Cerita Warga Biasa

Air Mata Maulana di Depan Gedung Sate

Sudirman Wamad - detikJabar
Senin, 25 Jul 2022 15:05 WIB
Maulana, guru honorer menyuarakan aspirasi di Gedung Sate.
Maulana, guru honorer menyuarakan aspirasi di Gedung Sate. (Foto: Sudirman Wamad/detikJabar)
Bandung -

Maulana, salah seorang guru honorer asal Kabupaten Garut, Jabar, ikut berunjuk rasa di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (25/7/2022). Ia berurai air mata saat berunjuk rasa.

Maulana mengenakan penutup kepala oranye. Tak lama setelah tiba di depan gerbang utama Gedung Sate, Maulana bersama rekannya membentang spanduk bertuliskan 'Mohon Angkat Langsung Guru Honorer yang Lulus PG PPPK Menjadi Guru PPPK 2022 Tanpa Tes'. Maulana merupakan seorang guru honorer di SMKN 14 Garut yang lulus passing grade (PG) PPPK.

Maulana meneteskan air mata saat membentangkan spanduk. Ia mengenakan ikat kepala berwarna oranye. Air matanya tak terbendung saat orator unjuk rasa menyampaikan kondisi guru honorer saat ini. Sesekali Maulana menundukkan kepala. Mengusap air matanya. Wajahnya pun memerah.


Ikat kepala oranye yang ia kenakan seakan menjadi tanda siap berjuang. Sebab nasibnya kini terkatung-katung. PPPK salah satu tujuannya. Baginya, unjuk rasa hari ini adalah gambaran ironi nasib guru honorer.

"Hari ini kami demo. Kami berdiri di depan Gedung Sate, mengharapkan bisa bertemu Gubernur Jabar Ridwan Kamil," kata Maulana sembari meneteskan air mata.

Maulana berdiri tegak. Tak goyah dengan teriknya matahari. Guru olahraga itu mengaku sedih. Selama ini, ia berjuang memuliakan anak didiknya, menyiapkan generasi bangsa yang beradab. Tapi, hari ini, Maulana juga terkatung-katung memperjuangkan nasibnya sendiri.

"Tapi, nasib gurunya sendiri seperti ini. Harus berdiri di sini demi nasibnya. Jujur, merasa terhina harus berdiri di sini," ungkap guru lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu.

Maulana mengajar sebagai guru honorer sejak 2013. Pelan-pelan ia berjuang. Upah yang minim tetap ia syukuri. Ia bercita-cita bisa menjadi guru yang manut aturan. Tapi, aturan atau regulasi pemerintah belum berpihak pada Maulana.

Delapan tahun sejak jadi guru honorer, Maulana ikut ujian passing grade PPPK. Ia berhasil lulus tahun lalu. Namun, tak kunjung mendapatkan kepastian tentang penempatan dan status PPPK. Aturan anyar tentang penghapusan honorer menambah deritanya, jam mengajar Maulana pun berkurang.

"Dulu 24 jam (ngajar) dalam seminggu. Sekarang 16 jam. Kami ingin meminta kepastian," kata Maulana.

Bekerja serabutan demi penuhi kebutuhan. Simak di halaman selanjutnya.