Ini Cara Unik Dedi Mulyadi Hentikan Penambangan Liar di Garut

Hanifah Widyas - detikJabar
Senin, 01 Agu 2022 12:36 WIB
Dedi Mulyadi
Foto: Dedi Mulyadi
Jakarta -

Dalam rangka menghadiri sebuah kegiatan, anggota DPR RI Dedi Mulyadi berkunjung ke daerah Garut Selatan melalui jalur Pangalengan-Garut. Dalam perjalanannya, Dedi melihat banyak kawasan yang berpotensi longsor akibat banyak pohon yang ditebang dan penambangan pasir juga batu.

"Semestinya daerah ini tidak boleh lagi ada pohon yang ditebang. Andai kata ini kayu milik warga maka pemerintah bisa mengganti kayu itu dengan uang, karena (recovery) bencana lebih mahal daripada mengganti pohon itu," ujar Dedi dalam keterangan tertulis, Senin (1/8/2022).

Dedi menganggap penebangan pohon yang dilakukan oleh warga dilandasi oleh alasan ekonomi. Menurutnya, banyak warga yang merasa berhak menebang pohon tersebut tanpa memikirkan dampaknya.


Dengan pemikiran itu, ia meminta pihak terkait, mulai dari pemerintah daerah hingga kementerian, untuk melakukan pencegahan bencana, salah satunya dengan membeli pohon para warga agar tidak ditebang.

"Warga butuh duit karena merasa mereka yang menanam pohon, ganti duitnya yang tidak seberapa dengan dampak bencana. Kalau longsor bisa habis ratusan juta, miliaran lagi," ucapnya.

Sementara itu, Dedi juga melihat dua unit alat berat yang diduga digunakan untuk menambang batu. Penambangan tersebut berada tepat di sisi jalan raya dan sangat membahayakan pengendara jika terjadi longsor. Tak hanya itu, bekas tambang juga menutupi aliran air yang berpotensi meluap jika terjadi hujan deras.

"Pasti ini tidak berizin, mohon segera untuk ditertibkan karena daeran rawan," katanya.

Dalam perjalanan di Desa Sukarame, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut, Dedi kembali bertemu dengan seorang pria bernama Furqon. Diketahui Furqon tengah melakukan penggalian di lahan pinggir jalan yang juga berpotensi menyebabkan longsor.

Rupanya, Furqon melakukan penambangan di lahan miliknya sendiri itu untuk menjual batu ke proyek pelebaran jalan di daerah Bungbulang. Ia mengaku sudah tiga kali mengirim batu ke sana. Dalam satu kali pengiriman, Furqon sanggup meraup pendapatan sebesar Rp250.000.

Awalnya, Dedi Mulyadi geram melihat banyaknya penambangan dan penebangan liar. Namun, ia menggunakan cara unik untuk membuat pelaku bertobat, yakni dengan berbicara hati ke hati mengenai dampak lingkungan ke depannya.

"Ini potensi longsor gak? Sok pikirkan jangan pakai nafsu (karena uang) tapi pakai hati," ucap Dedi.

Mendengar pertanyaan Dedi, Furqon sempat berpikir lama kemudian dengan wajah tertunduk mengiyakan jika hal yang dilakukannya bisa menyebabkan bencana.

"Ya mungkin juga, karena namanya alam kan gak tahu," kata Furqon.

Menurut Dedi, dampak penambangan mungkin belum terasa saat musim kemarau. Namun, jika sudah masuk musim hujan, maka potensi longsor sangat besar. Apalagi lokasi tambang yang berada di pinggir jalan.

"Kalau ini longsor ada mobil lewat orang tertimpa mati bisa diganti uang gak? Batu ini punya fungsi menahan sama seperti tulang di tubuh manusia. Kalau tubuh tidak ada tulang bagaimana?" tanya Dedi.

Dedi juga merasa kecewa dengan pemerintah, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten, yang seakan-akan membiarkan penambangan dan penebangan liar terjadi. Padahal, jalur Pangalengan-Garut sejak lama dikenal sebagai daerah rawan longsor.

"Sok sekarang akang jujur ini ada potensi longsor gak? Akang sekarang ada niat gak untuk menghentikan tambang yang berpotensi merugikan banyak orang? Kalau longsor semuanya rugi, kalau ada kendaraan lewat orang bisa meninggal nanti hidupnya susah," tanya Dedi pada Furqon.

Furqon sempat menolak untuk menghentikan kegiatan tersebut sebab ia membutuhkan pemasukkan tambahan untuk membayar utang. Adapun penghasilan utama Furqon dengan berdagang hanya mampu untuk membeli kebutuhan pokok sehari-hari.

Dengan komunikasi hati ke hati, Kang Dedi kembali menjelaskan bahwa apa yang dilakukan Furqon sangat membahayakan. Bahkan, Furqon bisa dipidanakan jika sampai terjadi longsor dan mengakibatkan korban.

"Iya, Pak. Saya mau berhenti," jawab Furqon.

Mendengar janji tersebut Dedi pun kemudian memberikan sejumlah uang sebagai pengganti penghentian kegiatan tambang. Ia pun memberikan uang tambahan untuk merapikan bekas tambang dan menggantinya dengan menanam pohon.

"Mudah-mudahan pemda bisa tergerak karena ini sangat rawan. Harus segera ada tindakan jangan ada pembiaran, jangan nunggu bencana yang lebih besar. Mencegah itu lebih utama daripada kita harus nunggu bencana. Kalau tidak ada izinnya saya minta pemda dan jajaran Polres Garut untuk menutup penambangan liar," pungkas Dedi.



Simak Video "Momen Anggota DPRD Garut Ngamuk, Gebrak Meja-Banting Mic saat Rapat"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)