Jabar Hari Ini: Geger GBLA Retak hingga 15 Warga Gabung Khilafatul Muslimin

Tim detikJabar - detikJabar
Selasa, 14 Jun 2022 23:00 WIB
Stadion Gelora Bandung Lautan Api akan digunakan untuk pertandingan Piala Presiden 2022. Jelang pertandingan, area stadion dibersihkan.
Stadion GBLA Bandung (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Bandung -

Beragam peristiwa terjadi di Jawa Barat (Jabar) hari ini. Mulai dari Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) yang disorot karena retak-retak hingga polisi menyebut 15 warga Cianjur telah bergabung dengan kelompok Khilafatul Muslimin.

Berikut rangkuman Jabar Hari Ini, Rabu (14/6/2022):

GBLA Disorot Karena Retak


Stadion GBLA telah resmi ditunjuk sebagai venue pertantingan Grup C Piala Presiden 2022. Setelah melangsungkan beberapa laga, GBLA menjadi sorotan karena terdapat area keretakan di beberapa titik.

Retakan ditemukan pada bagian lantai hingga tembok stadion. Belum lagi pagar pembatas tribun dan bangku penonton yang mulai berkarat hingga fasilitas penunjang lainnya yang lama tak digunakan.

Kerusakan di beberapa titik Stadion GBLA banyak ini pun dikeluhkan penonton. Foto-foto detail kerusakan itu juga beredar luas di media sosial. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat membahayakan penonton saat menyaksikan jalannya pertandingan.

Ketua Organizing Committee (OC) Piala Presiden Akhmad Hadian Lukita mengaku, sebelum turnamen pramusim itu digelar pihaknya telah meninjau langsung Stadion GBLA. Dari hasil peninjauan itu, Lukita mengatakan memang ada beberapa bagian stadion yang sedang diperbaiki.

"Tentu LOC (panpel) sudah memeriksa dan saya juga sudah tanya-tanya juga. Katanya memang ada beberapa yang sedang diperbaiki. Secara prinsip katanya aman dan saya percaya dengan pernyataan LOC," kata Lukita, Senin (13/6/2022).

Kerusakan di GBLA juga turut ditanggapi Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) Umuh Muchtar. Ia memastikan kondisi bangunan stadion masih kokoh untuk menampung penonton.

"Menurut saya fisik bangunan kuat, cuma ada pagar yang keropos, tolong jangan disentuh. Ada juga tembok gitu yang retak harus menjauh lah penonton (dari tembok retak)," jelas Umuh.

Meski begitu Umuh, menyebut kondisi bangunan yang retak cukup membahayakan penonton. Oleh karena itu, ia telah meminta petugas dan Bobotoh menghindari titik di mana bangunan rusak.

"Iya bahaya ya, tapi kan tidak ada yang masuk ke situ, dicari yang aman. Bobotoh sudah tahu mana yang retak dan tempatnya sudah ditutup ya," ujarnya.

Selain Umuh, Wali Kota Bandung Yana Mulyana turut memberikan penjelasan mengapa Stadion GBLA mengalami retak-retak pada beberapa bagiannya. Yana memastikan retakan itu timbul bukan karena faktor kontruksi bangunan stadion yang mengalami kerusakan.

"Jadi memang bangunan itu berpisah. Mungkin karena penurunannya enggak bareng, terlihat seperti retak," kata Yana saat ditemui wartawan saat kunjungan ke kantor PMI Kota Bandung di Jalan Aceh, Selasa (14/6/2022).

Yana menerangkan, GBLA dibangun dengan kontruksi berkonsep dilatasi, yaitu beberapa bangunan dibangun terpisah lalu disambung menggunakan garis pada sebuah bangunan yang memiliki perbedaan sistem struktur.

Menurutnya, tribun di Stadion GBLA dibangun menggunakan konsep tersebut. Sehingga, terlihat seakan-akan itu seperti terjadi retakan. Namun ia memastikan, GBLA tak mengalami kerusakan apapun.

"Enggak, itu kan sebetulnya dilatasi itu pasti ada. Di sudut itu dilatasi dan memang sengaja dibuat. Dia memang enggak nyambung kan, jadi memang bangunan itu terpisah," ungkapnya.

Yana Mulyana juga mengimbau agar penonton tetap menghuni tribun bawah saat hendak menyaksikan pertandingan.

