemudian berakhir sebagai nebula

"Ketika sebuah bintang mati, ia mengeluarkan massa gas dan debu, yang dikenal sebagai selubungnya, ke luar angkasa. Selubung itu bisa mencapai setengah massa bintang," ujar astrofisikawan Albert Zijlstra dari University of Manchester di Inggris, salah satu penulis makalah.

Uniknya, ketika Matahari kehabisan bahan inti, Matahari tidak akan menciptakan Nebula yang begitu terang. Nebula relatif umum di seluruh alam semesta dan banyak yang dapat diamati. Yang terkenal misalnya Nebula Helix dan Bubble Nebula.

Dari pemodelan di tahun 2018 itu menunjukkan bahwa Matahari berada di sekitar batas bawah massa untuk sebuah bintang yang dapat menghasilkan nebula yang terlihat jelas. Dengan kata lain, saat mati, Matahari kita tidak akan menghasilkan nebula yang bersinar seterang nebula lainnya. Demikian melansir Science Alert, Kamis (4/8/2022).

(mso/mso)