Ditolak Warga, Pemkot Tetap Jadikan Jalan Cihideung Jadi Pedestrian

Faizal Amiruddin - detikJabar
Selasa, 19 Jul 2022 17:16 WIB
Kawasan Jalan Cihideung Kota Tasikmalaya.
Foto: Kawasan Jalan Cihideung Kota Tasikmalaya (Faizal Amiruddin/detikJabar).
Tasikmalaya -

Ratusan pemilik toko di Jalan Cihideung Kota Tasikmalaya protes karena kawasan itu hendak dijadikan kawasan pedestrian tanpa ada akses jalan.

Namun pemerintah kota Tasikmalaya menyatakan akan terus memaksakan pembangunan sesuai rencana awal.

"Pekerjaannya jalan saja dulu, kalau itu kan soal fungsional, nanti kita matangkan kembali. Yang pasti konsepnya begitu (pedestrian)," kata Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya Ivan Dicksan, Selasa (19/7/2022).


Ivan mengaku sudah menerima laporan terkait keluhan warga Cihideung tersebut. "Tapi kalau untuk penghuni masih memungkinkan dilewati kendaraan. Nanti diatur jalannya, nggak saklek juga," kata Ivan.

Namun untuk area parkir Ivan menegaskan di Jalan Cihideung tidak akan disediakan atau tidak diperbolehkan. "Kalau parkir keliatannya nggak, untuk lokasi parkirnya nanti diatur oleh Dishub," kata Ivan.

Terkait dampak proses pembangunan yang menyebabkan gangguan bagi pemilik toko, pedagang kaki lima dan petugas parkir pihaknya menyebut hanya sementara. Dia meminta kebesaran hati warga agar bisa mendukung jalannya pembangunan.

"Kalau terkait proses pembangunan atau adanya galian, bisa dikasih jembatan darurat. Itu konsekwensi pembangunan, hanya sementara. mohon dimaklumi," kata Ivan.

Sementara itu Ferey Herman, salah seorang pemilik toko di Jalan Cihideung sekaligus pengamat sosial ekonomi mengatakan Jalan Cihideung merupakan kawasan pusat niaga dengan berbagai komoditas.

Menjadikan kawasan itu menjadi pedestrian tanpa adanya akses kendaraan menurut dia akan mematikan geliat ekonomi di kawasan itu.

"Barang yang dijual di Jalan Cihideung itu beragam, ada barang-barang berukuran besar seperti elektronik, grosir dan lainnya. Itu akan menyulitkan konsumen. Bisa dibayangkan orang belanja terigu berkarung-karung atau membeli kulkas dan mesin cuci, tapi harus membawanya jauh dari kendaraan," kata Ferey.

Sebuah kawasan pusat niaga ragam komoditas menurut dia tidak cocok jika dijadikan pedestrian dan jauh dari akses kendaraan layaknya tempat wisata.

"Mungkin bisa belajar dari kawasan Cibadak Bandung. Sempat ditutup akses, tapi akhirnya mematikan aktivitas usaha di sana," kata Ferey.

Dia juga menganjurkan agar Pemkot Tasikmalaya melakukan kajian yang komprehensif dan turun langsung ke lapangan sebelum mengambil kebijakan.

"Kalau penataan trotoar dan drainase kami mendukung sepenuhnya. Namun ketika akses kendaraan ditutup kami keberatan. Mohon pemerintah mengkaji ulang rencana itu, sebelum terlanjur dibangun," kata Ferey.

Dari informasi papan proyek diketahui untuk penataan Jalan HZ Mustofa dialokasikan anggaran Rp 4,4 miliar. Sementara untuk penataan di Jalan Cihideung Rp 5 miliar lebih.

(mso/mso)