Cerita Warga Biasa

Kurnia sang Guru Honorer Bandung yang Menanti Kepastian

Muhammad Fadhil Raihan - detikJabar
Senin, 25 Jul 2022 13:59 WIB
Kurnia (52), guru honorer yang digantung nasibnya.
Kurnia (52), guru honorer yang 'digantung' nasibnya. (Foto: Muhammad Fadhil Raihan/detikJabar)
Bandung -

Suara riuh demonstrasi terdengar ramai di halaman depan Gedung Sate, Kota bandung, Senin (25/7/2022). Sang orator berteriak menyuarakan aspirasi sambil sesekali meneteskan air mata.

Setelah menahan beribu pilu, kini pahlawan tanda jasa mulai bersuara. Bukan menuntut namanya diagungkan, mereka hanya meminta janji-janjinya ditepati.

Kurnia (52) adalah salah satu pahlawan tanpa tanda jasa yang ikut demonstrasi di Gedung Sate itu. Aksi tersebut dilancarkan oleh Forum GLPGPPPK (Guru Lulus Passing Grade Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) Jawa Barat yang menuntut kepastian nasibnya.


Kurnia merupakan satu dari 3.729 guru yang lulus tes PPPK yang nasibnya masih digantungkan. Ia sudah menunggu setahun mengenai kepastian nasibnya sebagai GLPG.

"Kurang lebih satu tahun saya menunggu kepastian ini. Saya tes di tahun 2021, sampai sekarang masih di-PHP-in. Saya juga masih mengajar di sekolah yang lama," ucap Kurnia yang mengajar di SMK 3 Muhammadiyah Kuningan.

Ikut PPPK Demi Memperbaiki Nasib

Tujuan Kurnia mengikuti PPPK adalah untuk memperbaiki nasibnya sebagai guru honorer. Namun, bukannya mendapatkan perbaikan nasib, ia malah mendapatkan ketidakpastian.

"Untuk mengubah nasib, dari yang gaji kecil guru honorer supaya ada peningkatan dan supaya status kepegawaiannya lebih, jelas," tambah Kurnia yang mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

Kurnia mengaku pendapatannya sebagai guru honorer berkisar Rp700-800 ribu per bulan. Upah tersebut ia dapatkan dari 30 jam kerja setiap minggunya dengan dihitung Rp25 ribu per jamnya.

Untuk menambah penghasilan, Kurnia memiliki usaha sampingan dengan membuka warung di rumahnya. Ia mengaku dari usaha sampingan tersebut ia mendapatkan sekitar Rp500 ribu setiap bulannya.

Dengan upah yang terbatas, Kurnia tetap menikmati pekerjannya sebagai guru. Ia juga mengaku kerap terhibur ketika mengajar siswa yang umurnya terpaut jauh.

"Sambil hiburan aja lah, gaul dengan anak-anak. Biarpun saya sudah tua, kalau dengan anak-anak rasanya terhibur gitu," jelas Kurnia.

Anak Meneruskan Pekerjaan Mulia

Kurnia memiliki dua anak yang sama-sama meneruskan kemuliaanya sebagai guru. Anak pertama Kurnia menjadi guru honorer di SMKN 1 Kuningan. Sementara anaknya yang kedua masih menempuh pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia.

Meskipun berkarier di bidang yang sama, Kurnia berharap anaknya mendapatkan nasib lebih baik.

"Ibaratnya tuh kan kalau bapaknya seperti ini yang menjadi honorer puluhan tahun, anaknya semoga memiliki nasib lain," harap Kurnia.

Kini, masa bakti Kurnia sebagai guru hanya sekitar 8 tahun lagi sebelum pensiun. Di waktu yang singkat ini, Kurnia berharap dapat segera mendapatkan kepastian mengenai nasibnya sebagai GLPGPPPK.

Bukan cuma untuk memperbaiki nasib, Kurnia berharap pemerintah setempat dapat menepati janji-janjinya kepada para pahlawan tanda jasa.

(ors/ors)