"Iya, kemarin ada rekomendasi dari pihak kepolisian. Terus dari kita satgas supaya jangan terlalu banyak, jadi minimal di tribun bawah," ucap Yana.

Penyelamatan Dramatis Pemotor dan Bayinya yang Jatuh di Jembatan Sukabumi

Aksi penyelamatan korban pemotor yang jatuh dari Jembatan Bagbagan, Sukabumi pada Senin (13/6/2022) berlangsung dramatis. Saat itu ada tiga korban, salah satunya bayi berusia 8 bulan yang diselamatkan seorang warga bernama Ece Supriadi alias Bustong.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 17.30 WIB itu bermula saat Bustong mendengar teriakan minta tolong. Ternyata, teriakan itu berasal dari pemotor berboncengan yang terjun ke sungai. Sontak, ia langsung melompat ke sungai arah jatuhnya korban.

"Saat itu posisi saya diam di bengkel terdengar suara ada teriakan minta tolong katanya ada yang jatuh ke kali, saya spontan lari ke bawah untuk mengevakuasi yang terjun ke sungai dan ternyata betul ada yang kelihatan dua orang itu suami istri," kata Bustong kepada detikJabar, Selasa (14/6/2022).

Korban jatuh dari ketinggian sekitar 35 meter ke arus sungai Cimandiri. Saat itu, Bustong hanya melihat Dilfa (22) dan istrinya Seftia (20). Sambil meraih keduanya, tatapan Bustong melihat ke sekeliling sungai karena korban Seftia berteriak lirih soal bayinya Delfan (8 bulan) yang ikut terjatuh.

"Saya mendengar si ibunya ini mengucap kalimat orok, orok, orok begitu berulang-ulang. Saya otomatis melihat ke sekeliling, saya bergumam dalam hati ada juga plastik hijau yang terbawa arus sungai, sampai kemudian si ibunya ini bilang bahwa bayinya dikepit di kaki," ujar Bustong. Ia mengaku kaget dan langsung spontan meraih ke bawah kaki korban.

"Posisi bayinya di dalam air, dikepit antara kaki. Saya langsung mengangkat bayi itu ke atas, saya keluarkan air. Setelah itu saya juga langsung berusaha mengeluarkan air dari dalam perut si bayi saya kasih nafas buatan," ucap Bustong.

Bustong langsung membawa seluruh korban ke pinggir sungai dibantu warga lainnya, korban kemudian dibawa ke Puskesmas karena kondisinya parah korban kemudian dibawa ke rumah sakit.

"Alhamdulillah pihak rumah sakit memberi pertolongan pertama langsung ditangani alhamdulilah juga pihak perusahaan respons tanggung jawab sepenuhnya tadinya dia (korban) sembuh harus sembuh lagi begitu kan," ungkap Bustong

"Kondisi korban alhamdulillah sudah sehat, malam juga sudah bisa pulang cuma saya tahan dulu jangan dulu pulang takut ada apa apa kalau bisa besok atau lusa," katanya.

Desa di Cianjur Batal Gelar Pilkades

Satu desa di Cianjur terancam batal menggelar Pilkades Serentak Juli 2022. Penyebabnya, karena panitia penyelenggara membubarkan diri dan salah satu bakal calon kades menolak mengikuti tes tulis.

Kabid Penataan Desa dan Kerjasama pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Cianjur Dendy Kristanto mengatakan, desa yang terancam batal menggelar pilkades itu yakni Desa Warnasari di Kecamatan Agrabinta. Pilkades pun terancam tertunda karena beberapa faktor di atas.

"Beberapa hari lalu memang ada permasalahan, di antaranya karena ada dua bacalon kades yang tidak terakomodir karena dianggap tidak lolos verifikasi. Sebenarnya sudah diputuskan solusinya oleh panitia tingkat kabupaten, tapi tidak diindahkan oleh panitia desa. Sampai kemarin dapat informasi jika panitianya membubarkan diri," katanya.

Nasib Pilkades Warnasari pun akan dibahas Pemkab Cianjur. Tapi jika kondisinya sulit untuk diperbaiki, maka pelaksanannya tidak dapat dipaksakan.

"Kalau secara administrasi sudah sesuai para panitia membubarkan diri, kemungkinan di tingkat kabupaten juga akan disetujui. Karena kalau dipaksakan pun khawatir jadi tidak kondusif," ucapnya.

