7 Fakta Kemunculan Kodok Merah di Gunung Salak

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Kamis, 14 Jul 2022 08:02 WIB
Kodok Darah atau Kodok Merah di Kawasan TNGHS
Kodok Darah atau Kodok Merah di Kawasan TNGHS (Foto: Rahmat Hidayat/KLHK)
Sukabumi -

Kodok Darah atau dikenal dengan sebutan Kodok Merah menampakkan diri di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Satwa langka bernama latin Leptophryne cruentata itu ditemukan pada saat penutupan kawasan TNGHS di awal pandemi 2020 silam.

Beberapa fakta terkait munculnya satu-satunya amfibi yang masuk ke dalam deretan satwa dilindungi dalam PP No 7 Tahun 1999 itu sangat menggembirakan. Artinya kawasan tempat kodok itu berada masih lestari.

1. Muncul Setelah 5 Tahun Hilang


Kodok Merah ditemukan muncul pada tahun 2020 silam, terakhir satwa nokturnal itu juga terlihat di tahun 2021. Menurut pihak TNGHS penantian munculnya Kodok Merah itu sudah ditunggu selama 5 tahun terakhir.

"Juni tahun 2020 ketika memasuki masa Pandemi COVID-19, kami bersama tim survey bersama-teman-teman TNGHS menemukan kodok merah atau kodok darah itu di kawasan TNGHS yang memang dinyatakan ini satu-satunya jenis kodok yang dilindungi. Sejak 5 tahun itu tidak ditemukan keberadaanya," kata Munawir, Direktur Perencanaan Kawasan Konservasi KLHK kepada detikJabar, Rabu (13/7/2022).

Saat itu, Munawir yang masih menjabat sebagai Kepala Balai TMGHS mengatakan bahwa saat awal pandemi kawasan TNGHS ditutup. Dengan adanya penutupan itu, proses pemeliharaan secara alami kawasan tersebut berlangsung. Saat survey dilakukan itulah kemudian si Kodok Merah ditemukan.

"Nah kemudian akhirnya ketemu kawan-kawan itu pertama ketemu di Blok Loji, ketemu si kodok ini tentu kita senang karena waktu itu dinyatakan sudah enggak ketemu. Kita saat itu sempat publish di web kita kembali menemukan setelah 5 tahun tidak ditemukan," ungkap Munawir.

2. Penanda Lestarinya Suatu Kawasan

Kemunculan Kodok Merah menandakan masih lestarinya suatu kawasan. Ini mengartikan, masih kata Munawir kawasan TNGHS masih terjaga ekosistemnya dan tidak tercemar.

"Kodok jenis ini menjadi penanda masih alaminya atau bagusnya suatu ekosistem. Jadi kehadiran kodok itu di tempat tersebut itu menandakan bahwa daerah itu tidak tercemar daerah itu bersih, nah dia tidak akan bisa hidup di tempat yang daerah itu tercemar alias tidak terjaga kelestariannya," ujar Direktur Perencanaan Kawasan Konservasi KLHK kepada detikJabar, Rabu (13/7/2022)..

Kemunculan Kodok Merah amatlah penting sebagai penanda kelestarian sekaligus pantasnya sebuah kawasan dilabeli kawasan konservasi.

"Jadi itu yang menjadi sangat penting bahwa dengan adanya kodok ini di kawasan tersebut bisa dikatakan bahwa TNGHS pantas disebut kawasan konservasi karena dia masih terjaga kealamiannya, itulah gunanya TNGHS harus dijaga dalam konteks Bio Diversity nya, pasti punya fungsi dengan adanya macan tutul ada Owa Jawa ada Elang Jawa banyak jenis lain yang tentu memiliki fungsi-fungsi di ekologinya termasuk kodok yang tadi," pungkas dia.



Simak Video "Begal Dikeroyok Warga di Bandung, Disebut Sempat Todongkan Pistol"
[Gambas:Video 20detik]