Surat Kematian dan Pria Sukabumi Kembali Muncul Usai Dinyatakan Tewas

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Kamis, 23 Jun 2022 18:51 WIB
Lokasi hilangnya AK (38) di Karang Hawu
Lokasi hilangnya AK (38) di Karang Hawu, Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar).
Sukabumi -

Sebuah dokumen berisi surat pernyataan yang ditandatangani oleh orang tua AK (38) menjadi saksi bisu hilangnya pria tersebut pada tahun 2020 silam. Dalam surat itu, pihak keluarga menyatakan bahwa AK sudah meninggal dunia.

Dalam surat tertanggal 12 Februari 2020 itu, tertulis identitas kedua orang tua dan nama serta alamat jelas AK. Terdapat juga tandatangan saksi terdiri dari Ketua RT, Ketua RW dan adik AK. Surat itu juga distempel resmi oleh RT, RW dan Kepala Desa Pasanggrahan.

"Pada hari Juma'at 24 Januari 2020 MENYATAKAN telah Meninggal Dunia. Adapun hal-hal mengenai kronologi kejadian pihak keluarga meyakini dan tidak akan MELIBATKAN pihak manapun ini adalah pernyataan MURNI Kami sebagai Orang tua Almarhum. Demikian Pernyataan ini kami buat dengan sebenarnya, dan apabila dikemudian hari ada tuntutan dari pihak manapun,kami sebagai orang tua akan bertanggung jawab sepenuhnya," dikutip detikJabar dari surat tersebut, Kamis (23/6/2022).


Gadang Erdiansyah, ketua RW tempat AK tinggal membenarkan surat tersebut dibuat oleh pihak keluarga. Nama Gadang sendiri tertulis dalam surat pernyataan tersebut.

Ia membenarkan kemunculan AK memang ramai karena sebelumnya sempat dinyatakan hilang di lokasi wisata Karang Hawu, Kecamatan Cisolok.

"Oh ia nuju rame ayeuna (sedang ramai sekarang)," kata Gadang saat detikJabar melakukan konfirmasi.

Gadang mengungkap fakta, AK sebenarnya sudah pulang setahun yang lalu. Meskipun begitu, ia tidak pernah mengetahui posisi AK saat ini.

"Jadi sebetulnya sudah pulang setahun yang lalu. Kurang lebih setahun yang lalu, kurang lebihnya ya. Pastinya nggak tahu, sampai sekarang belum pernah ketemu. Tapi kalau ngupingmah (mendengar) sering pulang ke sini. Dia punya rumah sendiri di sini keluarganya juga di sini," ucap Gadang.

Gadang mengaku belum pernah bicara dengan keluarga AK, terkait kisah hilang lalu kemudian pulang. Soal dokumen surat pernyataan, ia membenarkan hal itu dibuat atas permintaan keluarga dan dilakukan di kantor desa.

"Dibuat di desa, pihak desa (lalu) mengeluarkan surat kuning itu dulu (keluarga) membuat pernyataan meninggal. Tapi desa meresponsnya bikin surat kuning itu isinya hilang tenggelam (bukan meninggal). Ada RT, RW kades kalau enggak salah. Itu pernyataan keluarga saja, kalau pemerintahan surat kuning tapi menyatakan hilang tenggelam," ujar Gadang.

Meski begitu, Gadang menjelaskan warga sejak awal sebenarnya tidak terlalu kaget. Karena meyakini AK tidak sampai meninggal dunia. "Nggak terlalu kaget juga, dari dulu beranggapannya kalau orang sini gitu, nggak sampai meninggal," ujarnya.

(sya/mso)