Dendi menyebut jika pelaksanannya akan ditunda hingga 2024. Jabatan kepala desa di sana pun akan diisi pejabat sementara (Pjs) dari kecamatan.

"Ditundanya sekitar 2 tahun, karena Pilkades serentak baru digelar lagi nanti 2024. Selama kekosongan, nanti diisi oleh Pjs. Jadi total yang menggelar Pilkades serentak nanti kemungkinan hanya 76 desa," ujarnya.

Babi Hutan Lukai 4 Warga KBB

Seekor babi hutan berwarna hitam menyeruduk sejumlah warga di Kampung Cipetir, Desa Pasirpogor, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Insiden itu terjadi pada Selasa (14/6/2022) pagi. Babi hutan itu diketahui merangsek ke permukiman kemudian menyerang warga yang sedang berkumpul secara sporadis hingga mengalami luka-luka.

"Korbannya ada 4 orang, 3 anak-anak dan 1 dewasa. Semuanya luka-luka karena diseruduk kena taringnya," ujar Dadan, warga setempat dan saksi mata saat dihubungi, Selasa (13/6/2022).

Dadan mengatakan babi itu berasal dari hutan yang ada di belakang permukiman. Hewan itu diperkirakan kabur dari kejaran para pemburu yang kebetulan sedang berburu menggunakan anjing.

"Jadi ada para pemburu menggunakan anjing, nah informasinya sasarannya itu babi hutan. Mungkin babi itu kabur dari kejaran anjing, tapi malah masuk permukiman kemudian menyerang warga," kata Dadan.

Kepanikan yang ditimbulkan dari serangan babi hutan itu kemudian membuat warga berhamburan. Mereka memburu babi yang telah melukai warga untuk dibunuh.

"Warga khawatir ada korban lagi, akhirnya babi hutannya ditangkap dan dibunuh setelah melukai warga," ucap Dadan.

Akibat serangan babi hutan itu korban yang mengalami luka-luka dilarikan ke rumah sakit. Korban mengalami luka pada bagian tangan dan kaki.

"Mereka sudah dilarikan ke rumah sakit. Ada yang ke RSUD Cililin ada yang ke RS Kharisma Cimareme," tutur Dadan.

Kapolsek Sindangkerta AKP Yogaswara mengatakan baru menerima informasi terkait serangan babi hutan itu. Pihaknya sudah menerjunkan personel ke lokasi kejadian.

"Baru terima informasi, sekarang anggota sedang meluncur ke lokasi kejadian," kata Yogaswara.

15 Warga Cianjur Gabung Khilafatul Muslimin

Kelompok Khilafatul Muslimin terdeteksi ada di Cianjur. Polisi menyebut ada 15 orang warga yang bergabung dalam kelompok Khilafatul Muslimin.

Kapolres Cianjur AKBP Doni Hermawan, mengatakan terungkapnya kelompok Khilafatul Muslimin di wilayahnya berawal dari informasi ada plang di salah satu rumah di Kecamatan Karangtengah. Setelah dilakukan penelusuran, didapati jika rumah tersebut merupakan tempat tinggal ketua kelompok Khilafatul Muslimin Cianjur.

"Begitu dapat informasi ada kelompok Khilafatul Muslimin, kita langsung telusuri. Jadi yang di Desa Sabandar, Kecamatan Karangtengah itu rumah ketua kelompok di Cianjur," kata dia, Selasa (14/6/2022).

Menurutnya ada 15 anggota Khilafatul Muslimin di Cianjur. Para pengurus dan anggotanya tersebar di sejumlah kecamatan di Cianjur.

"Total anggotanya ada 15 orang. Untuk Ketuanya di Sabandar Karangtengah, kemudian untuk Bendaharanya di Ciranjang. Selebihnya tersebar di berbagai kecamatan," tuturnya.

Polisi masih mendalami kaitan pelanggaran hukum dari para anggota kelompok tersebut di Cianjur. "Untuk sementara belum ada yang diamankan, kita masih dalami dan gali informasi lebih dalam," katanya.



Simak Video "Momen Anggota DPRD Garut Ngamuk, Gebrak Meja-Banting Mic saat Rapat"
[Gambas:Video 20detik]
(tey/tya)